Wakil Ketua MPR Tekankan Pentingnya Kebijakan Strategis Hadapi Ketidakpastian Global
Rabu, 11 Januari 2023 - 19:36 WIB
loading...
A
A
A
Meski begitu David menilai fundamental ekonomi nasional cukup baik, sehingga bila di luar negeri berpotensi terancam resesi di dalam negeri hanya terjadi perlambatan. Pada 2023, menurut David, masih merupakan masa pemulihan ekonomi pascapandemi, sehingga wajar bila terjadi perlambatan. "Mudah-mudahan angin yang datang ke Indonesia sepoi-sepoi saja, bukan badai ekonomi," ujar David.
Senior Research Analyst PT Reliance Sekuritas Indonesia Tbk, Lukman Hakim menilai pasar saham dalam negeri masih fluktuatif. "Cukup tertekan setelah Lebaran tahun lalu, kemudian mulai bangkit dan Indonesia diuntungkan pertumbuhan sektor batubara, sehingga dampak krisis geopolitik tidak terasa secara signifikan," ujarnya.
Diakui Lukman, saat ini pergerakan IHSG masih mencari arah dan diperkirakan tahun ini pasar saham sektor energi agak tertekan. Di sisi lain, sektor perbankan tumbuh dengan peningkatan kredit meski ada kenaikan suku bunga dan besaran NPL yang kembali normal. ”Permintaan sejumlah komoditas yang menunjukkan peningkatan juga akan mendorong pertumbuhan sektor logistik,” katanya.
Dosen Fakultas Ekonomika dan Bisnis UGM Diyah Putriani mengungkapkan proyeksi sejumlah lembaga keuangan Internasional untuk pertumbuhan ekonomi berkisar 4,7%-5%. Sedangkan pemerintah memroyeksikan pertumbuhan ekonomi 5,3% dengan syarat investasi tumbuh 6%. Padahal perekonomian Indonesia dipengaruhi kondisi global.
Diyah mengungkapkan, pada 2023 dunia diprediksi menghadapi badai ekonomi yang disebabkan inflasi tinggi dan daya beli masyarakat yang rendah. Menurut Diyah, faktor geopolitik dan global warming berpotensi mempengaruhi proyeksi pertumbuhan ekonomi di Tanah Air.
Penguatan di sektor UMKM, pemberdayaan perempuan dan Islamic social finance, menurut Diyah, bisa dilakukan untuk menjawab sejumlah tantangan tersebut.
Senior Research Analyst PT Reliance Sekuritas Indonesia Tbk, Lukman Hakim menilai pasar saham dalam negeri masih fluktuatif. "Cukup tertekan setelah Lebaran tahun lalu, kemudian mulai bangkit dan Indonesia diuntungkan pertumbuhan sektor batubara, sehingga dampak krisis geopolitik tidak terasa secara signifikan," ujarnya.
Diakui Lukman, saat ini pergerakan IHSG masih mencari arah dan diperkirakan tahun ini pasar saham sektor energi agak tertekan. Di sisi lain, sektor perbankan tumbuh dengan peningkatan kredit meski ada kenaikan suku bunga dan besaran NPL yang kembali normal. ”Permintaan sejumlah komoditas yang menunjukkan peningkatan juga akan mendorong pertumbuhan sektor logistik,” katanya.
Dosen Fakultas Ekonomika dan Bisnis UGM Diyah Putriani mengungkapkan proyeksi sejumlah lembaga keuangan Internasional untuk pertumbuhan ekonomi berkisar 4,7%-5%. Sedangkan pemerintah memroyeksikan pertumbuhan ekonomi 5,3% dengan syarat investasi tumbuh 6%. Padahal perekonomian Indonesia dipengaruhi kondisi global.
Diyah mengungkapkan, pada 2023 dunia diprediksi menghadapi badai ekonomi yang disebabkan inflasi tinggi dan daya beli masyarakat yang rendah. Menurut Diyah, faktor geopolitik dan global warming berpotensi mempengaruhi proyeksi pertumbuhan ekonomi di Tanah Air.
Penguatan di sektor UMKM, pemberdayaan perempuan dan Islamic social finance, menurut Diyah, bisa dilakukan untuk menjawab sejumlah tantangan tersebut.
(cip)