Saatnya Mandiri Olah Kekayaan

Selasa, 18 Agustus 2015 - 10:20 WIB
Saatnya Mandiri Olah...
Saatnya Mandiri Olah Kekayaan
A A A
Alpin Hardiansah
Mahasiswa Jurusan Bahasa dan Sastra Arab, Fakultas Adab dan Humaniora

Indonesia sebagai negara yang terletak di garis khatulistiwa, kekayaannya sungguh sangat luar biasa.

Semua yang dibutuhkan negara-negara di dunia hampir seluruhnya ada di negeri ini, seperti hasil pertanian, perkebunan, minyak, gas, mineral, tambang.

Akan tetapi, kekayaan itu tidak lantas membuat Indonesia bertengger di puncak daftar negara-negara dengan PDB terbesar di dunia. Atau kekayaan itu juga tidak membuat rakyatnya bahagia, bila menyandarkan pada hasil survei Gross National Happiness (GNH) yang dilakukan lembaga internasional. Kekayaan yang semestinya dinikmati rakyat pada praktiknya justru lebih banyak dinikmati asing.

Bukan hanya dinikmati, namun juga dikuasai asing. Sebut saja ladang-ladang kaya minyak, seperti Blok Cepu dan Blok Mahakam, yang masing-masing dikelola perusahaan raksasa asal AS, ExxonMobil, di mana pendapatannya saja mengalahkan PDB negeri ini, dan kemudian perusahaan minyak asal Prancis, Total. Perusahaan-perusahaan itu telah lama sekali mengolah dan menikmati kekayaan negeri ini, khususnya dalam hal perminyakan. Setali tiga uang dengan perminyakan, kekayaan tambang Indonesia pun kondisinya tak jauh berbeda. PT Freeport adalah aktornya.

Perusahaan tambang yang juga asal AS itu juga telah lama mengeruk kekayaan Indonesia yang ada di Bumi Cenderawasih. Anehnya, walau PT Freeport sering bermasalah, pemerintah tetap memberikan Freeport kebebasan. Yang terbaru, pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), akhirnya memberikan rekomendasi perpanjangan izin ekspor konsentrat tembaga untuk enam bulan ke depan kepada PT Freeport. Kebijakan itu melengkapi kebijakan sebelumnya, yakni memperpanjang izin operasi hingga 20 tahun ke depan.

Belum lagi izin operasi kontrak karya (KK) akan diubah menjadi izin usaha pertambangan khusus (IUPK) yang memungkinkan PT Freeport untuk mengeruk kekayaan negeri ini hingga 20 tahun. Jadi, jika ditotal, Bumi Papua akan terus dikeruk kekayaannya hingga 2055 mendatang. Cita-cita kemandirian dan penguasaan sendiri kekayaan tambang milik rakyat pun makin terasa jauh dan memudar, padahal sudah sejak lama rakyat mengidamidamkan kemandirian bangsa ini terhadap kekayaannya sendiri.

Jika melihat keadaan bangsa sekarang, kini saat yang tepat untuk mengambil alih lokasi-lokasi tambang minyak, emas, dan gas, mengingat bangsa ini dirasa telah mampu untuk melakukannya. Semoga dengan momentum peringatan 70 tahun kemerdekaan Indonesia, pemerintah berpikir ulang mengenai keseriusannya mengolah kekayaan negeri ini secara mandiri.

Dengan begitu, impitan ekonomi yang tengah dirasakan rakyat Indonesia bisa segera terselesaikan dan berubah menjadi kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia.
(ars)
Berita Terkait
Tiga Poros di Pilpres...
Tiga Poros di Pilpres 2024 Dinilai Rasional dan Memungkinkan
Mahasiswa Doktoral Unhan...
Mahasiswa Doktoral Unhan Sebut Pentingnya Pengembangan Pertahanan Maritim
Lokalisasi Terbesar...
Lokalisasi Terbesar di Pantura Timur Dirobohkan, Situasi Sempat Memanas
Capres Poros Ketiga...
Capres Poros Ketiga Pilpres 2024 Belum Terlihat
Soal Poros Partai Islam,...
Soal Poros Partai Islam, Inisiator Partai Ummat Bilang Begini
Poros Islam Ingin Usung...
Poros Islam Ingin Usung Capres-Cawapres di Pilpres 2024? PKB Jadi Penentu
Berita Terkini
KontraS Kritik Tuntutan...
KontraS Kritik Tuntutan 2,5 Tahun Penjara untuk Terdakwa Penyiraman Andrie Yunus
Revisi UU Polri, Menteri...
Revisi UU Polri, Menteri Pigai Usulkan Sejumlah Jabatan Utama Bisa Diisi Sipil
Film Pesta Babi Bergeser...
Film Pesta Babi Bergeser dari Kritik Sosial Jadi Instrumen Kampanye Disintegrasi Papua
KPK Angkut Moge, Mobil...
KPK Angkut Moge, Mobil Mewah, dan Sepeda usai Geledah Rumah Silmy Karim
Ancam 6 Juta Tenaga...
Ancam 6 Juta Tenaga Kerja, Wacana Kemasan Polos Harus Dibatalkan
DPR Minta KAI Bereskan...
DPR Minta KAI Bereskan Dulu Konektivitas Sebelum Bangun Jalur Kereta Aceh-Lampung
Infografis
15 PTN Masih Buka Jalur...
15 PTN Masih Buka Jalur Mandiri 2025, Kesempatan Kedua yang Gagal SNBT
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved