Merawat Optimisme Tahun 2023
Senin, 02 Januari 2023 - 09:16 WIB
loading...
A
A
A
Proyeksi Sri Mulyani tersebut sejalan dengan laporan World Economic Outlook: Countering The Cost of Living Crisis yang dirilis Dana Moneter Internasional (IMF). IMF melihat situasi 2023 merupakan profil pertumbuhan terlemah sejak 2001, kecuali masa pandemi Covid-19 dan krisis keuangan global.
Di tengah berbagai ramalan pesimisme kondisi perekonomian dunia, secercah harapan setidaknya tetap menyertai ucapan selamat datang tahun 2023. Dalam survei Ipsos yang bertajuk Global Predictions for 2023, pada 2022 setidaknya masih ada 65% responden yang optimistis kondisi tahun 2023 akan lebih baik dari tahun 2022. Dari hasil survei tersebut setidaknya bisa dibaca bahwa api optimisme itu masih ada dan harus terus dijaga dan dirawat untuk melewati tahun 2023.
Nada positif mengenai ekonomi dunia juga terdengar dari Bank Pembangunan Asia (ADB). Lembaga keuangan tersebutdalam prediksinya menyebutkan, beberapa negara terutama dari kawasan Asia, khususnya Asia Tenggara, masih cukup kuat menghadapi potensi resesi tahun 2023. Di Asia Tenggara, ADB melihat rata-rata pertumbuhan ekonomi diproyeksi berada di kisaran 5% pada 2023.
Proyeksi ini turun dibandingkan 5,2% yang dirilis ADB sebelumnya.Namun, ini adalah pertumbuhan yang tinggi jika dibandingkan dengan proyeksi pertumbuhan dunia dari World Bank (Bank Dunia). Bank Dunia meramal perekonomian global akan menyusut hingga 1,9%poin menjadi 0,5% pada 2023.
Bagaimana dengan Indonesia? Apakah sikap pesimis dan ancaman gelap ekonomi dunia juga sudah pasti merembet ke tanah air?
Secara kalkulatif potensi dampak resesi itu memang ada karena bagaimanapun Indonesia hidup dalam pergaulan masyarakat Internasional. Namun semua tentu tidak harus digebyah uyah atau digeneralisasi bahwa kondisi yang banyak dialami banyak negara di tahun 2023 diprediksi pasti juga akan menimpa Indonesia. Suram dan dalam jerat resesi. Mungkin itu kira-kira yang dikhwatirkan sejumlah kalangan mengenai kondisi Indonesia mengarungi tahun 2023.
Di tengah berbagai ramalan pesimisme kondisi perekonomian dunia, secercah harapan setidaknya tetap menyertai ucapan selamat datang tahun 2023. Dalam survei Ipsos yang bertajuk Global Predictions for 2023, pada 2022 setidaknya masih ada 65% responden yang optimistis kondisi tahun 2023 akan lebih baik dari tahun 2022. Dari hasil survei tersebut setidaknya bisa dibaca bahwa api optimisme itu masih ada dan harus terus dijaga dan dirawat untuk melewati tahun 2023.
Nada positif mengenai ekonomi dunia juga terdengar dari Bank Pembangunan Asia (ADB). Lembaga keuangan tersebutdalam prediksinya menyebutkan, beberapa negara terutama dari kawasan Asia, khususnya Asia Tenggara, masih cukup kuat menghadapi potensi resesi tahun 2023. Di Asia Tenggara, ADB melihat rata-rata pertumbuhan ekonomi diproyeksi berada di kisaran 5% pada 2023.
Proyeksi ini turun dibandingkan 5,2% yang dirilis ADB sebelumnya.Namun, ini adalah pertumbuhan yang tinggi jika dibandingkan dengan proyeksi pertumbuhan dunia dari World Bank (Bank Dunia). Bank Dunia meramal perekonomian global akan menyusut hingga 1,9%poin menjadi 0,5% pada 2023.
Bagaimana dengan Indonesia? Apakah sikap pesimis dan ancaman gelap ekonomi dunia juga sudah pasti merembet ke tanah air?
Secara kalkulatif potensi dampak resesi itu memang ada karena bagaimanapun Indonesia hidup dalam pergaulan masyarakat Internasional. Namun semua tentu tidak harus digebyah uyah atau digeneralisasi bahwa kondisi yang banyak dialami banyak negara di tahun 2023 diprediksi pasti juga akan menimpa Indonesia. Suram dan dalam jerat resesi. Mungkin itu kira-kira yang dikhwatirkan sejumlah kalangan mengenai kondisi Indonesia mengarungi tahun 2023.
Lihat Juga :