Politikus PDIP Utut Adianto Penuhi Panggilan KPK

Jum'at, 25 November 2022 - 12:34 WIB
loading...
Politikus PDIP Utut Adianto Penuhi Panggilan KPK
Wakil Ketua Komisi I DPR Utut Adianto memenuhi panggilan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Jumat (25/11/2022). FOTO/MPI/ARIE DWI
A A A
JAKARTA - Wakil Ketua Komisi I DPR Utut Adianto memenuhi panggilan Komisi Pemberantasan Korupsi ( KPK ), Jumat (25/11/2022). Politikus Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) itu bakal diminta keterangan sebagai saksi terkait kasus dugaan suap Rektor nonaktif Universitas Lampung (Unila), Karomani (KRM).

"Iya betul. Drs Utut Adianto (Anggota DPR), saat ini saksi telah hadir," kata Kabag Pemberitaan KPK Ali Fikri saat dikonfirmasi, Jumat (25/11/2022).

Selain Utut, penyidik juga mengagendakan pemeriksaan terhadap dua saksi lainnya pada hari ini. Keduanya adalah karyawan swasta, Mustopa Endi Saputra Hasibuan dan seorang pedagang, Umum Marlia.



Belum diketahui apa yang bakal didalami penyidik dari keterangan para saksi tersebut. Namun belakangan, KPK sedang mengembangkan kasus dugaan suap terkait penerimaan calon mahasiswa baru. KPK membuka peluang menjerat pihak lain dalam kasus ini jika ditemukan bukti permulaan yang cukup.

Sejauh ini, KPK baru menetapkan empat orang sebagai tersangka kasus dugaan suap terkait penerimaan calon mahasiswa baru di Unila tahun 2022. Mereka adalah Rektor nonaktif Unila, Karomani (KRM); Wakil Rektor (Warek) 1 Bidang Akademik Unila, Heryandi (HY); Ketua Senat Unila, M Basri (MB); serta pihak swasta, Andi Desfiandi (AD).

Karomani, Heryandi, dan Basri, ditetapkan sebagai tersangka penerima suap. Sedangkan Andi Desfiandi, tersangka pemberi suap.

Baca juga: KPK Kembali Perpanjang Masa Tahanan Rektor Unila Karomani 30 Hari ke Depan

Dalam perkara ini, Karomani diduga mematok atau memasang tarif Rp100 juta hingga Rp350 juta bagi para orang tua yang menginginkan anaknya masuk di Unila. Karomani diduga telah berhasil mengumpulkan Rp5 miliar dari tarif yang ditentukan tersebut.

Adapun, uang dugaan suap itu diterima Karomani melalui sejumlah pihak perantara, di antaranya, Heryandi dan M Basri. Salah satu pihak swasta yang menyuap Karomani yakni, Andi Desfiandi.

Atas perbuatannya, Andi selaku pemberi suap disangkakan melanggar Pasal 5 ayat 1 huruf a atau huruf b atau Pasal 13 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2001.

Sedangkan Karomani, Heryandi, dan M Basri, selaku penerima suap disangkakan melanggar Pasal 12 huruf a atau huruf b atau Pasal 11 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 31 Tahun 199 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2001 Jo Pasal 55 ayat 1 ke 1 KUHP.
(abd)
Komentar
Copyright © 2022 SINDOnews.com
read/ rendering in 0.1411 seconds (10.101#12.26)