Perjuangan Pangeran Diponegoro di Tanah Jawa hingga Wafat di Bumi Celebes
Selasa, 15 November 2022 - 15:28 WIB
loading...
Perjuangan Pangeran Diponegoro di Tanah Jawa hingga wafat di Bumi Celebes diulas dalam artikel ini. Foto/Dok.SINDOnews
A
A
A
JAKARTA - Perjuangan Pangeran Diponegoro di Tanah Jawa hingga wafat di Bumi Celebes diulas dalam artikel ini. Pangeran Diponegoro merupakan simbol perlawanan Indonesia dalam melawan penjajah Belanda di Tanah Jawa.
Pangeran Diponegoro dikenal karena memimpin Perang Jawa untuk mengusir para penjajah. Putra dari Sri Sultan Hamengku Buwono III dan RA Mangkarawati lahir dengan nama asli Raden Mas Ontowiryo memimpin Perang Jawa atau yang lebih dikenal sebagai Perang Diponegoro ini mulai tahun 1825 hingga 1830.
Berdasarkan catatan sejarah, Perang Diponegoro merupakan perang yang paling banyak memakan korban jiwa dalam sejarah perjuangan Indonesia yakni 7.000 korban pribumi dan 8.000 korban Belanda. Tidak hanya itu, tercatat ada lebih dari 200 ribu orang mengalami kerugian materi.
Baca juga: Sosok Ini yang Membujuk Pangeran Diponegoro Mau Bertemu Belanda
Perang Diponegoro bermula ketika Pangeran tidak sepakat adanya campur tangan Belanda dalam urusan kerajaan, hingga pada 1821 banyak petani yang menderita akibat penyalahgunaan penyewaan tanah oleh Belanda dan beberapa negara lain seperti Prancis, Jerman, hingga Inggris.
Pangeran Diponegoro dikenal karena memimpin Perang Jawa untuk mengusir para penjajah. Putra dari Sri Sultan Hamengku Buwono III dan RA Mangkarawati lahir dengan nama asli Raden Mas Ontowiryo memimpin Perang Jawa atau yang lebih dikenal sebagai Perang Diponegoro ini mulai tahun 1825 hingga 1830.
Berdasarkan catatan sejarah, Perang Diponegoro merupakan perang yang paling banyak memakan korban jiwa dalam sejarah perjuangan Indonesia yakni 7.000 korban pribumi dan 8.000 korban Belanda. Tidak hanya itu, tercatat ada lebih dari 200 ribu orang mengalami kerugian materi.

Baca juga: Sosok Ini yang Membujuk Pangeran Diponegoro Mau Bertemu Belanda
Perang Diponegoro bermula ketika Pangeran tidak sepakat adanya campur tangan Belanda dalam urusan kerajaan, hingga pada 1821 banyak petani yang menderita akibat penyalahgunaan penyewaan tanah oleh Belanda dan beberapa negara lain seperti Prancis, Jerman, hingga Inggris.
Lihat Juga :