Kritis Pencemaran Lingkungan
Sabtu, 11 Juli 2020 - 06:05 WIB
loading...
A
A
A
Di Ibu Kota, uji emisi seharusnya menjadi kewajiban seperti tertera dalam Peraturan Daerah DKI Jakarta No 2/2005 tentang Pengendalian Pencemaran Udara. Menurut Ubaidillah, sumber pencemaran udara berasal dari aktivitas kawasan industri dan lalu lintas di luar Jakarta juga turut andil dalam membawa dampak pencemaran udara. Namun, dampak pencemaran udara di kawasan industri di dalam Jakarta juga tidak boleh diabaikan.
"Terutama di pesisir Jakarta Utara, mulai kawasan Kamal Muara sampai Cililitan pasti mengeluarkan emisi yang sangat besar. Kalau menyalahkan daerah-daerah lain tentu tidak bisa dengan asumsi, harus dilakukan penelitian lebih lanjut," ujarnya. (Baca juga: Dampak Penerapan PSBB, Kualitas Udara di Kota Cimahi Membaik)
Ubaidillah berharap lembaga atau institusi yang mengeluarkan data terkini terhadap polusi udara Jakarta lebih terbuka dalam kegiatan pemantauan dan teknologi yang digunakan. Hal tersebut bertujuan agar masyarakat dapat mengetahui seberapa besar validitas dan reliabilitas hasil tersebut untuk melakukan kegiatan.
Solusi yang bisa dilakukan untuk keluar dari permasalahan polusi udara dengan membangun atau mengembangkan kawasan pusat kota berbasis pergerakan manusia, yakni destination, distance, design, density, diversity, dan demand management.
Pengamat Perkotaan Nirwono Yoga menilai, menata ulang kawasan yang dilalui transportasi massal menjadi kawasan terpadu berbasis transit bisa menjadi solusi untuk menekan tingkat polusi udara yang diakibatkan dari emisi gas kendaraan.
Nirwono menambahkan, hendaknya Pemprov DKI Jakarta segera menerapkan jalan berbayar elektronik, perluasan kebijakan ganjil-genap, dan memperbanyak penanaman pohon yang bisa menyerap polutan di lingkungan kota.
Salah satu negara yang telah berhasil mengurangi polusi adalah China. Pemerintah China menggalakkan kembali penggunaan sepeda sebagai alat transportasi utama masyarakat. Upaya itu pun sejalan dengan perbaikan transportasi umum dengan memperbanyak bus dan trem yang menggunakan listrik.
Seperti dikutip dari The New York Times, cara tersebut berhasil menurunkan tingkat polusi udara. Terbukti, dalam kurun waktu empat tahun China telah berhasil memangkas tingkat partikulat udara rata-rata 32%.
"Terutama di pesisir Jakarta Utara, mulai kawasan Kamal Muara sampai Cililitan pasti mengeluarkan emisi yang sangat besar. Kalau menyalahkan daerah-daerah lain tentu tidak bisa dengan asumsi, harus dilakukan penelitian lebih lanjut," ujarnya. (Baca juga: Dampak Penerapan PSBB, Kualitas Udara di Kota Cimahi Membaik)
Ubaidillah berharap lembaga atau institusi yang mengeluarkan data terkini terhadap polusi udara Jakarta lebih terbuka dalam kegiatan pemantauan dan teknologi yang digunakan. Hal tersebut bertujuan agar masyarakat dapat mengetahui seberapa besar validitas dan reliabilitas hasil tersebut untuk melakukan kegiatan.
Solusi yang bisa dilakukan untuk keluar dari permasalahan polusi udara dengan membangun atau mengembangkan kawasan pusat kota berbasis pergerakan manusia, yakni destination, distance, design, density, diversity, dan demand management.
Pengamat Perkotaan Nirwono Yoga menilai, menata ulang kawasan yang dilalui transportasi massal menjadi kawasan terpadu berbasis transit bisa menjadi solusi untuk menekan tingkat polusi udara yang diakibatkan dari emisi gas kendaraan.
Nirwono menambahkan, hendaknya Pemprov DKI Jakarta segera menerapkan jalan berbayar elektronik, perluasan kebijakan ganjil-genap, dan memperbanyak penanaman pohon yang bisa menyerap polutan di lingkungan kota.
Salah satu negara yang telah berhasil mengurangi polusi adalah China. Pemerintah China menggalakkan kembali penggunaan sepeda sebagai alat transportasi utama masyarakat. Upaya itu pun sejalan dengan perbaikan transportasi umum dengan memperbanyak bus dan trem yang menggunakan listrik.
Seperti dikutip dari The New York Times, cara tersebut berhasil menurunkan tingkat polusi udara. Terbukti, dalam kurun waktu empat tahun China telah berhasil memangkas tingkat partikulat udara rata-rata 32%.
Lihat Juga :