alexametrics

Tagar, Prasangka dan Melemahnya Fondasi Bangsa

loading...
A+ A-
Nurudin
Kepala Pusat Studi Sosial Politik Universitas Muhammadiyah Malang, Jawa Timur
MENGAPA tanda pagar (tagar)#2019 GantiPresiden dan #Jokowi2Periode riuh dalam perbincangan masyarakat dan tidak ada ujung pangkalnya? Bahkan dua tagar itu telah menimbulkan polarisasi dua kubu masyarakat yang saling bertentangan secara terbuka. Akibatnya, saat ini muncullah pendukung dan penentang presiden secara emosional.
Sementara itu, gerakan tagar mulai menjadi pemicu munculnya gerakan-gerakan sosial dan politik di masyarakat. Kalau mau jujur saja, dua kubu itu tidak jauh berbeda. Fokusnya cuma satu, yakni bermuara pada kekuasaan; antara yang ingin mempertahankan kekuasaan dan merebut kekuasaan. Sejak bangsa ini berdiri, kita sangat disibukkan dengan kekuasaan tersebut.
Itulah mengapa energi masyarakat selalu terkuras jika sudah berurusan dengan kekuasaan. Sementara itu, pelanggaran oleh politisi terus menjadi-jadi. Kasus yang aktual dan menyentak kesadaran kita adalah kasus korupsi yang menimpa 41 legislator dari 45 anggota DPRD Kota Malang.
Tulisan ini secara fokus menganalisis mengapa kita selama ini menuai saling curiga antarĀ­sesama yang buntutnya bisa konflik horizontal? Mengapa pula bangsa ini sebenarnya sudah jauh tertinggal dengan bangsa-bangsa lain yang mungkin memperoleh kemerdekaan lebih belakangan dari Indonesia? Tulisan ini juga bisa dijadikan bahan introspeksi sekaligus prediksi tentang kemajuan bangsa ini di masa datang dengan melihat akar utama persoalannya.

Salah satu yang menyebabkan mengapa bangsa dan negara ini tidak memiliki kecepatan kemajuan adalah munculnya prasangka. Sejak negara ini berdiri, prasangka hidup tumbuh subur di Bumi Pertiwi. Prasangka masyarakat tumbuh tidak saja ditujukan kepada pemerintah, tetapi juga sebaliknya. Prasangka telah meluluhlantakkan fondasi penting bangsa ini yang dicita-citakan para leluhurnya. Ini bukan soal suka dan tidak suka, melainkan kecemasan karena rasa saling curiga berlebihan antarkita.

Secara akar kata, prasangka berarti pendapat atau anggapan yang kurang baik mengenai sesuatu hal sebelum mengetahui atau membuktikan sendiri kebenarannya. Jika kita bingung mengetahui bagaimana prasangka itu bekerja, lihatlah di media sosial kita akhir-akhir ini. Semua yang ditulis sering hanya prasangka atas suka dan tidak suka pada individu atau kelompok tertentu. Kalau prasangka tumbuh subur di dalam diri kita, bagaimana bangsa ini akan bisa membangun dengan baik?



Mencari PenyebabMengapa prasangka bisa tumbuh subur? Salah satu penyebab pentingnya saat ini adalah munculnya masyarakat berbudaya komentar. Saat ini, diakui atau tidak, masyarakat kita lebih senang berkomentar atau mengomentari berbagai kejadian di sekitarnya. Memang sejak dahulu budaya komentar sudah ada, hanya saat ini kepadatan lalu lintas pesannya semakin tinggi.Salah satu penyebabnya adalah teknologi internet dengan media sosialnya ada di dalamnya. Setiap orang bisa berkomentar apa pun dan di mana pun atau kepada siapa pun. Media sosial telah memberikan ruang bagi masyarakat untuk memupuk budaya komentar. Dengan kata lain, masyarakat bebas berkomentar tanpa sensor.

Sebenarnya, budaya komentar ini tidak begitu krusial karena bisa menjadi indikator tingkat kebebasan berpendapat di masyarakat yang sudah lebih baik. Bebasnya berkomentar, juga menjadi ciri kemajuan iklim demokratisasi warga negara.
Masalahnya, budaya komentar ini menjadi problem besar bagi bangsa ini jika sudah berkaitan atau sengaja dikaitkan dengan kepentingan politik. Akhirnya, setiap komentar selalu berurusan dengan politik. Karena politik itu berhubungan dengan kekuasaan untuk merebut atau mempertahankan kekuasaan, orientasi komentar tak lepas dari tujuan tersebut. Jadilah budaya komentar itu menjadi kompetisi saling menyerang antaranak bangsa.

