Ternyata Ini Sejumlah Alasan Politisi Main Dua Kaki
Senin, 10 September 2018 - 16:26 WIB
Ternyata Ini Sejumlah Alasan Politisi Main Dua Kaki
A
A
A
JAKARTA - Pakar Komunikasi Politik dari Universitas Pelita Harapan (UPH) Emrus Sihombing menilai, wajar bila para politisi bermain dua kaki. Secara hipotesis dari konsep politik para aktor politik memungkinkan bermain di dua kaki.
"Sama dengan analogis pepohonan, kalau misalnya matahari dari sebelah kiri ujung pohon akan kekiri, kalau matahari berbelok ke kanan maka marahari akan ke kanan. Karena di situ ada energi, hampir sama dengan politik, bedanya kalau di politik ada kepentingan," kata Emrus saat dihubungi SINDOnews.com, Senin (10/9/2018).
Bicara secara konseptual, kata Emrus bahwa para politisi, siapapun yang pindah dukungan berarti ada masalah. Pertama di partai lamanya atau di tempat perjuangan politiknya itu ada faksi-faksi di dalam yang tidak klop.
"Artinya kepentingan politik orang yang pindah dukungan tidak terwujud. Dia melihat bahwa kepentingan politiknya terwujud di tempat barunya. Oleh karenanya di tempat lama ada hal yang perlu disoroti, secara umum di tempat lamanya partai yang bersangkutan tidak mampu mengelola perbedaan di internal partai," jelas Emrus.
Sebab partai yang modern, lanjut Emrus, partai yang bisa mengelola perbedaan itu, karena memang politik itu penuh dengan dinamika, penuh dengan sub kepentingan suatu partai. "Seni mengelola perbedaan itulah bukti daripada kedewasaan suatu partai," ucapnya.
Selain itu yang kedua dari sudut individu, individu yang berpindah dukungan dinilai tidak memiliki loyalitas. "Dia tidak mempunyai garis politik yang utuh sehingga begitu ada tawaran dari luar, ini saya sebut aktor politik pragmatis," ujarnya.
Baru kemudian di tempat perjuangan barunya menerima sosok tersebut, bisa juga ada kepentingan pragmatis juga. "Bagaimanapun sosok seorang tokoh politik apalagi dia gubernur misalnya pasti punya pengikut. Nah di tempat perjuangan barunya diperlukan dalam konteks kandidasi yang akan datang," jelas Emrus.
"Politik sangat cair, sangat mudah berubah, politik di Indonesia sangat membuktikan konsep tidak ada musuh sejati tidak ada teman sejati yang ada adalah kepentingan," tuturnya.
"Sama dengan analogis pepohonan, kalau misalnya matahari dari sebelah kiri ujung pohon akan kekiri, kalau matahari berbelok ke kanan maka marahari akan ke kanan. Karena di situ ada energi, hampir sama dengan politik, bedanya kalau di politik ada kepentingan," kata Emrus saat dihubungi SINDOnews.com, Senin (10/9/2018).
Bicara secara konseptual, kata Emrus bahwa para politisi, siapapun yang pindah dukungan berarti ada masalah. Pertama di partai lamanya atau di tempat perjuangan politiknya itu ada faksi-faksi di dalam yang tidak klop.
"Artinya kepentingan politik orang yang pindah dukungan tidak terwujud. Dia melihat bahwa kepentingan politiknya terwujud di tempat barunya. Oleh karenanya di tempat lama ada hal yang perlu disoroti, secara umum di tempat lamanya partai yang bersangkutan tidak mampu mengelola perbedaan di internal partai," jelas Emrus.
Sebab partai yang modern, lanjut Emrus, partai yang bisa mengelola perbedaan itu, karena memang politik itu penuh dengan dinamika, penuh dengan sub kepentingan suatu partai. "Seni mengelola perbedaan itulah bukti daripada kedewasaan suatu partai," ucapnya.
Selain itu yang kedua dari sudut individu, individu yang berpindah dukungan dinilai tidak memiliki loyalitas. "Dia tidak mempunyai garis politik yang utuh sehingga begitu ada tawaran dari luar, ini saya sebut aktor politik pragmatis," ujarnya.
Baru kemudian di tempat perjuangan barunya menerima sosok tersebut, bisa juga ada kepentingan pragmatis juga. "Bagaimanapun sosok seorang tokoh politik apalagi dia gubernur misalnya pasti punya pengikut. Nah di tempat perjuangan barunya diperlukan dalam konteks kandidasi yang akan datang," jelas Emrus.
"Politik sangat cair, sangat mudah berubah, politik di Indonesia sangat membuktikan konsep tidak ada musuh sejati tidak ada teman sejati yang ada adalah kepentingan," tuturnya.
(maf)