Kacamata Urbanisasi Kini

Selasa, 28 Juli 2015 - 10:12 WIB
Kacamata Urbanisasi...
Kacamata Urbanisasi Kini
A A A
Syamsi Alifia
Mahasiswa Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Bahasa dan Seni

Merantau dari tanah kelahiran merupakan sebuah tren yang berkembang di kalangan masyarakat selepas hari raya. Tidak peduli dengan uang atau kemampuan yang minim, bahkan hanya bermodalkan nekat untuk merantau.

Merantau ke kota atau lebih umum dikenal dengan urbanisasi seakanakan menjanjikan manisnya gula kehidupan. Dengan modal nekat yang dimiliki, urbanisasi menjadi sesuatu yang tidak dapat dihindarkan oleh masyarakat saat ini.

Menjelang penghabisan libur hari raya, tempat-tempat umum seperti stasiun, terminal, pelabuhan, dan bandara seeloknya seperti menggelar hajatan besar karena dipenuhi oleh puluhan, bahkan jutaan orang.

Semua berbondong-bondong pergi ke kota besar demi mencoba peruntungan hidup. Sebut saja kota Jakarta yang tiap tahunnya, persis setelah Lebaran, kedatangan tamu dengan beragam latar belakang budaya, pendidikan, suku, dan agama. Ada yang memang berniat datang ke kota untuk mengubah nasib.

Mengubah segalanya yang buruk menjadi lebih baik. Mengubah jam makan menjadi tiga kali sehari atau bahkan lebih. Mengubah angan menjadi kenyataan. Mengubah lamunan menjadi asa.

Dan, mengubah status keluarga menjadi lebih terpandang. Ada lagi yang sekadar ikut-ikutan atau atas nama solidaritas antarteman atau saudara. Siapa pun yang beralasan seperti itu pastilah tidak akan lama atau hanya seumur jagung untuk bertahan di tanah rantau.

Jika sekadar ikut-ikutan, tujuan hidup di kota akan selalu bergantung pada teman atau saudara yang pertama kali mengajak hidup di kota. Ada pula yang tergiur oleh kisah-kisah orang terdahulu yang hidupnya sukses dan berhasil di kota. ”Jika orang lain bisa, masa kita tidak bisa,” begitulah pepatah yang hendak digaungkan sebagian masyarakat yang hendak berurbanisasi.

Mereka seakan tidak mau kalah berebut rahmat Sang Ilahi yang dipercayai lebih besar peluangnya bila hidup di kota. Intinya, mereka tidak ingin seperti katak dalam tempurung. Terakhir, alasan sebagian masyarakat berurbanisasi adalah melanjutkan pendidikan, baik itu pendidikan dasar, menengah, maupun pendidikan tinggi.

Tidak dapat dipungkiri bahwa fasilitas pendidikan di kota jauh lebih baik dan menunjang daripada di desa. Saat ini pun masih banyak ditemui sekolah yang berjarak jauh dari permukiman warga.

Tidak jarang pelajar harus melalui medanmedansulitsepertijembatanyangsudahdiujungtanduk, mengarungi rawa atau sungai dengan rakit sederhana atau perahu motor kecil, dan jalan setapak yang hanya cukup dilalui oleh pejalan kaki.

Belum lagi sarana dan prasarana penunjang pembelajaran yang masih jauh dari kata layak. Karenaitu, apakahurbanisasimasihdapatdibenarkan demi alasan untuk memperbaiki nasib? Siapakah yang harus disalahkan bila urbanisasi masih melahirkan banyak masalah, pemerintahkah atau masyarakatkah

(ars)
Berita Terkait
Tiga Poros di Pilpres...
Tiga Poros di Pilpres 2024 Dinilai Rasional dan Memungkinkan
Mahasiswa Doktoral Unhan...
Mahasiswa Doktoral Unhan Sebut Pentingnya Pengembangan Pertahanan Maritim
Lokalisasi Terbesar...
Lokalisasi Terbesar di Pantura Timur Dirobohkan, Situasi Sempat Memanas
Capres Poros Ketiga...
Capres Poros Ketiga Pilpres 2024 Belum Terlihat
Soal Poros Partai Islam,...
Soal Poros Partai Islam, Inisiator Partai Ummat Bilang Begini
Poros Islam Ingin Usung...
Poros Islam Ingin Usung Capres-Cawapres di Pilpres 2024? PKB Jadi Penentu
Berita Terkini
Revisi UU Polri: Batas...
Revisi UU Polri: Batas Usia dan Syarat Anggota Kompolnas Diusulkan Lebih Fleksibel
KontraS Kritik Tuntutan...
KontraS Kritik Tuntutan 2,5 Tahun Penjara untuk Terdakwa Penyiraman Andrie Yunus
Revisi UU Polri, Menteri...
Revisi UU Polri, Menteri Pigai Usulkan Sejumlah Jabatan Utama Bisa Diisi Sipil
Film Pesta Babi Bergeser...
Film Pesta Babi Bergeser dari Kritik Sosial Jadi Instrumen Kampanye Disintegrasi Papua
KPK Angkut Moge, Mobil...
KPK Angkut Moge, Mobil Mewah, dan Sepeda usai Geledah Rumah Silmy Karim
Ancam 6 Juta Tenaga...
Ancam 6 Juta Tenaga Kerja, Wacana Kemasan Polos Harus Dibatalkan
Infografis
4 Negara yang Dulu Mayoritas...
4 Negara yang Dulu Mayoritas Muslim Kini Jadi Minoritas
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved