Setara Suarakan Aplikasi Pengawasan Aliran Kepercayaan Dihapus

Kamis, 29 November 2018 - 17:39 WIB
Setara Suarakan Aplikasi...
Setara Suarakan Aplikasi Pengawasan Aliran Kepercayaan Dihapus
A A A
JAKARTA - Setara Institute angkat bicara terkait Aplikasi Pengawasan Aliran Kepercayaan Masyarakat (Pakem) atau Smart Pakem yang diluncurkan Kejaksaan Tinggi (Kejati) DKI Jakarta.

Peneliti Setara, Bonar Tigor menganggap Pakem bukan sekadar penggunaan aplikasi namun kewenangan Kejaksaan yang mengkoordinir badan yang disebutnya Bakorpakem. "Badan koordinasi pengawas aliran kepercayaan masyarakat sudah saatnya dihapus," ujar Tigor saat dihubungi wartawan, Kamis (29/11/2018).

Tigor menegaskan negara wajib melindungi hak setiap warga negara untuk bebas menjalankan keyakinannya. "Negara tidak bisa menentukan dan mengintervensi mana agama atau kepercayaan yang sesat dan menyimpang," kata dia.

Terkait dengan penolakan Komnas HAM, LSM yakni Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia, partai politik seperti Partai Solidaritas Indonesia (PSI) serta sejumlah elemen masyarakat lain yang meminta aplikasi itu dibatalkan dinilai wajar. Bahkan Tigor mengklaim lembaganya sejak awal meminta agar Bakorpakem di kejaksaan dihapuskan.

"Posisi yang sebetulnya juga sama dengan apa yang telah lama disuarakan oleh Setara Institute," jelasnya.

Sementara itu, Direktur Riset Setara Institute, Halili menganggap peluncuran aplikasi Pakem inisiatif yang buruk dari institusi seperti kejaksaan. Menurut dia, ada tiga hal kenapa aplikasi itu harus dibatalkan.

Pertama, aplikasi itu justru memfasilitasi kelompok intoleran untuk mengeksklusi aliran-aliran keagamaan yang ada di masyarakat, khususnya dari kalangan agama lokal dan gerakan keagamaan baru (new religious movement).

Kedua, lanjut Halili, aplikasi tersebut akan semakin menciptakan pembelahan konfliktual di tengah-tengah masyarakat. Ia menilai, aplikasi itu akan menstimulasi pembelahan sosial keagamaan.

"Ketiga, aplikasi tersebut akan semakin memperbesar ruang viktimisasi atas minoritas, baik oleh aparat negara maupun aktor-aktor non negara," papar Halili dihubungi terpisah.
(kri)
Berita Terkait
Kejagung Apresiasi LDII...
Kejagung Apresiasi LDII yang Terus Menerapkan Nilai Kebangsaan
Jejak Buddha Nusantara,...
Jejak Buddha Nusantara, Komitmen MNSBDI untuk Kerukunan dan Budaya
Kemenag Siapkan Regulasi...
Kemenag Siapkan Regulasi Khusus Rumah Doa untuk Perkuat Kerukunan
PKUB Kemenag Inisiasi...
PKUB Kemenag Inisiasi Festival Kerukunan di Desa, Warga: Luar Biasa
Ratusan Orang Muda Lintas...
Ratusan Orang Muda Lintas Agama dan Kepercayaan Rawat Toleransi
Menjaga Kerukunan Umat...
Menjaga Kerukunan Umat Beragama: Menuju Indonesia Emas Tahun 2024
Berita Terkini
Usia Pensiun Personel...
Usia Pensiun Personel Polri Tidak Sama, Ini Penjelasan Pemerintah
Perjuangkan Nasib Dokter...
Perjuangkan Nasib Dokter Muda, PDMI Minta Pemerintah Buka Kembali Akses Ujian Kompetensi
OTT di Muara Enim dan...
OTT di Muara Enim dan Jakarta, KPK Sita Uang Ratusan Juta
Buku Laku Spiritual...
Buku Laku Spiritual Pak Harto, Indonesia, dan Kejawen Diluncurkan, Kupas Cara Soeharto Tunjuk Pembantunya
Isu Dana Dapur MBG Belum...
Isu Dana Dapur MBG Belum Cair, Nanik S Deyang Sebut Hoaks
Penampakan 2 Tersangka...
Penampakan 2 Tersangka Kasus Kuota Haji Kenakan Rompi Oranye KPK
Infografis
5 Rekomendasi Aplikasi...
5 Rekomendasi Aplikasi Desain Grafis yang Cocok untuk Pemula
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved