Mendefinisikan Muslim Moderat di Indonesia

Kamis, 22 Desember 2022 - 20:15 WIB
loading...
A A A
Dalam mendefinisikan Islam "moderat", beberapa sarjana mempertahankan beberapa sifat dan karakter seperti menerima pemerintahan demokratis, mendukung kebebasan sipil, mengakomodasi hukum Syari'at dan sekuler, dan memiliki pandangan terbuka dan toleran terhadap perspektif alternatif. Secara umum, muslim moderat dimaknai tidak radikal, dapat bekerja sama dengan pemerintah dan kelompok sosial dan politik lainnya untuk melawan radikalisme. Muslim moderat menganut kecocokan Islam dan demokrasi dan kebebasan individu yang kita semua hargai di Barat. Dengan nada yang sama, Schmid (2017) berpendapat bahwa Muslim moderat adalah Muslim yang toleran, tidak menggunakan kekerasan dan menerima nilai-nilai demokrasi. Selain itu, literatur ulasan tentang Muslim moderat juga menunjukkan bahwa Muslim moderat adalah Muslim yang mempraktikkan atau percaya pada "non-kekerasan dan liberalisme, diikuti oleh kepercayaan pada metode demokratis dan pluralis ditambah dengan semangat toleransi" (Rashid, 2020, hlm. 837).

Baca juga: Wapres Berharap UIII Jadi Pusat Rujukan Global Islam Moderat

Gagasan Muslim Moderat mulai banyak dikembangkan secara internasional. Misalnya, Amerika Serikat, yang sering diganggu oleh kaum radikal yang mendorong kekerasan yang diilhami agama, membutuhkan program untuk mendorong ideologi yang melawan jaringan ekstremisme. Dalam hal ini, ideologi dibangun tidak hanya pada konsep-konsep Barat, tetapi mengacu pada "tradisi dalam paradigma Islam yang terbuka, toleran dan pluralistik". Ketika tradisi ini dihidupkan dalam komunitas Muslim, ini akan mendorong gerakan akar rumput untuk perubahan. Namun, Mirahmadi dalam bukunya Navigating Islam in America menyatakan bahwa sejak pemerintah Amerika Serikat dengan penuh semangat mempromosikan demokrasi dan kebebasan, yang dengannya para sarjana menemukan diri mereka sebagai "moderat". Di sini, dibutuhkan kemampuan untuk menilai tulisan-tulisan para sarjana yang ditujukan untuk publik mereka, tidak hanya pada apa yang mereka sajikan kepada audiens Barat, karena seringkali ada kontras yang tajam antara pseudo-moderat untuk konsumsi publik dan apa yang mereka hasilkan untuk komunitas muslim.

Sementara itu, beberapa cendekiawan di negara itu juga telah menggunakan istilah muslim moderat dalam studi mereka. Misalnya, Umar (2016) menjelaskan bahwa Kementerian Luar Negeri RI telah mengampanyekan 'Islam Moderat' yang melekat pada demokrasi. Najib (2012) menjelaskan makna muslim moderat yang digunakan Nahdlatul Ulama (NU) lebih bersifat teologis daripada penggunaannya di Amerika yang bersifat politis dalam arti perang melawan teror. Dalam hal ini Zuhur (2008) menyatakan bahwa kaum moderat dalam konteks ini lebih tepat sebagai muslim sekuleris yang mengedepankan kebijakan dan perubahan dalam masyarakat muslim yang sesuai dengan tujuan Amerika Serikat. Terakhir, Kementerian Agama (Kemenag, 2019, hlm. 17-18) mendefinisikan moderasi sebagai "perspektif, sikap, dan perilaku selalu mengambil posisi di tengah, selalu bertindak adil, dan tidak ekstrem dalam beragama".

Singkatnya, Islam moderat adalah pemahaman atau pandangan bahwa Islam sesuai dengan demokrasi, mendukung kebebasan sipil, mengakomodasi hukum syari'at dan sekuler, serta memiliki pandangan terbuka dan toleran terhadap berbagai perspektif alternatif. Selain itu, umat Islam moderat menerapkan pola pikir, sikap dan perilaku yang selalu menempatkan dirinya di jalan tengah, selalu berbuat adil dan tidak mengikuti jalan ekstrem dalam memeluk agama. Apakah kita termasuk yang moderat tersebut?
(zik)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Nasaruddin Umar: Spirit...
Nasaruddin Umar: Spirit Kiai Wahab Hasbullah Relevan untuk Perkuat Pesantren dan NKRI
Bersyukur Menang Perang...
Bersyukur Menang Perang Lawan Amerika-Israel, Dubes Iran: Islam Menang Atas Musuh-musuhnya
Game Theory Konflik...
Game Theory Konflik Global: Islam Ajarkan Pemimpin Dunia Keputusan untuk Maslahat
Kementerian, TNI, dan...
Kementerian, TNI, dan Polri Kolaborasi Perkuat Moderasi Beragama
Rakernas BMBPSDM 2026,...
Rakernas BMBPSDM 2026, Menag Dorong Peningkatan Kompetensi SDM dan Teknologi
Riset Kemenag: Toleransi...
Riset Kemenag: Toleransi Beragama Gen Z Ungguli Milenial dan Baby Boomers
Khotbah Iduladha di...
Khotbah Iduladha di Lapangan Masjid Agung Al Azhar, Din Syamsuddin Tekankan Pentingnya Persatuan Umat Islam
Tinta Karbon dan Kulit...
Tinta Karbon dan Kulit Hewan Mewarnai Keunikan Al-Quran Berusia 1.000 Tahun
Kukuhkan Rumah Moderasi...
Kukuhkan Rumah Moderasi Beragama, Staf Khusus Menag: Terus Jaga Kerukunan
Rekomendasi
KKP Pertegas Komitmen...
KKP Pertegas Komitmen Perkuat Pengawasan pada Momentum Hari Internasional Anti IUU Fishing
Mossad Pasok Milisi...
Mossad Pasok Milisi Kurdi dengan Senjata yang Disita dari Hamas dan Hizbullah
Program CIMB Niaga Sustainability...
Program CIMB Niaga Sustainability Journalism Fellowship Memilih 20 Jurnalis
Berita Terkini
KontraS Kritik Tuntutan...
KontraS Kritik Tuntutan 2,5 Tahun Penjara untuk Terdakwa Penyiraman Andrie Yunus
Revisi UU Polri, Menteri...
Revisi UU Polri, Menteri Pigai Usulkan Sejumlah Jabatan Utama Bisa Diisi Sipil
Film Pesta Babi Bergeser...
Film Pesta Babi Bergeser dari Kritik Sosial Jadi Instrumen Kampanye Disintegrasi Papua
KPK Angkut Moge, Mobil...
KPK Angkut Moge, Mobil Mewah, dan Sepeda usai Geledah Rumah Silmy Karim
Ancam 6 Juta Tenaga...
Ancam 6 Juta Tenaga Kerja, Wacana Kemasan Polos Harus Dibatalkan
DPR Minta KAI Bereskan...
DPR Minta KAI Bereskan Dulu Konektivitas Sebelum Bangun Jalur Kereta Aceh-Lampung
Infografis
Skuad Timnas Spanyol...
Skuad Timnas Spanyol di Piala Dunia 2026, Tak Ada Pemain Real Madrid
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved