Mengejar Ketertinggalan, Mewujudkan Pemerataan

Senin, 08 Oktober 2018 - 08:00 WIB
Mengejar Ketertinggalan,...
Mengejar Ketertinggalan, Mewujudkan Pemerataan
A A A
Bambang Soesatyo Ketua DPR RI,

Wakil Ketua Kadin Indonesia

AMBIVALEN, tidak pro­porsional, dan cen­derung me­nye­sat­kan; itulah yang bisa dimaknai dari sikap se­jum­lah kalangan yang me­nya­lah­kan pemerintah karena terus mengakselerasi pem­ba­ngunan infrastruktur. Pun me­nye­dih­kan karena esensi kri­tik-kritik itu bertolak belakang dengan apre­siasi publik yang mulai me­rasakan manfaat dari pem­ba­ngun­an infrastruktur saat ini.

Bagi para praktisi bisnis, akselerasi pembangunan in­fras­truktur saat ini merupakan upa­ya mengejar ketertinggalan Indo­nesia jika dibandingkan dengan banyak negara lain. Se­dangkan bagi masyarakat ke­ba­nyakan, terutama di luar Jawa, pembangunan infrastruktur di Sumatera, Kalimantan, Sula­we­si, hingga Papua serta Nusa Teng­gara Barat dan Timur (NTB-NTT) adalah upaya dan kerja negara mewujudkan pe­me­rataan pembangunan. Keti­ka memulai masa kepresi­de­nannya, Presiden Joko Widodo sudah menegaskan bahwa pe­merintahannya menerapkan pembangunan yang ber­orien­ta­si Indonesiasentris.

Sesuai karakter geografis negara, visi Indonesiasentris tentu saja diawali dengan kerja negara melengkapi pulau-pu­lau lain di luar Jawa dengan ra­gam infrastruktur yang relevan dengan kebutuhan daerah. Je­las bahwa ada tujuan sangat stra­tegis yang ingin dicapai ke­ti­ka pemerintah bersikukuh te­rus membangun infrastruktur seperti jalan, jaringan rel kereta api, pelabuhan, tol laut, bandar udara, meningkatkan rasio elek­trifikasi nasional, hingga realisasi proyek Palapa Ring timur-barat. Semua proyek infrastruktur itu bertujuan meng­hubungkan pelosok-pe­losok daerah yang sebelumnya terisolasi agar bisa terkoneksi dengan daerah lain demi ter­wu­judnya kontinuitas wilayah Negara Kesatuan Republik In­do­­nesia (NKRI) yang terben­tang dari Sabang hingga Me­rau­ke. Inilah nilai tambah paling utama dari akselerasi pem­ba­ngun­an infrastruktur itu. Jadi, bukan asal mem­bangun.

Sudah barang tentu semua infrastruktur itu menjadi fak­tor pendukung aktivitas ma­sya­rakat, mulai dari kegiatan so­sial, budaya, hingga aktivitas eko­nomi, utamanya melan­car­kan lalu lintas barang dan jasa.

Kebutuhan Daerah

Keberanian politik meng­akse­lerasi pembangunan infra­struktur itu sudah ditunjukkan. Dalam dokumen Rencana Pem­bangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2015-2019, pembangunan infrastruktur me­nargetkan tercapainya pe­nu­runan biaya logistik dari 23,5% ke 19%. Target ini coba diwujudkan melalui pe­nye­dia­an 2.650 kilometer jalan, pem­ba­ngunan 3.258 kilometer jalur kereta api, pengembangan 24 pelabuhan, pembangunan 15 bandara baru, serta ketahanan energi melalui penyediaan 35.000 MW listrik, pem­ba­ngun­an kilang minyak baru, dan penyediaan layanan broad­band di seluruh penjuru Tanah Air.

Sebagian proyek infra­struktur dalam RPJMN 2015-2019 itu sudah memasuki tahap realisasi. Ada yang sudah sele­sai, lainnya masih dira­m­pung­kan. Tercatat di Kalimantan ada 24 proyek, di Sulawesi 27 pro­yek, di Maluku dan Papua 13 pro­yek, di Sumatra 61 proyek, dan sejumlah proyek di NTB serta NTT.

