Dampak Essien

Rabu, 15 Maret 2017 - 07:45 WIB
Dampak Essien
Dampak Essien
A A A
JIKA ada informasi yang kini menjadi buah bibir alias pembicaraan di tengah masyarakat adalah bergabungnya bintang sepak bola dunia, Michael Essien, ke Persib Bandung. Bergabungnya mantan pemain Chelsea ini menjadi ramai di lini masa di Indonesia, bahkan sempat menjadi trending topic di Twitter.

Bahkan sebelum diumumkan resmi oleh Persib Bandung kemarin, beberapa hari sebelumnya juga sudah ramai spekulasi ke mana Essien akan berlabuh. Kemarin secara resmi Essien berseragam Persib Bandung dengan nomor punggung 5.

Mengapa kedatangan Essien begitu ramai menjadi perbincangan? Karena memang jarang sekali klub-klub sepak bola di Tanah Air menggunakan jasa pemain sepak bola berkelas bintang.

Berkelas bintang di sini mungkin bisa dikaitkan seorang pemain pernah membela timnas mereka masing-masing di piala dunia atau menjadi bagian inti dari klub terkenal di dunia. Sebelumnya ada nama Mario Kempes, Roger Mila atau Lee Hendrie.

Kebanyakan pemain asing yang membela klub-klub Indonesia adalah pemain yang hanya bermain di klub-klub kurang ternama atau bermain di sebuah negara dengan kompetisi besar, namun di sebuah klub divisi dua atau bahkan divisi tiga. Ini terjadi karena faktor uang.

Mendatangkan pemain bintang ke Tanah Air memang butuh dana cukup besar. Bayangkan saja, untuk sekelas Essien yang bisa dikatakan pemain hampir pensiun dan sudah tidak dipakai jasanya oleh klub-klub Eropa atau klub-klub di Asia, masih dibanderol 800.000 poundsterling atau sekitar Rp11 miliar. Angka tersebut sangat besar, bisa untuk mengontrak 11 atau lebih pemain bagus asal Indonesia.

Hingga kemarin nilai kontrak Essien memang ditutup rapat, namun tidak akan jauh di bawah Rp11 miliar. Itu pun bagi klub Indonesia masih cukup besar.

Jadi, cukup wajar perbincangan di lini masa di dalam negeri menjadi ramai salah satunya mengenai nilai kontrak yang pasti jauh lebih besar nilainya dibanding pesepak bola bintang di Tanah Air yang umumnya dikontrak sekitar Rp2 miliar-2,5 miliar.

Sensasi Essien di Indonesia berbeda dengan di India atau China yang pernah menghebohkan dengan mendatangkan bintang-bintang lama sepak bola dunia. Bahkan di China pun seorang pesepak bola yang sudah tidak terpakai di kompetisi Eropa atau Amerika Latin berani digaji melebihi klub awalnya.

Kita ketahui, China tengah membangun iklim sepak bolanya agar mampu berbicara di dunia internasional. Kita tentu akan menunggu apakah cara China ini berhasil untuk mendongkrak prestasi sepak bola di kancah internasional.

Di India, yang mungkin lebih dulu dari China, hingga sekarang cara itu belum menunjukkan hasil. Berbeda dengan Jepang atau Korea Selatan yang sudah menunjukkan hasilnya.

Lalu apa dampak Essien bagi sepak bola Indonesia. Pemain nasional Ghana ini berjanji meningkatkan kualitas sepak bola Indonesia.

Essien juga berujar, setidaknya dia bisa mempromosikan sepak bola Indonesia ke masyarakat dunia. Yang ini tentu target minimal, karena tentu yang diharapkan bagi masyarakat kita, terutama masyarakat Jawa Barat (pendukung Persib Bandung), bisa meningkatkan sepak bola Indonesia.

Apalah artinya kalau hanya dikenal di mata dunia namun tidak mempunyai kualitas sepak bola yang bagus? Bukankah adanya kompetisi dengan pemain-pemain yang bagus untuk meningkatkan kualitas sepak bola?

Jika hanya untuk dikenal di mata dunia, India dan China mungkin sudah dikenal karena kehebohan mereka dalam mendatangkan pemain-pemain bintang dunia. Namun, dalam hal prestasi, keduanya masih belum seperti yang diharapkan.

Bahkan Jepang atau Korea Selatan yang lebih sedikit mendatangkan pemain-pemain bintang justru bisa meningkatkan kualitas sepak bola mereka hingga tingkat internasional.

Jadi, tentu kunci untuk meningkatkan kualitas sepak bola bukan hanya mendatangkan (mantan) pemain bintang dunia, namun masih banyak faktor lagi. Salah satunya kualitas kompetisi yang bergulir secara rutin dan berjalan dengan baik. Karena kemampuan seorang pesepak bola akan terasah dengan kompetisi rutin dan baik.

Selanjutnya tentang bagaimana klub-klub sepak bola di Tanah Air bisa membuat sebuah silabus (bukan sekadar bisnis) yang bagus tentang peningkatan kualitas sepak bola dalam negeri. Dan di Indonesia, salah satu yang sudah benar-benar berkomitmen tentang ini adalah Persib Bandung.
(poe)
Berita Terkait
Korona dan Kebangkitan...
Korona dan Kebangkitan Produk Dalam Negeri
Reaktivasi Rumah Ibadah...
Reaktivasi Rumah Ibadah Tak Cukup Regulasi
Mewaspadai Dampak dari...
Mewaspadai Dampak dari Amerika Serikat
Sudah Saatnya Harga...
Sudah Saatnya Harga BBM Turun
Bahan Pangan Aman, Distribusi...
Bahan Pangan Aman, Distribusi Bisa Tersendat
Mengandalkan Sektor...
Mengandalkan Sektor Konsumsi
Berita Terkini
Sidang Eksepsi Dokter...
Sidang Eksepsi Dokter Tifa: Kami Tak Pernah Minta Jokowi Dihukum, Hanya Minta Ijazah Dibuktikan
Polri Ultimatum Pihak...
Polri Ultimatum Pihak yang Halangi Pengusutan 3 Kasus Korupsi
Penampakan Koper Berisi...
Penampakan Koper Berisi Emas Disita Polisi usai Geledah Rumah di Bogor
Nurul Arifin Sebut Riset...
Nurul Arifin Sebut Riset SSI Bukti Bahlil Berhasil Terjemahkan Visi Prabowo ke Publik
Tiba PN Jaktim Jelang...
Tiba PN Jaktim Jelang Sidang Eksepsi, Dokter Tifa: Kami Siapkan 37 Halaman Nota Perlawanan
Bangun Pendidikan Hukum,...
Bangun Pendidikan Hukum, Peradi Profesional Gandeng 112 PTN dan PTS se- Indonesia
Infografis
Tiga Dampak Jika Kanada...
Tiga Dampak Jika Kanada Ingin Bergabung dengan Amerika Serikat
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved