Sumpah Pemuda, Merah Putih Berkibar di Puncak Bukit Tangkiling
Sabtu, 29 Oktober 2016 - 16:58 WIB
Sumpah Pemuda, Merah Putih Berkibar di Puncak Bukit Tangkiling
A
A
A
PALANGKARAYA - Jalan menuju puncak Bukit Tangkiling terjal berbatu. Guyuran hujan yang terus menderas membuat tanah menjadi licin. Tidak kuat kaki menapak, bisa saja menggelinding kembali ke bawah.
Tapi tekad baja 15 anak muda dari DPW Pemuda Perindo Kalimantan Tengah (Kalteng) tak juga surut. Meski harus berbasah-basahan dan lebih hati-hati. Kobaran semangat para pemuda Indonesia di masa silam, lewat Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 tampaknya menembus ruang dan waktu.
“Kami ingin meneriakkan kembali, Indonesia ada karena semua latar belakang yang berbeda menjadi satu. Sumpah Pemuda 28 Oktober telah mengikat kita menjadi satu kesatuan, NKRI,” ujar Sekretaris DPW Pemuda Perindo Kalimantan Andinu Kurnia ketika dihubungi di Palangkaraya, Kalteng, Sabtu (29/10/2016).
Di atas Bukit Tangkiling yang juga terdapat Batu Banama yang terkenal itu, Pemuda Perindo Kalteng berhasil mengibarkan Sang Merah Putih, bersanding dengan Bendera Partai Perindo dan Pemuda Perindo yang berlambangkan rajawali biru. Ke-15 anak muda tadi, dua di antaranya perempuan, dengan takzim berdoa.
“Harapannya agar pengakuan akan tumpah darah, bangsa dan bahasa yang satu tetap menjadi semangat anak bangsa ketika membangun Indonesia. Terutama generasi muda, karena masa depan negara kita merekalah pewarisnya,” tukas Andinu.
Bukit Tangkiling, menurut Andinu, dipilih Pemuda Perindo untuk memperingati Sumpah Pemuda 1928, karena menjadi objek wisata populer di kalangan anak muda. Dari atas Bukit Tangkiling, panorama Kota Palangkaraya terhampar dengan jelas. Meski cuaca yang kurang bersahabat membuat trekking sore itu butuh waktu satu jam sampai ke puncak.
“Biasanya kondisi normal, setengah jam juga sudah sampai,” kata Andinu.
Dalam ekspedisi singkat ke Bukit Tangkiling, Pemuda Perindo juga berkesempatan berbincang banyak hal dengan pengelola kawasan yang ditetapkan Pemerintah sebagai Taman Wisata Alam (TWA) Bukit Tangkiling tersebut. Tempat ini banyak dikunjungi wisatawan, karena berpanorama indah, udara segar dan juga ditinggali beberapa satwa seperti binturung, landak serta kera, di kawasan yang luas keseluruhannya mencapai 533 hektar.
Sayangnya potensi pariwisata tersebut kurang mendapatkan perhatian pemerintah. Minimnya fasilitas menyebabkan kawasan ini tidak maksimal.
Tapi tekad baja 15 anak muda dari DPW Pemuda Perindo Kalimantan Tengah (Kalteng) tak juga surut. Meski harus berbasah-basahan dan lebih hati-hati. Kobaran semangat para pemuda Indonesia di masa silam, lewat Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 tampaknya menembus ruang dan waktu.
“Kami ingin meneriakkan kembali, Indonesia ada karena semua latar belakang yang berbeda menjadi satu. Sumpah Pemuda 28 Oktober telah mengikat kita menjadi satu kesatuan, NKRI,” ujar Sekretaris DPW Pemuda Perindo Kalimantan Andinu Kurnia ketika dihubungi di Palangkaraya, Kalteng, Sabtu (29/10/2016).
Di atas Bukit Tangkiling yang juga terdapat Batu Banama yang terkenal itu, Pemuda Perindo Kalteng berhasil mengibarkan Sang Merah Putih, bersanding dengan Bendera Partai Perindo dan Pemuda Perindo yang berlambangkan rajawali biru. Ke-15 anak muda tadi, dua di antaranya perempuan, dengan takzim berdoa.
“Harapannya agar pengakuan akan tumpah darah, bangsa dan bahasa yang satu tetap menjadi semangat anak bangsa ketika membangun Indonesia. Terutama generasi muda, karena masa depan negara kita merekalah pewarisnya,” tukas Andinu.
Bukit Tangkiling, menurut Andinu, dipilih Pemuda Perindo untuk memperingati Sumpah Pemuda 1928, karena menjadi objek wisata populer di kalangan anak muda. Dari atas Bukit Tangkiling, panorama Kota Palangkaraya terhampar dengan jelas. Meski cuaca yang kurang bersahabat membuat trekking sore itu butuh waktu satu jam sampai ke puncak.
“Biasanya kondisi normal, setengah jam juga sudah sampai,” kata Andinu.
Dalam ekspedisi singkat ke Bukit Tangkiling, Pemuda Perindo juga berkesempatan berbincang banyak hal dengan pengelola kawasan yang ditetapkan Pemerintah sebagai Taman Wisata Alam (TWA) Bukit Tangkiling tersebut. Tempat ini banyak dikunjungi wisatawan, karena berpanorama indah, udara segar dan juga ditinggali beberapa satwa seperti binturung, landak serta kera, di kawasan yang luas keseluruhannya mencapai 533 hektar.
Sayangnya potensi pariwisata tersebut kurang mendapatkan perhatian pemerintah. Minimnya fasilitas menyebabkan kawasan ini tidak maksimal.
(kri)