Realisasi semua proyek itu pasti menghadapi kendala dan risiko pembiayaan. Salah satu kendala yang paling menonjol adalah pembebasan tanah. Se­dang­kan risiko pembiayaan mulai terlihat belakangan ini, terutama sejak terjadi gejolak nilai tukar valuta, khususnya depresiasi rupiah terhadap do­lar AS. Lalu, apakah program pembangunan infrastruktur yang digagas pemerintah itu harus dipersalahkan hanya karena rupiah mendadak ter­de­presiasi?

Benar bahwa ada dampak dari depresiasi rupiah terhadap pembiayaan proyek-proyek infrastruktur. Karena adanya dampak itulah, pemerintah me­lakukan penyesuaian di sana-sini, termasuk menunda rea­li­sa­si puluhan proyek yang ter­daf­tar dalam Proyek Strategis Nasional (PSN). Tetapi, penye­suaian-penyesuaian yang wajar se­perti itu jangan dijadikan alas­an untuk menilai rencana dan realisasi pembangunan infrastruktur sebagai kebijakan yang ngawur. Kalau gejolak nilai tukar tidak terjadi sekarang, apakah pembangunan infra­struktur juga akan tetap dinilai ngawur?

Hampir lebih dari dua de­kade lamanya sejumlah eko­nom atau pakar, bahkan juga para praktisi bisnis melihat, me­nilai hingga mengeluhkan mi­nim­nya ragam infrastruktur di dalam negeri. Dan, selama itu pula, persoalan infrastruktur hanya diomongkan, didis­ku­si­kan, atau diseminarkan. Kalau sekarang ada yang cenderung menyalahkan inisiatif pem­ba­ngunan infrastruktur, mereka ambivalen.

Sudah menjadi fakta betapa tertinggalnya Indonesia diban­ding banyak negara lain. Banyak potensi daerah tidak bisa di­mak­simalkan nilai tambahnya akibat minimnya infrastruktur. Amati juga ketimpangan in­fra­struktur antara Jawa dengan luar Jawa. Untuk rentang waktu yang sangat lama, jalan bebas hambatan (tol) hanya ada di be­berapa provinsi atau kota di Ja­wa. Kota dan provinsi lain di luar Jawa bahkan tak pernah tahu kapan bisa dilengkapi dengan infrastruktur serupa. Maka, jalur jalan Trans Sumatera, Trans Kalimantan, dan Trans Su­lawesi patut dimaknai s­e­ba­gai upaya negara mewujudkan pemerataan pembangunan infra­struktur.

Inisiatif pemerataan pem­bangunan itu sudah direa­li­sa­si­kan. Karena belum seluruhnya rampung, suarakanlah kritik yang proporsional dan tidak menyesatkan. Proyek-proyek infrastruktur itu sangat dibu­tuh­kan oleh semua daerah se­hingga tak layak untuk diper­sa­lahkan. Bukankah Indonesia sedang mengejar keter­ting­gal­an infrastruktur?
(mhd)
Berita Terkait
Bakal Dilaporkan ke...
Bakal Dilaporkan ke Polisi, Saiful Mujani: Yang Ideal, Opini Dibalas Opini
Pancasila Sakti
Pancasila Sakti
Opini Guru Besar Anti-TWK
Opini Guru Besar Anti-TWK
Menghapus Asimetris...
Menghapus Asimetris Relasi di Hari Buruh
Pertempuran Sungai Nil,...
Pertempuran Sungai Nil, Perebutan Energi Sumber Daya Alam
Akhir Ramadan, Sportifitas...
Akhir Ramadan, Sportifitas dan Optimisme
Berita Terkini
Kantor BGN Digeledah...
Kantor BGN Digeledah Kejagung setelah Dadan Dicopot, Dasco: Kita Serahkan kepada Aparat
Oditur Ungkap Hal Memberatkan...
Oditur Ungkap Hal Memberatkan dan Meringankan 4 Anggota Bais TNI
Kasus Chromebook Dinilai...
Kasus Chromebook Dinilai Janggal, Kuasa Hukum Sebut Nadiem Makarim Dikriminalisasi
Info Dadan dan 2 Eks...
Info Dadan dan 2 Eks Wakil Kepala BGN Diperiksa di Gedung Bundar, Kejagung Siapkan Tim Dokter
Jadi Kepala BGN, Nanik...
Jadi Kepala BGN, Nanik S Deyang: Amanah dan Tanggung Jawab Berat
Pimpinan BGN Dicopot,...
Pimpinan BGN Dicopot, LPI: :Langkah Tepat untuk Selamatkan Program Prioritas Nasional
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved