Perempuan-Anak Rentan Jadi Korban Intoleransi

Kamis, 06 Desember 2018 - 08:13 WIB
Perempuan-Anak Rentan...
Perempuan-Anak Rentan Jadi Korban Intoleransi
A A A
JAKARTA - Komnas HAM menyatakan perempuan dan anak adalah dua kelompok paling rentan menjadi korban dari tindakan intoleransi, politik kebencian, ekstremisme, dan radikalisme. Bahkan untuk anak, selain menjadi korban, juga sering kali dilibatkan sebagai pelaku.

Koordinator Subkomisi Pemajuan HAM Beka Ulung Hapsara mengungkapkan, ada beberapa faktor penyebab perempuan dan anak rentan sebagai korban di antaranya intoleransi politik, kurangnya kesadaran akan pentingnya pemerintahan yang baik, rasa diasingkan atau alienasi.

“Demikian juga anak, rentan terpapar infiltrasi intoleransi, radikalisme, dan ekstremisme. Bahkan, anak bukan hanya sebagai korban, namun sering kali dilibatkan sebagai pelaku,” ungkap Beka Ulung di Kantor Komnas HAM.

Ketua KPAI Susanto menjelaskan, anak yang terpapar paham radikalisme tetap di posisi sebagai korban. Apabila dia sebagai pelaku, maka harus mengacu ke UU Nomor 11/2012 tentang Sistem Peradilan Anak.

“Untuk memutus mata rantai agar anak tidak melakukan tindakan berulang dan tidak berdampak jangka panjang bagi anak, harus dipastikan bahwa yang bersangkutan direhabilitasi,” ujarnya.

Yunianti Chuzaifah, Anggota Komnas Perempuan mengungkapkan, intoleransi menimbulkan dampak berkepanjangan bagi perempuan. Sebab korban perempuan memiliki kerentanan khusus dibandingkan dengan korban laki-laki. “Meskipun korban laki-laki juga mengalami kesengsaraan dan penderitaan sama, tapi perempuan berhadapan dengan kerentanan khusus akibat peran gender yang dimainkannya, baik dalam perannya sebagai perempuan, istri, ibu, atau sebagai anggota masyarakat,” katanya.

Sementara itu, Direktur Eksekutif Amnesty International Usman Hamid menyebut maraknya intoleransi adalah buah dari politik kebencian. Menurutnya, politik kebencian memiliki dampak serius di masyarakat luas dan sebagai kemunduran penegakan HAM.

“Misalnya ada pawai demonstrasi waktu itu, anak-anak meneriakkan hal tidak manusiawi. Itu memperlihatkan kemunduran serius dalam HAM,” kata Usman. (Binti Mufarida)
(nfl)
Berita Terkait
Elsam Catat 22 Kekerasan...
Elsam Catat 22 Kekerasan terhadap Pembela HAM Lingkungan Selama 2020
Dukung Tambahan Anggaran...
Dukung Tambahan Anggaran Komnas HAM dan Komnas Perempuan, Marinus Gea: Penting untuk Pemenuhan Hak Asasi Manusia
DPR Didesak Ubah UU...
DPR Didesak Ubah UU untuk Jamin Perlindungan terhadap Pembela HAM
Januari-April 2020 Terjadi...
Januari-April 2020 Terjadi 22 Peristiwa Kekerasan Menimpa Pembela HAM
Penilaian Komnas HAM...
Penilaian Komnas HAM Soal Perkembangan Hak Asasi Manusia di Indonesia
Penyelesaian Kasus Pelanggaran...
Penyelesaian Kasus Pelanggaran HAM Berat Dinilai Jalan di Tempat
Berita Terkini
Prabowo Minta Dibentuk...
Prabowo Minta Dibentuk Satgas Akademisi, Begini Reaksi Mendiktisaintek
PTUN Jakarta Kabulkan...
PTUN Jakarta Kabulkan Gugatan Pegawai Kemenham ke Natalius Pigai
Polisi Tetapkan 32 Tersangka...
Polisi Tetapkan 32 Tersangka Kasus Dugaan Haji Ilegal, Kerugian Rp116 Miliar
Inovasi AI Sampah Semarang...
Inovasi AI Sampah Semarang Raih Guangzhou Award 2026
Reaksi Praperadilan...
Reaksi Praperadilan Roy Suryo, Ade Darmawan: Jangan Senang Dulu, Pokok Perkara Tidak Gugur
Pengamat Militer dan...
Pengamat Militer dan Intelijen: Kunjungan PM India ke Indonesia Fokus pada 5 Pilar Utama
Infografis
6 Pulau yang Jadi Target...
6 Pulau yang Jadi Target Invasi Darat AS di Iran
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved