Personalisasi Partai Politik

Kamis, 09 Agustus 2018 - 08:15 WIB
Personalisasi Partai...
Personalisasi Partai Politik
A A A
Jamaludin Ghafur
Dosen Hukum Tata Negara dan Peneliti pada Pusat Studi Hukum dan Konstitusi FH UII, Kandidat Doktor FH UI Jakarta
SALAH satu fe­no­me­na yang terjadi da­lam pembentukan koa­­lisi Pilpres 2019 ada­lah begitu kuat dan do­­m­i­nan­nya peran ketua umum (ke­tum) parpol. Ba­h­kan dapat di­ka­takan, ketum ada­lah penen­tu segala-ga­la­nya dalam par­pol ter­masuk ke­m­ana arah koalisi akan di­ba­ngun.Figur pe­mim­p­in par­tai se­ringkali mengidentik­kan atau bahkan menya­ma­kan di­ri­nya dengan partai itu sen­diri se­­hingga menihilkan pe­ran ang­­go­tanya. Telah terjadi per­so­­na­li­sa­si dalam tubuh par­pol yang se­ha­rusnya tidak boleh ter­­jadi di ma­na seseorang dan sekelom­pok orang yang me­ngua­­sai or­ga­ni­sasi parpol meng­­­anggap par­tai politik se­ba­­gai miliknya se­hing­ga tim­bul pe­mikiran tidak adanya pe­mi­­sah­an antara urus­an pri­ba­di (pe­r­sonal) dengan organi­sa­si. Ma­ka tidak heran jika pe­nen­tu uta­ma arah koalisi (s­a­lah sa­tu­nya) sangat di­ten­tu­kan oleh se­be­rapa besar ke­utung­an yang akan didapat oleh sang ke­tua umum.Padahal, UU Nomor 2 Tahun 2011 tentang Parpol men­de­fi­ni­­si­kan partai politik sebagai or­ganisasi yang bersifat nasional ­dan dibentuk oleh sekelompok war­ga negara Indonesia secara sukarela atas dasar kesamaan ke­hendak dan cita-cita untuk memperjuangkan dan mem­be­la kepentingan politik anggota, masyarakat, bangsa dan neg­a­ra, serta memelihara keutuhan NKRI berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Ne­ga­ra Republik Indonesia Tahun 1945. Berdasarkan pengertian ter­sebut, parpol semestinya d­i­po­si­sikan sebagai organisasi mi­lik bersama seluruh ang­go­ta­nya. Dengan demikian, kepu­tus­an-keputusan penting tidak bo­leh dihegemoni dan di­mo­no­po­li seorang ketum tetapi harus di­bicarakan dan diputuskan ber­sama-sama seluruh ang­go­ta­nya sesuai dengan nilai-nilai per­juangan yang ada dalam par­pol tersebut.Koalisi yang Tak Ideologis Model koalisi yang ber­kem­bang dalam sepuluh tahun ter­akhir menunjukkan perilaku pa­r­­tai dalam meracik menu koa­­lisi dipengaruhi oleh dua ka­­rak­ter (AA GN Ari Dwi­pa­ya­na: 2011). Pertama, upaya mem­­bu­ru jabatan (office see­­k­ing), di­ma­na perilaku partai da­lam mem­ba­ngun koalisi le­bih didasarkan pa­da kehendak un­tuk mem­per­be­sar peluang d­a­lam mem­per­oleh posisi di kabinet pe­me­rin­tah­an yang akan terbentuk. Ke­dua, modus pen­cari suara (vote seek­­ing), di ma­na elite partai po­­litik da­lam membentuk koa­lisi le­bih di­dasarkan pada ­upa­ya me­me­nangkan pemilihan.Mo­­dus untuk menang itulah yang mem­buat partai mem­bu­­­ka diri pa­da siapa saja yang ingin ma­suk (catch all), asal ke­me­nangan dalam pil­pres bi­sa di­raih. Dalam lo­gika catch all ini ti­dak ada alasan ba­gi par­tai un­tuk menolak se­ku­tu yang ingin ber­gabung untuk me­­ngalahkan kom­­pe­ti­tor.D­a­lam konteks se­macam ini, ja­rak ideologi bukan ­se­suatu yang penting. Yang pa­ling pen­ting adalah me­me­nang­kan per­­­ta­rungan. Itulah se­bab­nya, da­­­lam logika vote seeking akan mun­­cul paradoks dalam pro­ses pembentukan koalisi, di ma­­na partai-partai yang memi­­liki jarak ideologis yang le­bar bisa bertemu.Akibatnya, penentuan arah koa­lisi menjadi sangat prag­­­ma­tis semata-mata ha­nya di­da­sar­kan pada per­tim­­bangan untuk mendapat­kan ke­kuasaan dan sa­ma sekali ti­dak mempertimbangkan as­pek ideo­lo­gi partai yang se­mestinya men­jadi hal yang sangat fun­­d­amendal. Tan­­pa di­pan­­d­u oleh nilai-nilai ideologis, parpol pasti akan ke­hi­lang­an arah dalam menerjemahkan nilai-nilai per­­juangan­n­y­a.Bila ini yang ter­jadi, tentu ke­pen­ting­an ma­sya­rakat luas yang akan men­ja­di taruhannya. Selain itu, pengalaman te­lah me­nunjukkan bahwa ikat­an koa­­lisi yang semata-semata di­­­da­sari pada kepentingan yang sa­ngat pragmatis dan bu­kan atas dasar kesamaan visi dan mi­si telah me­nye­babkan ti­­dak so­l­idnya mitra koa­lisi de­­­ngan par­tai pen­du­kung p­e­me­­rin­tah.Se­hingga ti­dak he­ran ji­ka di tengah ja­lan banyak ­s­­e­ka­li “manuver-m­anuver po­li­tik” yang di­la­ku­kan oleh mi­tra koa­li­­si yang meng­arah pa­da men­ci­p­ta­kan ke­tidak­sta­bil­an j­a­lan­nya pe­me­rintahan yang ten­tu hal ini sa­ngat ko­n­tra­­pro­duk­tif de­ngan ­se­ma­­ngat awal dibentuk­­­nya koa­lisi ya­­itu men­cip­takan st­­­­abilitas pemerintahan.
Demokratisasi Internal Parpol
Personalisasi parpol oleh ke­­tua umumnya telah me­nye­bab­­kan kekuasaan ketum par­pol be­gitu absolut. Padahal Lord Acton sudah meng­ingat­kan ki­ta semua bahwa; “power tends to corrupt, absolute power corrupt ab­solutely”, kekuasaan me­mi­liki ­kecenderungan untuk di­sa­lah­gunakan, dan ke­kua­sa­an yang absolut pasti akan disa­lah­gu­nakan.Salah sa­tu munculnya ab­solutisme ke­kuasaan ketum di­sebabkan oleh minimnya ke­te­r­libatan pa­ra anggota parpol da­lam pengambilan keputusan yang ber­sifat penting dan stra­te­gis. Dengan demikian, lang­kah an­ti­si­pasinya adalah men­do­rong par­pol untuk me­la­ku­kan de­mo­kratisasi internal (in­tra-par­ty democracy) dengan me­li­b­­a­tkan seluas-luasnya pe­ran se­r­ta anggotanya agar da­lam se­tiap pengambilan ke­pu­tus­an dilakukan secara terbuka, par­­tisipatif, dan deliberatif.Keharusan untuk meng­ikut­­sertakan seluruh anggota par­­pol dalam pengambilan keputusan-keputusan yang ber­­s­i­fat strategis dan penting ka­­rena UU Parpol meletakkan ke­­daulatan parpol ada di tangan se­l­uruh anggota. Pasal 15 ayat (1) dan (2) UU Parpol menya­­ta­kan: (1) Kedaulatan Pa­r­tai Po­li­tik berada di tangan anggota yang dilaksanakan me­nu­rut AD dan ART. (2) Ang­g­ota Partai Po­li­tik mempunyai hak dalam me­nen­tukan ke­bi­jakan serta hak me­milih dan dipilih.
Demokratisasi parpol ada­­­lah cara untuk memberi ke­­­s­em­pat­an kepada para ang­­gota par­tai me­nya­m­pai­­kan aspirasinya dan memas­­tikan parpol akan men­­de­ngar dan meng­ako­mo­­da­­si aspirasi tersebut. Hal ini ber­­tujuan untuk men­­do­rong ter­j­adinya r­e­for­­ma­­si di dalam ins­titusi pa­r­­tai ke arah yang le­bih ­de­­mok­ratis secara lebih luas.Ba­g­aimanapun, da­lam sis­tem politik de­mo­kra­si, par­pol ada­lah sara­na dan ak­tor utama ke­kua­saan po­litik. Semua ke­­giat­an po­litik, mulai dari men­­c­a­ri ke­kuasaan sampai pa­da peng­gu­naan kekuasaan, me­li­bat­kan par­pol sebagai ak­tor. Ka­rena itu par­pol secara in­t­e­r­nal harus de­mokratis sebab pr­­o­ses politik da­l­am memben­tuk dan me­nye­leng­garakan pe­m­­e­rin­tahan akan dapat demo­kra­­tis hanya apa­bila parpol se­ba­gai ak­tor se­cara internal dike­lola se­ca­ra demokratis.
(whb)
Berita Terkait
Bakal Dilaporkan ke...
Bakal Dilaporkan ke Polisi, Saiful Mujani: Yang Ideal, Opini Dibalas Opini
Pancasila Sakti
Pancasila Sakti
Opini Guru Besar Anti-TWK
Opini Guru Besar Anti-TWK
Kaum Disabilitas Vs...
Kaum Disabilitas Vs Kaum OJOL
Larangan Mudik untuk...
Larangan Mudik untuk Keselamatan Publik
Korona Hadiah Terbesar...
Korona Hadiah Terbesar di Hari Kesehatan Dunia
Berita Terkini
Tutup P3N 27, Gubernur...
Tutup P3N 27, Gubernur Lemhannas Tegaskan Pemimpin Nasional Harus Berintegritas, Adaptif, dan Visioner
Jejak Uang Rp366,7 Miliar...
Jejak Uang Rp366,7 Miliar ke Pegawai Imipas Bongkar Dugaan Pemerasan oleh Silmy Karim
Kejagung Tak Sita Motor...
Kejagung Tak Sita Motor Listrik Kasus Dugaan Korupsi di Badan Gizi Nasional, Ini Alasannya
Dadan Hindayana Cs Korupsi...
Dadan Hindayana Cs Korupsi Tata Kelola MBG, Noel: Memprihatinkan
Pemerintah Serahkan...
Pemerintah Serahkan 112 DIM RUU Polri ke Komisi III DPR
Dharma Pongrekun Minta...
Dharma Pongrekun Minta MK Kaji Ulang UU Kesehatan Demi Jaga Kedaulatan Bangsa
Infografis
Judi Politik Elon Musk:...
Judi Politik Elon Musk: Tesla Bakar Uang Rp1.100 Triliun Usai Umumkan Partai Baru
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved