Piala Dunia, Qatarphobia, dan Palestina
Selasa, 13 Desember 2022 - 12:45 WIB
loading...
A
A
A
Oleh karena itu, bisa dikatakan Qatar dan Iran berada di garis terdepan dalam konsistensi menyuarakan problem Palestina melawan Israel. Di tengah penindasan Israel atas rakyat dan kedaulatan Palestina, pembelaan dua negara ini adalah oase di antara kenyataan pahit makin mesranya negara-negara petrodollar Arab dengan Israel.
Bersamaan dengan momen Piala Dunia, Israel terus melakukan penggusuran dan ekspansi masif warganya ke wilayah pendudukan mereka di Palestina. Serangkaian pembunuhan keji Israel terhadap warga Palestina di Hebron dan Jenin dalam beberapa hari ini terasa menjadi aktivitas biasa akibat dinginnya tanggapan media Barat.
Dalam relasi demikian, tekanan dan kenyinyiran media Barat pada Qatar sesungguhnya dapat dilihat sebagai bagian dari desakan terhadap keberpihakan Qatar pada Palestina. Mengambil risiko anggapan politisasi olahraga, Qatar menempatkan bendera Palestina dan imej digitalnya pada berbagai Gedung di Doha.
Terang, hal ini membuat media Barat pro Israel gerah dan berang. Meski demikian, Qatar menimbang perlawanan terhadap politik apartheid dan kesewenang-wenangan Israel, ditambah cuek dan arogansi media Barat, lebih penting ketimbang risiko politisasi olahraga.
Sementara itu, warga Arab juga menunjukkan dukungan pada Palestina dengan melakukan penolakan terhadap tawaran wawancara jurnalis Israel. Penolakan masyarakat Arab untuk memberikan respons terhadap konfirmasi jurnalis Israel menunjukkan sikap yang jelas: terdapat jurang dan perbedaan yang nyata antara keputusan pemerintah dan apa yang berlangsung di jalanan sebagai aspirasi warga.
Penolakan berbagai kalangan terhadap jurnalis Israel adalah juga cara warga Arab untuk menunjukkan bahwa Palestina tetap berada dalam hati dan benak masyarakat Arab, meski aparatus pemerintahan beberapa negara Arab menormalisasi hubungan dengan Israel.
Palestina adalah titik didih masalah Timur Tengah namun mampu menyatukan sentimen persatuan Arab, setidaknya dalam diri para suporter sepak bola.
Bersamaan dengan momen Piala Dunia, Israel terus melakukan penggusuran dan ekspansi masif warganya ke wilayah pendudukan mereka di Palestina. Serangkaian pembunuhan keji Israel terhadap warga Palestina di Hebron dan Jenin dalam beberapa hari ini terasa menjadi aktivitas biasa akibat dinginnya tanggapan media Barat.
Dalam relasi demikian, tekanan dan kenyinyiran media Barat pada Qatar sesungguhnya dapat dilihat sebagai bagian dari desakan terhadap keberpihakan Qatar pada Palestina. Mengambil risiko anggapan politisasi olahraga, Qatar menempatkan bendera Palestina dan imej digitalnya pada berbagai Gedung di Doha.
Terang, hal ini membuat media Barat pro Israel gerah dan berang. Meski demikian, Qatar menimbang perlawanan terhadap politik apartheid dan kesewenang-wenangan Israel, ditambah cuek dan arogansi media Barat, lebih penting ketimbang risiko politisasi olahraga.
Sementara itu, warga Arab juga menunjukkan dukungan pada Palestina dengan melakukan penolakan terhadap tawaran wawancara jurnalis Israel. Penolakan masyarakat Arab untuk memberikan respons terhadap konfirmasi jurnalis Israel menunjukkan sikap yang jelas: terdapat jurang dan perbedaan yang nyata antara keputusan pemerintah dan apa yang berlangsung di jalanan sebagai aspirasi warga.
Penolakan berbagai kalangan terhadap jurnalis Israel adalah juga cara warga Arab untuk menunjukkan bahwa Palestina tetap berada dalam hati dan benak masyarakat Arab, meski aparatus pemerintahan beberapa negara Arab menormalisasi hubungan dengan Israel.
Palestina adalah titik didih masalah Timur Tengah namun mampu menyatukan sentimen persatuan Arab, setidaknya dalam diri para suporter sepak bola.
(bmm)
Lihat Juga :