Dewan Pers Luncurkan Aplikasi Pengaduan Elektronik untuk Permudah Proses Kontrol Karya Jurnalistik

Senin, 31 Oktober 2022 - 19:28 WIB
loading...
Dewan Pers Luncurkan Aplikasi Pengaduan Elektronik untuk Permudah Proses Kontrol Karya Jurnalistik
Dewan Pers meluncurkan aplikasi pengaduan elektronik untuk mempermudah proses kontrol karya jurnalistik. Foto/MNC Media
A A A
JAKARTA - Dewan Pers meluncurkan aplikasi pengaduan berbasis elektronik. Peluncuran aplikasi ini bertujuan untuk mempermudah proses pengaduan dan kontrol terhadap karya pers.

Plt. Ketua Dewan Pers, M. Agung Dharmajaya mengatakan, dengan adanya aplikasi ini maka proses pengaduan dapat dilakukan dengan lebih sederhana dan mudah. “Kami ingin peran serta masyarakat dalam kontrol pers terus dilakukan demi produk pers lebih berkualitas. Kami juga sudah menyiapkan aplikasi pengaduan berbasis eletronik yang simple,” ujarnya di Jakarta Senin (31/10/2022).

Dengan hadirnya aplikasi pengaduan eletronik ini, Dewan Pers menargetkan mulai Januari 2023 proses pengaduan manual dan melalui email akan dihilangkan bertahap. “November-Desember 2022 masih bisa manual dan email, tapi Januari 2023 Dewan Pers hanya menerima pengaduan lewat LPE (Laporan Pengaduan Elektronik) yang sudah kami siapkan,” kata Agung.

Baca juga: Dewan Pers Bersyukur Minat Wartawan Tingkatkan Kompetensi Diri Tinggi

Menurut Agung, LPE siap merespons dengan cepat proses pengaduan yang ada sekaligus mengantisipasi situasi jelang kontestasi politik yang akan dimulai tahun depan. Dewan Pers berharap, dengan peran serta dari publik, perusahaan media akan terus memperbaiki karya persnya agar sesuai dengan Kode Etik Jurnalistik dan berdampak positif bagi publik.

Baca juga: Dewan Pers: Kekerasan Digital terhadap Jurnalis dan Media Tak Bisa Dibiarkan

Di sisi lain, Dewan Pers juga terus melakukan proses mediasi sengketa pers. Hingga Oktober 2022, terdapat 583 kasus pengaduan terkait karya jurnalistik yang diajukan ke Dewan Pers. Hingga kini, sebanyak 499 kasus berhasil diselesaikan dengan mediasi. Artinya, penyelesaian kasus sudah di atas angka 85%.

“Dari kasus-kasus pers yang diadukan, rata-rata terkait pelanggaran etik berupa karya pers tanpa verifikasi dan cover both side,” ujar Ketua Komisi Pengaduan dan Penegakan Etika Pers, Yadi Hendriana.

Dewan Pers mencatat, dominasi platform yang banyak diadukan adalah media cyber atau media online. Menurut Yadi, jumlahnya bahkan hingga mencapai lebih dari 95%. Ini menjadi sebuah catatan khusus bagi pengelola media online untuk tetap patuh dan tunduk pada Kode Etik Jurnalistik. Apalagi, dalam pantauan Dewan Pers, umumnya redaksi media online harus mengelola lebih dari 600 artikel/konten berita dalam satu hari.

“Dengan konten yang begitu banyak di-manage, mau tidak mau masing-masing newsroom harus memperkuat kontrol berita, proses editing, dan penegakan kode etik di redaksi masing-masing,” pungkas Yadi.

Dari data Dewan Pers, pada periode Januari hingga 31 Oktober 2022, sebanyak 499 kasus pengaduan yang dimediasi berhasil diselesaikan melalui Risalah (78 kasus), Pernyataan Penilaian dan Rekomendasi (31 kasus), Surat (331 kasus), dan Arsip (59 kasus). Total pertemuan mediasi/klarifikasi sebanyak 104 kali. Sementara target penyelesaian pada 2022 adalah sebanyak 90% kasus selesai.
(cip)
Komentar
Copyright © 2022 SINDOnews.com
read/ rendering in 0.1997 seconds (10.177#12.26)