Di Balik Pertemuan Jokowi dan Megawati

Selasa, 22 November 2016 - 14:30 WIB
Di Balik Pertemuan Jokowi...
Di Balik Pertemuan Jokowi dan Megawati
A A A
JAKARTA - Ada beberapa spekulasi yang bermunculan terkait pertemuan Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Megawati Soekarnoputri di Istana Negara kemarin.

Pertemuan kedua tokoh tersebut untuk melakukan konsolidasi politik terkait situasi politik mutakhir. Rencananya, para ketua umum (ketum) partai politik (parpol) juga akan dikumpulkan sebagai bagian dari upaya konsolidasi itu.

"Cuma, agak sedikit ganjil jika konsolidasi politik yang dilakukan tidak menyertakan SBY (Susilo Bambang Yudhoyono)," kata pengamat politik UIN Jakarta, Adi Prayitno, Selasa (22/11/2016).

Apapun alasannya, kata Adi, SBY menjadi salah satu figur penting yang harus diajak bicara terutama oleh PDIP dan Megawati. Ada kesan SBY dipinggirkan dalam proses konsolidasi politik saat ini.

Hal ini membuat publik bertanya ada apa sebenarnya. Kedua, santer terdengar, agenda lain dari pertemuan itu adalah untuk menyentil tiga partai pendukung pemerintah yakni PKB, PAN, dan PPP.

Ketiganya dinilai tidak menunjukkan sikap dan bahkan membiarkan Jokowi kerja sendirian menghadapi tekanan massa 4 November lalu.

"Sentilan ini justru membuat suasana kebatinan di internal partai pendukung Jokowi jadi gaduh. Terbukti, PAN dan PPP langsung bereaksi. Kedua partai ini menyebut tudingan itu tak relevan dan konteksnya beda dengan pilkada DKI," ungkapnya.

Sepertinya, PDIP dan Megawati sedang risau, kelimpungan menghadapi turbulensi politik yang makin tidak menentu. Ketiga, menyangkut kemesraan antara Jokowi dan Prabowo Subianto.

Belakangan, di tengah situasi suhu politik yang terus memanas, Jokowi sepertinya menemukan kenyamanan pada sosok ketum Gerindra. Perkataan-perkataan Prabowo yang menyejukkan membuat Jokowi merasa aman.

"Apalagi Prabowo menggaransi dirinya tak akan menjegal pemerintahan yang sah serta siap turut serta mengawal hingga 2019," tandasnya.

Kemesraan kedua tokoh yang sempat jadi rival dalam pilpres 2014 lalu itu tak hanya menimbulkan banyak kecemburuan, namun juga memantik ragam tafsir politik yang liar.

"Banyak kalangan menduga, kemesraan keduanya itu sebagai upaya menjalin komunikasi awal soal kemungkinan mengusung Anies Baswedan di pilkada DKI setelah Ahok jadi tersangka," pungkasnya.
(maf)
Berita Terkait
Tingkat Kepuasan Terhadap...
Tingkat Kepuasan Terhadap Jokowi Sekitar 63 Persen usai Demo Kawal MK
Kontroversi Sukmawati:...
Kontroversi Sukmawati: Dugaan Ijazah Palsu Hingga Tersandung Pelecehan Agama
Jokowi Teken Perpres...
Jokowi Teken Perpres Stranas Penghapusan Kekerasan terhadap Anak
Billy Mambrasar Ungkap...
Billy Mambrasar Ungkap Besarnya Rasa Cinta Jokowi terhadap Papua
Kepuasan Publik terhadap...
Kepuasan Publik terhadap Jokowi Meningkat, Tembus Angka 80,6%
Presiden PKS Serukan...
Presiden PKS Serukan Penolakan terhadap Terorisme dan Penodaan Agama
Berita Terkini
Syuriyah NU se-Lampung...
Syuriyah NU se-Lampung Minta Calon Ketum PBNU Tak Rangkap Jabatan
Kejagung Perintahkan...
Kejagung Perintahkan Kepala Kejati Hentikan Pengumpulan Data Program MBG
Pertemuan Kapolri, Panglima...
Pertemuan Kapolri, Panglima TNI, dan Jaksa Agung Tegaskan Aparat Tetap Solid
Bacakan Duplik, Polda...
Bacakan Duplik, Polda Metro Jaya dan Kejaksaan Tetap Minta Praperadilan Roy Suryo Ditolak
KPK Diminta Supervisi...
KPK Diminta Supervisi Kasus Dugaan Korupsi Mantan Jampidsus demi Integritas Penegakan Hukum
Terima Bantuan Ambulans...
Terima Bantuan Ambulans dari Korpri, Tito: Sangat Berarti bagi Masyarakat Terdampak Bencana Sumatera
Infografis
Perburuan Sepatu Emas...
Perburuan Sepatu Emas Piala Dunia 2026: Messi Dihantui Haaland dan Mbappe!
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved