Ketua Dewan Pakar Golkar: Jabatan Wapres Cukup Dua Periode

Senin, 04 Juni 2018 - 09:45 WIB
Ketua Dewan Pakar Golkar:...
Ketua Dewan Pakar Golkar: Jabatan Wapres Cukup Dua Periode
A A A
JAKARTA - Partai Golkar tak ingin Jusuf Kalla (JK) kembali maju sebagai calon wakil presiden (Cawapres) pendamping Presiden Joko Widodo (Jokowi) di Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden (Pilpres) 2019. Pasalnya, Partai Golkar ingin konsisten dengan sejarah panjang, yakni presiden maupun wakil presiden (Wapres) hanya dua periode.

Adapun jauh sebelum Reformasi 1998, dokumen internal partai mencatat pada 1983 mereka sudah merancang wacana yang berjudul Gagasan Presiden Dua Periode. Kemudian gagasan tersebut ditambahi dengan keterbukaan dan demokratisasi di bidang politik dan ekonomi.

“Hingga kemudian, puncaknya, pasca Reformasi 1998 dilakukan amandemen UUD 1945 Pasal 7 oleh MPR 1997-1999 tentang pembatasan periodesasi jabatan Presiden dan Wakil Presiden,” ujar Ketua Dewan Pakar Partai Golkar Agung Laksono di Jakarta, Senin, (4/6/2018).

Sementara wacana pencalonan kembali JK muncul beberapa waktu lalu. Akan tetapi, JK terhalang Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2017 tentang Pemilu Pasal 169 huruf (n) tentang Persyaratan Calon Presiden dan Calon Wakil Presiden.

Pasal tersebut menyebutkan bahwa perhitungan dua periode bisa berturut-turut maupun tidak berturut-turut. Sehingga, JK dengan aturan itu tak bisa mencalonkan kembali.

Namun, ada pihak yang mengajukan permohonan uji materi Undang-Undang Nomor 7 tersebut ke Mahkamah Konstitusi (MK) demi mendukung JK kembali mendampingi Jokowi. “Jika MK menolak uji materi tersebut, maka secara juridis formil ketentuan tersebut berlaku dan mengikat,” kata Agung.

Hal senada dikatakan oleh Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartarto. Dia mengatakan bahwa jabatan presiden dan wakil presiden dua periode adalah amanat konstitusi dan sejarah perjalanan bangsa Indonesia.

Sebab, salah satu poin penting Reformasi 1998 adalah membatasi jabatan presiden dan wakil presiden hanya dua periode. Apalagi, pembatasan jabatan tersebut tidak serta merta datang, melainkan melalui kajian yang mendalam di level partai.

Termasuk di Partai Golkar yang sudah membahas wacana tersebut sejak 35 tahun lalu atau tepat 15 tahun sebelum Reformasi. “Partai Golkar ingin konsisten dengan sejarah panjang partai ini,” imbuhnya.
(kri)
Berita Terkait
Pilpres 2024, Golkar...
Pilpres 2024, Golkar Mulai Kaji Pasangan Airlangga Hartarto
Wasekjen Sebut Golkar...
Wasekjen Sebut Golkar Solid, Fokus Hadapi Pemilu dan Pilpres 2024
6 Provinsi Lumbung Suara...
6 Provinsi Lumbung Suara Partai Golkar di Pemilu 2019
Panaskan Mesin Partai...
Panaskan Mesin Partai untuk Pilpres 2024, Bapilu Golkar Gelar Konsolidasi
Partai Golkar Klaim...
Partai Golkar Klaim Belum Persiapan Pilpres 2024
Soal Koalisi Partai...
Soal Koalisi Partai Islam, Zulkifli Hasan Ungkap Luka Pilpres 2019
Berita Terkini
Fiscal Dominance dan...
'Fiscal Dominance' dan Depresiasi Rupiah
Amanat Lengkap Presiden...
Amanat Lengkap Presiden Prabowo di Upacara Prasetya Perwira TNI-Polri Tahun 2026
Jenderal Agus Subiyanto...
Jenderal Agus Subiyanto Pastikan TNI Siap Dukung Swasembada Beras
PN Jakarta Selatan Tunda...
PN Jakarta Selatan Tunda Sidang Praperadilan Roy Suryo Jilid 3 Pekan Depan
Sidang Praperadilan...
Sidang Praperadilan Jilid 3 Roy Suryo Digelar di PN Jakarta Selatan Hari Ini
TNI-Polri Harus Profesional,...
TNI-Polri Harus Profesional, Prabowo: Jangan Ada Loyalitas Korps yang Sempit
Infografis
Ketua Umum PP Muhammadiyah...
Ketua Umum PP Muhammadiyah Minta PPN 12% Dikaji Ulang
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved