Negara Agraris

Sabtu, 22 Agustus 2015 - 10:12 WIB
Negara Agraris
Negara Agraris
A A A
Tahun 1984 silam, Indonesia pernah mendapatkan penghargaan dari Food and Agriculture Organization (FAO) sebagai salah satu negara di Asia Tenggara yang mampu mencapai swasembada pangan.

Namun, kondisi tersebut tak bertahan lama karena era tahun 1990- an Indonesia justru mengalami penurunan produksi pertanian skala nasional. Bahkan sampai kini, pertanian kita masih dalam kondisi terjajah oleh bangsa lain dengan menempati urutan ke-4 pengimpor beras terbesar di dunia setelah Nigeria, Irak, dan Filipina.

Sudahkah kita merdeka? Ya, itu pertanyaan yang selalu muncul bagi saya selaku mahasiswa pertanian. Bagi sebagian besar masyarakat Indonesia, merdeka adalah hal yang secara de facto dan de jure bangsa ini telah dapat. Era kemerdekaan bangsa ini, tepatnya 70 tahun Indonesia merdeka, nyatanya belum mampu menjadikan Indonesia merdeka secara pangan.

Semangat kemerdekaan untuk membangun pertanian harus terus dikobarkan di seluruh penjuru negeri ini. Bung Karno Founding Father bangsa ini pun mengatakan jika bangsa yang sektor pertaniannya kuat, maka bangsa tersebut tak akan pernah tergoyahkan oleh pengaruh bangsa lain.

Petani adalah ujung tombak penjaga ketahanan pangan kita. Maka bila produktivitas dan pendapatan mereka meningkat, kontribusinya kepada ketahanan pangan nasional akan sangat signifikan. Mengapa? Pertama, jika produktivitas usaha tani meningkat, berarti suplai pangan nasional meningkat pula.

Hal ini berarti meningkatkan tingkat ketersediaan pangan nasional. Kedua, ketika hasil usaha tani mereka mampu memberikan pendapatan tinggi, berarti akses petani terhadap pangan meningkat. Kita tahu, sekitar 60% penduduk Indonesia ini adalah petani yang 89% di antaranya merupakan petani gurem yang miskin.

Naiknya pendapatan mereka berarti aspek keterjangkauan dalam ketahanan pangan nasional akan meningkat pula. Era kemerdekaan ini, peran petani dalam mewujudkan bangsa Indonesia sebagai bangsa yang berdaulat dan mandiri pangan tak terelakan lagi. Momentum ini haruslah jadi cerminan refleksi bagi seluruh rakyat Indonesia, utamanya adalah kaum elite pemangku kebijakan.

Mari buka lembaran sejarah yang telah usang dan terkunci rapat di laci. Kita bersihkan kembali, dan kita kibarkan dengan semangat kemerdekaan dengan menjadikan pertanian Indonesia sebagai negara agraris yang adidaya. No farmer, no future.

MUHAMMAD AZIZ MUSLIM
Mahasiswa Jurusan Agroteknologi Fakultas Pertanian Universitas Jenderal Soedirman
(bhr)
Berita Terkait
Mahasiswa Doktoral Unhan...
Mahasiswa Doktoral Unhan Sebut Pentingnya Pengembangan Pertahanan Maritim
Tiga Poros di Pilpres...
Tiga Poros di Pilpres 2024 Dinilai Rasional dan Memungkinkan
Lokalisasi Terbesar...
Lokalisasi Terbesar di Pantura Timur Dirobohkan, Situasi Sempat Memanas
Capres Poros Ketiga...
Capres Poros Ketiga Pilpres 2024 Belum Terlihat
Soal Poros Partai Islam,...
Soal Poros Partai Islam, Inisiator Partai Ummat Bilang Begini
Poros Islam Ingin Usung...
Poros Islam Ingin Usung Capres-Cawapres di Pilpres 2024? PKB Jadi Penentu
Berita Terkini
KPK: Silmy Karim Kantongi...
KPK: Silmy Karim Kantongi Rp100 Juta per Pekan dari Pemerasan Izin Tinggal WNA
Nanik S Deyang Ungkap...
Nanik S Deyang Ungkap Mayjen Trenggono Segera Mundur dari TNI usai Jadi Wakil Kepala BGN
Tutup P3N 27, Gubernur...
Tutup P3N 27, Gubernur Lemhannas Tegaskan Pemimpin Nasional Harus Berintegritas, Adaptif, dan Visioner
Jejak Uang Rp366,7 Miliar...
Jejak Uang Rp366,7 Miliar ke Pegawai Imipas Bongkar Dugaan Pemerasan oleh Silmy Karim
Kejagung Tak Sita Motor...
Kejagung Tak Sita Motor Listrik Kasus Dugaan Korupsi di Badan Gizi Nasional, Ini Alasannya
Dadan Hindayana Cs Korupsi...
Dadan Hindayana Cs Korupsi Tata Kelola MBG, Noel: Memprihatinkan
Infografis
10 Negara Menaikkan...
10 Negara Menaikkan Harga BBM Akibat Perang AS-Iran, Banyak Tetangga RI
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved