Waspada Potensi Nyata Gempa di Sekitar Kita

Rabu, 07 Desember 2022 - 11:39 WIB
loading...
Waspada Potensi Nyata Gempa di Sekitar Kita
Kewaspadaan terhadap potensi gempa bumi perlu terus ditingkatkan, termasuk memperketat syarat pendirian bangunan di wilayah yang masuk dalam lintasan sesar aktif . (KORAN SINDO/Wawan Bastian)
A A A
GEMPA bumi di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, Senin (21/11/2022), semakin membuka kesadaran masyarakat bahwa potensi bencana begitu dekat dan bahkan nyata. Apalagi pascakejadian di Cianjur, secara beruntun, gempa-gempa lain mengguncang di sejumlah wilayah. Seperti di Garut pada Sabtu (3/12/2022), Tasikmalaya dan Gunungkidul, pada Minggu (4/12/2022).

Bahkan pada saat Tasikmalaya dan Gunungkidul terjadi gempa, Gunung Semeru di Jawa Timur juga meletus cukup besar. Hingga kemarin, status Semeru masih ditetapkan dalam kategori “awas” karena melihat besarnya letusan berikut potensi ancamannya.

Kejadian terbaru, gempa bumi mengguncang Jember, Jawa Timur dan Magelang, Jawa Tengah pada Selasa (6/12). Gempa Jember yang bermagnitudo 6,2 tersebut bahkan terasa getarannya hinggakeBali. Episenter gempa bumi disebutkan berlokasi di laut pada jarak 223 km arah selatan Kota Jember, pada kedalaman 10 km.

Sedangkan gempa di Magelang Selasa pagi bermagnitudo 2. MenurutBadan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), pusat gempa berjarak delapan kilometer ke arah tenggara Magelang dan berada pada kedalaman 14 kilometer dan termasuk dalam kategori gempa kerak dangkal.

Baca berita menarik lainnya di e-paper koran-sindo.com

Apakah rentetan gempa setelah di Cianjur dan letusan di Semeru ada keterkaitan? Hingga kini belum ada penelitian atau data valid menjelaskan hal itu. Namun menurut sejumlah ahli, bisa jadi ada keterkaitan antara gempa yang satu dengan lainnya seperti dipengaruhi pergeseran lempeng dan lain sebagainya.

Gempa bumi memang membutuhkan penelitian yang sangat mendalam dan panjang. Bahkan, begitu kompleksnya ilmu tentang kegempaan tersebut, hingga kini belum ada pengetahuan yang mumpuni untuk memastikan kapan gempa akan terjadi. Para ahli, dengan berbasis rumus-rumus tertentu, sementara hanya bisa menghitung adanya potensi gempa di suatu wilayah tertentu. Itu pun tidak final.

Gempa Cianjur misalnya, sejumlah ahli BMKG menduga karena patahan di Sesar Cimandiri. Namun, beberapa hari terakhir, sejumlah ahli lain seperti Guru Besar Fakultas Teknik Pertambangan dan Perminyakan ITB Sri Budiantoro dan timnya menilai, gempa itu bagian dari gangguan di Sesar Baribis. Bahkan, Sesar Baribis ini disebut-sebut menyimpan potensi guncangan sangat dahsyat atau yang dikenal megathrust.

Gempa besar ini bisa berkekuatan 9,1 magnitudo. Sesar ini membentang dari Banten hingga Jawa Barat. Sesar yang melewati daerah selatan Jakarta ini pulalah dinilai menyimpan potensi gempa besar yang dampaknya membahayakan bagi warga Jabodetabek. Ancaman megathrust juga terdapat di bagian timur Pulau Jawa.

Di tengah keterbatasan-keterbatasan yang ada, faktanya, gempa telah banyak terjadi di sekitar kita dalam waktu berdekatan ini. Bahkan, sebagian gempa, tingkat guncangannya juga bersesuaian dengan prediksi sejumlah ilmuan. Gempa Cianjur dengan magnitudo 5,6 misalnya, telah jauh hari diprediksi para ahli memang berkekuatan besar.

Gempa Cianjur yang mengakibatkan lebih dari 300 orang meninggal dunia dan puluhan ribu rumah atau bangunan hancur menyisakan kedukaan dan keprihatinan mendalam. Pada saat yang sama, musibah ini patut menjadi pelajaran berharga bangsa ini untuk semakin waspada dan tanggap terhadap gempa.

Mitigasi atas potensi gempa di antaranya menjadi kunci. Pengaturan tata ruang, regulasi konstruksi bangunan misalnya sudah saatnya dikawal ketat. Para ahli saat ini sudah mampu memetakan prediksi peta sesar, apakah itu Cimandiri ataukah Baribis misalnya. Berbasis peta itu, maka tata ruang di sepanjang sesar juga diatur agar aman jika sewaktu-waktu gempa mengguncang. Demikian juga regulasi baru yang kuat dan mengikat juga tak bisa ditinggalkan.

Mengatur tata ruang baru yang berkesesuaian dengan peta potensi gempa ini tentu bukan hal enteng. Sebab, di lapangan pasti akan banyak bertabrakan dengan aspek sosial, budaya, kearifan lokal hingga legal sekalipun. Untuk itu, secara simultan pemahaman atau literasi tentang potensi gempa bagi masyarakat rawan ini adalah sebuah keniscayaan. Apalagi, bukti-bukti adanya gempa besar itu sebagian telah menjadi nyata.
(bmm)
Komentar
Copyright © 2023 SINDOnews.com
read/ rendering in 0.3227 seconds (10.177#12.26)