Tantangan Ekonomi 2018

Kamis, 30 November 2017 - 07:45 WIB
Tantangan Ekonomi 2018
Tantangan Ekonomi 2018
A A A
PRESIDEN Joko Widodo (Jokowi) mengklaim situasi dan kondisi per­ekonomian nasional senantiasa mengalami perbaikan da­ri waktu ke waktu.

Presiden Jokowi yang berbicara dalam se­buah forum yang menghadirkan sejumlah CEO bertema “Kebijakan Ma­kro 2018 untuk Menjaga Pertumbuhan Berkualitas” me­nya­ta­kan, para CEO pasti mencatat banyak kemajuan ekonomi yang telah di­capai, termasuk pengakuan dunia internasional lewat berbagai sta­tus layak investasi di negeri ini.

Belum lama ini, tiga lembaga rating internasional telah menyematkan predikat layak investasi di In­­donesia, yakni Fitch Rating, Moody’s, dan Standard and Poors. Se­lain itu, peringkat kemudahan berusaha di Indonesia semakin mem­baik yang kini berada pada level 72 versi Bank Dunia. Dua tahun lalu, ma­n­tan Gubernur DKI Jakarta itu sudah memprediksi kondisi per­eko­nomian nasional perlahan akan terus membaik, saat itu tak se­di­kit kalangan yang meragukan.

Benarkah perekonomian Indonesia telah banyak mencapai ke­ma­juan dalam jangka waktu dua tahun terakhir ini? Bukannya para pe­laku bisnis terus melakukan efisiensi seraya menunggu kondisi per­ekonomian lebih kondusif.

Sejumlah pebisnis yang bergerak pa­da sektor ritel telah menutup gerai seiring terjadinya pelemahan da­ya beli masyarakat, meski pemerintah tegas membantah bahwa t­i­dak benar ada penurunan daya beli masyarakat yang terjadi pola be­lan­ja masyarakat yang mengalami pergeseran. Lalu, bagaimana de­ngan penyaluran kredit perbankan yang melenceng dari target yang di­patok.

Semula Bank Indonesia (BI) menargetkan setidaknya pe­nya­luran kredit perbankan bakal bertumbuh di atas dua digit atau se­ki­tar 12%, tapi faktanya jangan berharap dalam waktu tinggal s­e­bu­lan bisa direalisasikan. Pertumbuhan penyaluran kredit pe­r­bank­an diprediksi hanya pada kisaran 8% hingga akhir tahun ini.

Lalu, bagaimana dengan prediksi pertumbuhan perekonomian na­sional untuk tahun depan yang juga disebut tahun politik karena akan diwarnai pelaksanaan ratusan Pilkada 2018 dan persiapan Pil­pres untuk 2019? Tahun depan, Gubernur BI Agus Martowardojo ber­keyakinan, pertumbuhan ekonomi berada pada kisaran 5,1% hing­ga 5,5% yang didongkrak oleh permintaan domestik.

Adapun ting­kat inflasi diprediksi pada kisaran 3,5% plus-minus 1%. Faktor lain yang memberi angin segar adalah perekonomian global sudah me­nunjukkan kecenderungan membaik yang diiringi peningkatan har­ga komoditas di pasar internasional. Selain itu, respons pe­nge­tat­an kebijakan moneter di sejumlah negara maju secara gradual te­lah diantisipasi pasar dengan baik.

Namun, dia mewanti-wanti bahwa kondisi dan situasi yang meng­gem­birakan tersebut ha­rus dibarengi dengan kebijakan pen­du­­kung agar pertumbuhan per­eko­nomian nasional ber­ke­si­na­m­bung­an. Dari pi­hak bank sentral te­lah menetapkan arah kebijakan ke depan adalah ba­gaimana men­ja­ga keberlangsungan per­tum­buh­an ekonomi, bah­kan memperkuat mo­mentum pemulihan ekonomi da­lam negeri. Pi­hak BI akan fokus pa­da kebijakan menjaga stabilitas ma­kroekonomi dan sistem ke­uang­an yang sudah berada pada jalur yang tepat.

Selain itu, bank sentral terus mendorong pihak perbankan me­nye­diakan lindung nilai yang lebih efisien untuk korporasi melalui pe­manfaatan structured product, seperti call spread options. Me­nguat­kan kebijakan makroprudensial untuk meningkatkan re­si­lien­si sistem keuangan untuk mengantisipasi potensi risiko sis­te­mik, dalam menghadapi tantangan dan kompleksitas dinamika sis­tem keuangan yang ada.

Juga, memperkuat kerja sama bilateral gu­na meningkatkan penyelesaian transaksi perdagangan bilateral de­ngan menggunakan mata uang lokal (local currency settlement /LCS). Se­­mentara itu, pengembangan skema LCS oleh bank sentral, di an­ta­ranya bilateral currency swap arrangement (BCSA) akan di­im­ple­men­tasikan pada awal tahun depan.

Memang, pemerintah senantiasa dituntut bagaimana pert­um­buh­an ekonomi jangan sampai berada di bawah angka 5%. Faktanya, per­tumbuhan ekonomi yang selama ini berada di kisaran 5% ter­nyata belum maksimal menciptakan lapangan kerja dan me­ning­kat­kan pendapatan masyarakat sebagaimana diharapkan.

Hal itu di­amini Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian Dar­min Nasution dengan menyatakan, pertumbuhan ekonomi sebesar 6% pun masih jauh dari cukup. Idealnya, Indonesia harus mencetak per­t­umbuhan ekonomi di atas 7% agar bisa menjaring seluruh ang­katan kerja menuju masyarakat yang sejahtera.
(rhs)
Berita Terkait
Korona dan Kebangkitan...
Korona dan Kebangkitan Produk Dalam Negeri
Reaktivasi Rumah Ibadah...
Reaktivasi Rumah Ibadah Tak Cukup Regulasi
Mewaspadai Dampak dari...
Mewaspadai Dampak dari Amerika Serikat
Sudah Saatnya Harga...
Sudah Saatnya Harga BBM Turun
Bahan Pangan Aman, Distribusi...
Bahan Pangan Aman, Distribusi Bisa Tersendat
Mengandalkan Sektor...
Mengandalkan Sektor Konsumsi
Berita Terkini
Dokter Tifa Tantang...
Dokter Tifa Tantang Jokowi Tunjukkan Ijazah Asli: Bukan Hanya di Sidang, tapi Juga di Publik
JPU Sebut Perbuatan...
JPU Sebut Perbuatan Dokter Tifa Membuat Jokowi Merasa Dihina Sehina-hinanya
Jokowi Pasti Hadir ke...
Jokowi Pasti Hadir ke Persidangan dan Tunjukkan Ijazah
Kejagung Ajukan Banding...
Kejagung Ajukan Banding Atas Vonis 10 Tahun Nadiem Makarim
Balas Kunjungan Presiden...
Balas Kunjungan Presiden Lukashenko, Prabowo Bakal ke Belarus
Peradi Profesional Sebut...
Peradi Profesional Sebut Peran Penting Advokat Menjaga Kualitas Sistem Peradilan
Infografis
Sensus Ekonomi 2026:...
Sensus Ekonomi 2026: Data untuk Memperkuat UMKM dan Meningkatkan Kesejahteraan Masyarakat
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved