Persiapan sebelum Menikah Cegah Risiko Lahirkan Bayi Stunting

Sabtu, 25 Agustus 2018 - 09:37 WIB
Persiapan sebelum Menikah...
Persiapan sebelum Menikah Cegah Risiko Lahirkan Bayi Stunting
A A A
YOGYAKARTA - Masalah gizi kronis akibat kekurangan asupan gizi dalam waktu lama atau stunting terjadi sejak bayi dalam kandungan hingga anak usia dua tahun.

Diketahui, sekitar 8,8 juta anak Indonesia menderita stunting. Pada 2012, Pemerintah Indonesia merancang dua kerangka besar penanganan stunting, yaitu intervensi gizi spesifik dan intervensi gizi sensitif.

Intervensi gizi spesifik ini merupakan intervensi yang ditujukan kepada anak dalam 1.000 hari pertama kehidupan (HPK) dan berkontribusi sekitar 30% penurunan stunting.Kegiatan intervensi gizi spesifik umumnya dilakukan oleh sektor kesehatan dengan sasaran intervensi dimulai dari masa kehamilan ibu hingga melahirkan balita.
Dewan Pembina Perhimpunan Dokter Gizi Medik Indonesia (PDGMI) Fasli Jalal menjelaskan, 1.000 hari pertama kehidupan merupakan periode tumbuh kembang anak.Oleh karena itu, lanjut Fasli, perlu ada persiapan sebelum kehamilan. "Di Indonesia dan di banyak negara, persiapan calon pengantin sangat penting. Misalnya meastikan tidak menderita anemia, tidak kurang gizi. Kemudian begitu hamil, semua komponen yang memastikan tumbuh kembang janin pada waktu hamil itu diberikan," kata Fasli saat acara Temu Regional Pembangunan Keluarga yang digelar Badan Koordinasi Keluarga Bencana Nasional (BKKBN), di Daerah Istimewa Yogyakarta, Jumat 24 Agustus 2018.
Menurut dia, penting untuk mengetahui ciri-ciri stunting. Salah satunya, panjang tubuh bayi. Jangan sampai anak lahir di bawah panjang 48 cm dan beratnya di bawah 2,5 kilogram.

Dia mengatakan, anak-anak yang terkena stunting masih memiliki harapan untuk kembali normal. Untuk itu perlu dilakukan deteksi dan diintervensi sedini mungkin.

"Tuhan Maha Adil ketika sel otaknya (anak stunting-red) yang tersisa itu kita manfaatkan karena itu pengasuhannya harus baik supaya otak yang ada bisa bekerja dan pendidikannya harus diberikan sedini mungkin. Karena itu, dia harus mengikuti PAUD, harus ada simulasi. walaupun fisiknya tidak bisa normal tapi otaknya masih bisa sama dengan anak lain bahkan bisa lebih pintar," tutur Fasli.

Dia berharap pada masa mendatang tidak ada anak Indonesia yang mengalami stunting. Tidak hanya itu, dia juga berharap angka risiko kematian anak menurun.
(dam)
Berita Terkait
BKKBN Kembali Raih Penghargaan...
BKKBN Kembali Raih Penghargaan Tertinggi Dunia Bidang Kependudukan Setelah 33 Tahun
Kemendukbangga/BKKBN...
Kemendukbangga/BKKBN Dorong Kesadaran Anti-Bullying Lewat Gen Z
Hasto Wardoyo Dorong...
Hasto Wardoyo Dorong BKKBN Sulsel Maksimalkan Penggunaan Anggaran
Pandemi COVID-19 Mengancam...
Pandemi COVID-19 Mengancam Bonus Demografi
BKKBN Terus Edukasi...
BKKBN Terus Edukasi Masyarakat Cetak Usia Produktif Berkualitas
Review Program Bangga...
Review Program Bangga Kencana, Ini Disampaikan BKKBN Sulsel
Berita Terkini
Sari Yuliati Minta Kasus...
Sari Yuliati Minta Kasus Pembakaran Santri di Lombok Diusut Tuntas
Prabowo Bertolak ke...
Prabowo Bertolak ke Lampung, Resmikan RSUD dan Buka Munas HIPMI
Masa Penahanan Gus Yaqut...
Masa Penahanan Gus Yaqut Diperpanjang selama 30 Hari
Prabowo Minta Menkes...
Prabowo Minta Menkes Perluas CKG-Perkuat Penanggulangan TBC
Konflik PPP Banten Dinilai...
Konflik PPP Banten Dinilai Lebih dari Sekadar Pergantian Ketua
4 Oknum Prajurit TNI...
4 Oknum Prajurit TNI Terdakwa Penyiraman Air Keras ke Andrie Yunus Hari Ini Divonis
Infografis
Besaran Gaji dan Tunjangan...
Besaran Gaji dan Tunjangan Hakim Sebelum Dinaikkan Prabowo
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved