Pemerintah (Belum) Serius Tangani Asap

Senin, 26 Oktober 2015 - 12:31 WIB
Pemerintah (Belum) Serius...
Pemerintah (Belum) Serius Tangani Asap
A A A
Bencana asap tak kunjung bisa diatasi. Hingga kemarin, kabut asap masih menghantui masyarakat terutama di Sumatera dan Kalimantan.Bahkan, dampaknya makin meluas dan korbannya juga kian bertambah banyak. Lambatnya penanganan bencana ini lantaran pemerintah belum all outmenghentikan kabut asap tersebut. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) kemarin mengumumkan dampak kabut asap bahkan sudah menyebar hingga langit Jakarta.Selain itu, kabut tipis yang berasal dari kebakaran hutan di Kalimantan dan Sumatera telah juga menutup sebagian wilayah di Banten, Jawa Barat, juga sebagian Jawa Timur, Bali, dan Nusa Tenggara. Di luar negeri, dampak asap juga sudah dirasakan masyarakat Malaysia, Singapura, Filipina, hingga Thailand. Fenomena ini tentu makin mengkhawatirkan jika pemerintah tidak segera mengambil langkah serius.Bukan tidak mungkin, asap akan menyebar seluruh wilayah Nusantara dan ini tentu akan membahayakan kesehatan masyarakat. Tercatat sejauh ini sudah belasan orang meninggal karena terpapar asap. Sementara korban yang terkena penyakit infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) hingga akhir September lalu jumlahnya 272.001 orang. Kenaikan kasus ISPA per minggu sudah berkisar angka 500 orang. Kita bisa membayangkan bagaimana masa depan anak-anak yang sudah berbulan-bulan terpapar asap.Apa ada yang bisa menjamin kalau 10 atau 20 ke depan mereka tidak terkena penyakit yang mematikan seperti kanker dan lainnya? Belum lagi jika menghitung potensi kerugian dari sisi ekonomi. Ini sungguh mengerikan. Fakta ini sebenarnya sudah bisa memberikan gambaran bagi pemerintah betapa seriusnya dampak bencana asap tersebut.Pemerintah pusat memang sudah melakukan beberapa upaya untuk menghentikan kabut asap. Presiden Joko Widodo (Jokowi) juga sudah mengunjungi kawasan hutan yang terbakar di Kalimantan. Bahkan, dia sempat berjalan- jalan ditengah hutan yang sedang terbakar. Jokowi juga sudah mengunjungi Jambi, Sumatera Selatan dan Sumatera Barat untuk memantau penanganan Asap. Namun, langkah pemerintah ini masih kurang maksimal karena hingga saat ini bencana asap masih belum bisa diatasi. Takberlebihan, jikaadayangmenyebutlangkahJokowiyangberjalandi tengah hutan yang terbakar lebih sebagai upaya ”pencitraan”.Tohsampai sekarang kebakaran hutan masih belum bisa tertangani. Di tengah bencana asap yang makin meluas, Presiden Jokowi melakukan lawatan ke Amerika Serikat hingga 29 Oktober mendatang. Kunjungan Jokowi ini dinilai kurang tepat di tengah kondisi Indonesia yangsedangmenghadapimasalahbencanaasapyangmakinserius. Jokowi seharusnya membatalkan atau menunda ke lawatannya ke Paman Sam sampai masalah asap bisa diselesaikan.Jokowi sebetulnya bisa mencontoh langkah Presiden AS Barack Obama yang tiba-tiba membatalkan kunjungannya ke Indonesia dan Australia pada Juni 2010 lalu. Saat itu, batalnya kunjungan tersebut lantaran Obama ingin berkonsentrasi menangani krisis tumpahan minyak di Teluk Meksiko. Presiden Jokowi memang sudah menugaskan Wakil Presiden dan Menko Polhukam untuk menangani asap. Namun, tetap saja hal itu tentu berbeda maknanya.Kehadiran Jokowi di Tanah Air sangat diperlukan sebagai tanda keseriusan dan kepedulian pemerintah pusat terhadap masyarakat yang terkena asap. Bencana asap kini sudah sangat memprihatinkan. Karena itu, sudah waktunya pemerintah menetapkan masalah tersebut menjadi bencana nasional. Penanganan asap tak bisa lagi hanya diserahkan ke daerah karena dampaknya sudah menasional.Pemerintah pun saat ini jangan terus-menerus bersembunyi di balik ”kesalahan” pemerintah sebelumnya, dengan menyebut kabut asap ini merupakan kejadian langganan tiap tahun. Di sisi lain, aparat hukum harus serius mengusut tuntas semua pihak yang terlibat dalam pembakaran hutan ini. Hal ini penting agar ke depan tidak ada lagi yang berani membakar hutan hingga muncul bencana asap seperti ini.Masalah asap ini juga sudah menjadi isu lintas negara yang kalau tidak segera ditangani serius bisa memperburuk citra Indonesia di forum internasional. Fenomena ini tentunya juga akan mengganggu diplomasi pemerintah Indonesia di forum internasional. Kita tunggu langkah nyata dan serius dari pemerintah untuk segera menangani masalah asap ini.
(bhr)
Berita Terkait
Sudah Saatnya Harga...
Sudah Saatnya Harga BBM Turun
Bahan Pangan Aman, Distribusi...
Bahan Pangan Aman, Distribusi Bisa Tersendat
Korona dan Kebangkitan...
Korona dan Kebangkitan Produk Dalam Negeri
Mengandalkan Sektor...
Mengandalkan Sektor Konsumsi
Mendata Masyarakat Miskin...
Mendata Masyarakat Miskin Baru
Reaktivasi Rumah Ibadah...
Reaktivasi Rumah Ibadah Tak Cukup Regulasi
Berita Terkini
Dukung Naniek S Deyang...
Dukung Naniek S Deyang Pimpin BGN, Arus Bawah Prabowo Minta Program MBG Dibenahi
Wamenkum: 20 DIM RUU...
Wamenkum: 20 DIM RUU Polri Bakal Dibahas Bareng DPR
2 Pengusaha Divonis...
2 Pengusaha Divonis 1,5 Tahun Penjara, Kuasa Hukum: PT KEM Korban Sistem di Kemnaker
Silmy Karim Jadi Tersangka...
Silmy Karim Jadi Tersangka KPK, Mensesneg: Kita Perang Melawan Korupsi
Pertama Dalam Sejarah,...
Pertama Dalam Sejarah, Kemenag Lantik 15 Perempuan Jadi Kepala KUA
Tak Kaget Dadan dan...
Tak Kaget Dadan dan Silmy Terjerat Kasus Korupsi, Noel: Juni-Juli Banyak Pejabat Ditangkap KPK
Infografis
Trump Serius Ancam Iran...
Trump Serius Ancam Iran dengan Kekuatan Militer AS
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved