Pesan Damai dari Piala Dunia
Kamis, 15 Desember 2022 - 15:22 WIB
loading...
A
A
A
Dalam konteks seperti di atas, Piala Dunia sejatinya menyiarkan nilai-nilai rekonsiliasi dan perdamaian. Di satu sisi, karena alasan Qatar sebagai Tuan Rumah Piala Dunia 2022 ini. Sepakbola yang sarat dengan nilai-nilai rekonsiliasi dan perdamaian ini sangat relevan disiarkan melalui Qatar sebagai tuan rumah. Dikatakan demikian, karena dalam beberapa tahun terakhir, Qatar acap memainkan peran dan politik mediasi demi terciptanya rekonsiliasi antara pihak-pihak yang berkonflik, baik di level regional Timur Tengah maupun di level global.
Apa yang terjadi dalam hubungan AS dengan Taliban di Afghanistan bisa dijadikan sebagai salah satu contoh dari politik mediasi yang dilakukan oleh Qatar. Jauh hari ini sebelum AS menarik pasukannya keluar dari Afghanistan (30/08), Qatar sudah kerap memediasi pertemuan demi pertemuan antara perwakilan AS dengan perwakilan Taliban maupun Afghanistan secara umum. Hingga akhirnya AS benar-benar meninggalkan Afghanistan yang dipenuhi dengan pelbagai macam kejutan; dimulai dari pemandangan pergerakan manusia yang sampai memenuhi sayap-sayap pesawat (16/08) hingga kembalinya Taliban ke tampuk kekuasaan tanpa perlawanan dari Ashraf Ghani sebagai Presiden Afghanistan kala itu.
Contoh lain dari politik mediasi yang kerap dilakukan Qatar dalam beberapa tahun terakhir adalah konflik internal antara faksi-faksi di Palestina, khususnya antara Hamas dengan Fatah. Telah dimaklumi bersama, hubungan antara fraksi-fraksi di Palestina sangat rawan, khususnya antara Hamas dan Fatah sebagai dua faksi terbesar di sana. Sejauh ini Qatar terus melakukan dukungan dan upaya untuk menciptakan rekonsiliasi yang lebih permanen antara pihak-pihak yang berada di Palestina.
Sementara di sisi lain, dikatakan sarat dengan nilai-nilai rekonsiliasi dan perdamaian karena sepakbola meniscayakan adanya kerja sama tim secara kolektif, dimulai dari kiper hingga penyerang yang garang di depan gawang lawan. Dalam bentuk permainan kolektif seperti ini, adanya rekonsiliasi dan kekompakan di internal tim menjadi harga mati.
Dengan kata lain, tidak akan ada tim sepakbola yang berhasil melewati fase demi fase bila tidak ada kekompakan dan kebersamaan di dalamnya, terlebih konflik terbuka antara satu pemain dengan pemain yang lain (termasuk antara pemain dengan pelatih atau pihak manajemen tim). Tim-tim besar dengan banyak pemain bintang yang telah pulang lebih dulu bisa dijadikan sebagai contoh dari yang disampaikan di atas, seperti Belgia dan Portugal. Dan pada akhirnya, dalam sepakbola, tim yang juara adalah mereka yang memiliki soliditas, kekompakan dan ditopang oleh keahlian masing-masing pemain.
Di luar nilai-nilai rekonsiliasi, sepakbola juga bersifat antikekerasan. Sepakbola mengharamkan aksi kekerasan dan pelanggaran aturan, bahkan demi alasan kemenangan sekalipun. Bila permainan ini dilakukan melalui aksi kekerasan dan melanggar aturan yang ada, maka hukuman tegas menanti dari sang wasit.
Apa yang terjadi dalam hubungan AS dengan Taliban di Afghanistan bisa dijadikan sebagai salah satu contoh dari politik mediasi yang dilakukan oleh Qatar. Jauh hari ini sebelum AS menarik pasukannya keluar dari Afghanistan (30/08), Qatar sudah kerap memediasi pertemuan demi pertemuan antara perwakilan AS dengan perwakilan Taliban maupun Afghanistan secara umum. Hingga akhirnya AS benar-benar meninggalkan Afghanistan yang dipenuhi dengan pelbagai macam kejutan; dimulai dari pemandangan pergerakan manusia yang sampai memenuhi sayap-sayap pesawat (16/08) hingga kembalinya Taliban ke tampuk kekuasaan tanpa perlawanan dari Ashraf Ghani sebagai Presiden Afghanistan kala itu.
Contoh lain dari politik mediasi yang kerap dilakukan Qatar dalam beberapa tahun terakhir adalah konflik internal antara faksi-faksi di Palestina, khususnya antara Hamas dengan Fatah. Telah dimaklumi bersama, hubungan antara fraksi-fraksi di Palestina sangat rawan, khususnya antara Hamas dan Fatah sebagai dua faksi terbesar di sana. Sejauh ini Qatar terus melakukan dukungan dan upaya untuk menciptakan rekonsiliasi yang lebih permanen antara pihak-pihak yang berada di Palestina.
Sementara di sisi lain, dikatakan sarat dengan nilai-nilai rekonsiliasi dan perdamaian karena sepakbola meniscayakan adanya kerja sama tim secara kolektif, dimulai dari kiper hingga penyerang yang garang di depan gawang lawan. Dalam bentuk permainan kolektif seperti ini, adanya rekonsiliasi dan kekompakan di internal tim menjadi harga mati.
Dengan kata lain, tidak akan ada tim sepakbola yang berhasil melewati fase demi fase bila tidak ada kekompakan dan kebersamaan di dalamnya, terlebih konflik terbuka antara satu pemain dengan pemain yang lain (termasuk antara pemain dengan pelatih atau pihak manajemen tim). Tim-tim besar dengan banyak pemain bintang yang telah pulang lebih dulu bisa dijadikan sebagai contoh dari yang disampaikan di atas, seperti Belgia dan Portugal. Dan pada akhirnya, dalam sepakbola, tim yang juara adalah mereka yang memiliki soliditas, kekompakan dan ditopang oleh keahlian masing-masing pemain.
Di luar nilai-nilai rekonsiliasi, sepakbola juga bersifat antikekerasan. Sepakbola mengharamkan aksi kekerasan dan pelanggaran aturan, bahkan demi alasan kemenangan sekalipun. Bila permainan ini dilakukan melalui aksi kekerasan dan melanggar aturan yang ada, maka hukuman tegas menanti dari sang wasit.
Lihat Juga :