Ketua DPR Ingin Indonesia Bebas dari Korupsi
Selasa, 06 Oktober 2015 - 12:18 WIB
Ketua DPR Ingin Indonesia Bebas dari Korupsi
A
A
A
YOGYAKARTA - Indonesia menjadi tuan rumah konferensi Global Organization of Parliamentarians Againts Corruption (GOPAC) tahun 2015. Acara berlangsung mulai tanggal 6 hingga 8 Oktober 2015 di Yogyakarta.
Ketua DPR Setya Novanto mengatakan, momentum konferensi GOPAC ini sekaligus menunjukkan keseriusan Indonesia dalam upaya pemberantasan korupsi.
"Kali ini kita menjadi tuan rumah. Sekaligus menunjukkan keseriusan kita memerangi korupsi," kata Setya melalui konferensi pers yang diterima Sindonews, Rabu (6/10/2015).
Setya memaparkan secara khusus, konferensi yang dihadiri anggota parlemen dunia kali ini, terfokus pada pemberantasan dan perang melawan korupsi, terutama grand corruption.
Menurutnya, grand corruption merupakan fenomena yang sangat berbeda dengan korupsi pada umumnya. Pasalnya, di dalamnya tidak hanya melibatkan jumlah uang yang besar, tapi juga melibatkan para pengambil kebijakan.
"Sehingga dampaknya akan begitu terasa hingga menghambat hajat hidup masyarakat, seperti penghidupan yang layak, pendidikan dan perlakuan yang sama di depan hukum," ungkap Setya.
Politikus Partai Golkar ini melanjutkan, fokus pada grand corruption ini sejalan dengan tujuan Indonesia dalam mencapai Sustainable Development Goals. Sebuah tujuan yang menginginkan kehidupan bangsa dan negara bebas dari kemiskinan setelah terbebas dari korupsi.
"Tujuan tersebut akan sulit tercapai saat negara-negara berkembang di dunia masih terkendala dengan perilaku koruptif, khususnya grand corruption," tandas Setya.
Pilihan:
Pelaku Pemalsuan Tanda Tangan Mandra Berinisial AD
Ketua DPR Setya Novanto mengatakan, momentum konferensi GOPAC ini sekaligus menunjukkan keseriusan Indonesia dalam upaya pemberantasan korupsi.
"Kali ini kita menjadi tuan rumah. Sekaligus menunjukkan keseriusan kita memerangi korupsi," kata Setya melalui konferensi pers yang diterima Sindonews, Rabu (6/10/2015).
Setya memaparkan secara khusus, konferensi yang dihadiri anggota parlemen dunia kali ini, terfokus pada pemberantasan dan perang melawan korupsi, terutama grand corruption.
Menurutnya, grand corruption merupakan fenomena yang sangat berbeda dengan korupsi pada umumnya. Pasalnya, di dalamnya tidak hanya melibatkan jumlah uang yang besar, tapi juga melibatkan para pengambil kebijakan.
"Sehingga dampaknya akan begitu terasa hingga menghambat hajat hidup masyarakat, seperti penghidupan yang layak, pendidikan dan perlakuan yang sama di depan hukum," ungkap Setya.
Politikus Partai Golkar ini melanjutkan, fokus pada grand corruption ini sejalan dengan tujuan Indonesia dalam mencapai Sustainable Development Goals. Sebuah tujuan yang menginginkan kehidupan bangsa dan negara bebas dari kemiskinan setelah terbebas dari korupsi.
"Tujuan tersebut akan sulit tercapai saat negara-negara berkembang di dunia masih terkendala dengan perilaku koruptif, khususnya grand corruption," tandas Setya.
Pilihan:
Pelaku Pemalsuan Tanda Tangan Mandra Berinisial AD
(maf)