Parpol Tak Cukup Percaya Diri Bentuk Poros Ketiga di Pilpres 2019
Senin, 12 Maret 2018 - 10:38 WIB
Parpol Tak Cukup Percaya Diri Bentuk Poros Ketiga di Pilpres 2019
A
A
A
JAKARTA - Peluang terbentuknya poros ketiga di pemilu presiden (Pilpres) 2019 terbuka lebar. Apalagi, setelah Partai Demokrat bersama Partai Amanat Nasional (PAN) dan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) melakukan pertemuan di sebuah mal kawasan Jakarta Selatan belum lama ini.
Pengamat Politik dari Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta, Ahmad Bakir Ihsan mengatakan berdasarkan ambang batas pencapresan terbentuknya poros ketiga masih terbuka lebar. Akan tetapi, dia meragukan apakah parpol siap untuk itu.
"Sampai saat ini capres yang beredar masih dua kubu seperti pada 2014. Partai lain lebih sibuk cari posisi cawapres. Ini menunjukkan ketidaksiapan partai untuk fight memunculkan kadernya untuk posisi terbaik. Mereka seperti kalah sebelum bertanding," ujarnya ketika dihubungi SINDOnews, Senin (12/3/2018).
Ketika disinggung apakah penyebab munculnya poros ketiga karena semata tidak terakomodir menjadi cawapres Joko Widodo (Jokowi)? Bakir menjawab, yang pasti masing-masing parpol menghasrati kekuasaan.
"Poros tengah pernah berhasil mengantarkan Gus Dur sebagai presiden di saat tarik-menarik dua kubu Golkar dan PDIP saat itu. Tentu dengan sistem pemilihan yang berbeda dengan sekarang," jelasnya.
Menurutnya menjadi lucu ketika parpol mematok target maksimal di pemilu legislatif (Pileg) 2019 di sisi lain menurunkan target di Pilpres 2019. "Beda tipis antara sadar diri dengan tak percaya diri. Paradoks, parpol menargetkan perolehan suara maksimal, tapi dalam hal kontestasi kepemimpinan target cawapres," ucap Bakir
Dia melihat, Pilpres 2019 masih menjadi pertarungan antara Jokowi melawan Prabowo Subianto menggulang Pilpres 2014. Yang bergeser hanya dukungan politik parpol saja. "Misalnya Golkar yang 2014 ada di kubu Prabowo, 2019 ke Jokowi," ucapnya.
Pengamat Politik dari Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta, Ahmad Bakir Ihsan mengatakan berdasarkan ambang batas pencapresan terbentuknya poros ketiga masih terbuka lebar. Akan tetapi, dia meragukan apakah parpol siap untuk itu.
"Sampai saat ini capres yang beredar masih dua kubu seperti pada 2014. Partai lain lebih sibuk cari posisi cawapres. Ini menunjukkan ketidaksiapan partai untuk fight memunculkan kadernya untuk posisi terbaik. Mereka seperti kalah sebelum bertanding," ujarnya ketika dihubungi SINDOnews, Senin (12/3/2018).
Ketika disinggung apakah penyebab munculnya poros ketiga karena semata tidak terakomodir menjadi cawapres Joko Widodo (Jokowi)? Bakir menjawab, yang pasti masing-masing parpol menghasrati kekuasaan.
"Poros tengah pernah berhasil mengantarkan Gus Dur sebagai presiden di saat tarik-menarik dua kubu Golkar dan PDIP saat itu. Tentu dengan sistem pemilihan yang berbeda dengan sekarang," jelasnya.
Menurutnya menjadi lucu ketika parpol mematok target maksimal di pemilu legislatif (Pileg) 2019 di sisi lain menurunkan target di Pilpres 2019. "Beda tipis antara sadar diri dengan tak percaya diri. Paradoks, parpol menargetkan perolehan suara maksimal, tapi dalam hal kontestasi kepemimpinan target cawapres," ucap Bakir
Dia melihat, Pilpres 2019 masih menjadi pertarungan antara Jokowi melawan Prabowo Subianto menggulang Pilpres 2014. Yang bergeser hanya dukungan politik parpol saja. "Misalnya Golkar yang 2014 ada di kubu Prabowo, 2019 ke Jokowi," ucapnya.
(kri)