Perbedaan pendapat yang menjadi kekayaan bangsa ini di masa lalu luluh lantak menjadi pertikaian yang mengarah pada chaos. Akhirnya, budaya komentar memproduksi pesan suka atau tidak suka. Jika ini sudah terjadi, prasangka antarsesama kita akan semakin menggejala. Yang ada kemudian adalah suasana saling curiga satu sama lain.

Masyarakat curiga pada pemerintah, sementara pemerintah juga ikut-ikutan curiga pada masyarakat. Masyarakat curiga bahwa pemerintah hanya mementingkan dirinya sendiri, meskipun menjalankan roda pemerintahan juga tidak semudah sebagaimana dituduhkan dalam komentar mereka.

Di sisi lain, segala sesuatu yang berkaitan dengan kritik masyarakat dianggap merongrong kewibawaan pemerintah. Kritik yang sebenarnya ditujukan untuk membangun sistem kemudian dianggap kritik pada sebuah sosok. Jadilah antara pemerintah dan masyarakat saling berprasangka.

Selama ini kita telah sengaja lupa atau melupakan warisan luhur bangsa sejak zaman perjuangan. Bangsa ini dibangun dengan semangat multikultural yang memang memberikan tempat bagi perbedaan banyak hal. Fondasi bangsa ini dibangun atas puing-puing pengorbanan nyawa dan harta mereka yang ingin merdeka di wilayah masing-masing untuk kepentingan bangsa dan negara yang lebih besar.

Perjuangan Pangeran Diponegoro, Sultan Hasanuddin, Thomas Matulessi, Tuanku Imam Bonjol, dan lain-lain itu memang perjuangan di daerah untuk mengusir penjajah, tetapi dalam lingkup besar untuk kepentingan negara juga. Siapa yang menyangkal bahwa perjuangan mereka bukan untuk kemerdekaan negara ini? Perjuangan mereka tentu didasarkan pada semangat multikultur yang sangat kental.

Warisan-warisan itulah yang kemudian harus terus dipupuk dan dipelihara oleh generasi selanjutnya untuk dijadikan pedoman dalam membangun bangsa ini. Sendi-sendi inilah yang sudah semakin terkikis. Kita telah kehilangan kesempatan beberapa tahun dan terus-menerus hanya berurusan dengan pertikaian.

Pesan Penting
Saat ini pertikaian dimulai dari budaya komentar untuk meraih dukungan politik. Sebenarnya para elite politiknya sendiri tenang-tenang saja, yang justru ribut adalah para pendukungnya. Pendukungnya yang tidak tahu-menahu keadaan sebenarnya merasa lebih tahu. Sementara itu, para elite politik kadang membiarkan saja karena menikmati keuntungan. Perkara di masyarakat terjadi chaos seolah tidak peduli.

Elite-elite politik merasa perlu turun tangan seandainya dirinya merasa dirugikan. Anehnya, para elite politik itu merasa rugi dan protes meskipun kritik yang dilakukan masyarakat sudah sesuai dengan aturan hukum dan moralitas politik. Kasus usulan Komisi Pemilihan Umum agar para koruptor dilarang menjadi bakal calon angĀ­gota legislatif yang kemudian ditolak pemerintah dan DPR, menjadi contoh aktual yang sangat menarik. Sampai sekarang tetap menjadi perdebatan sengit.

Mengapa kita perlu menyorot kehidupan politik kita saat ini? Masalahnya, kehidupan politik yang sedang berlangsung sebenarnya mencerminkan nilai-nilai moralitas warga negaranya. Jika moralitas dan kedewasaan berpolitiknya baik, kehidupan politik kita akan baik begitu juga sebaliknya. Masalahnya, kehidupan politik kita selama ini lebih merefleksikan nilai-nilai buruk, dan bukan mengaktualisasikan nilai luhur yang selama ini menjadi warisan adiluhung bangsa. Penyataan ini perlu dikemukakan agar kita tidak perlu saling menyalahkan. Saling menyalahkan tidak akan pernah menyelesaikan masalah.

Kalau tidak, setiap warga berlomba mengkhianati negerinya atau temannya; kepercayaan mutual lenyap karena sumpah dan keimanan disalahgunakan. Hukum atau institusi lumpuh tidak mampu meredam perluasan korupsi, yang muda malas, yang tua gatal. Ketamakan dan hasrat meraih kehormatan rendah merajalela. Kebaikan dimusuhi, kejahatan diagungkan. Kebaikan dan keburukan diputarbalikkan di bursa politik (Latif, 2017).

Semua persoalan di atas sumbernya adalah prasangka politik yang berlebihan dalam dinamika politik nasional. Prasangka yang tumbuh subur akan mengarahkan bangsa ini selalu jalan di tempat, sementara bangsa lain sudah melesat jauh ke depan. Berbeda aspirasi boleh, tetapi berprasangka berlebihan tentu jangan.
(wib)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top