Deretan Tokoh Pejuang Diplomasi Indonesia yang Diakui Dunia
Rabu, 05 Oktober 2022 - 19:45 WIB
loading...
A
A
A
6. Mohammad Roem
Meskipun kiprahnya tidak terlalu menonjol seperti tokoh lainnya, Mohammad Roem juga merupakan tokoh penting perjuangan diplomasi Indonesia. Banyak upaya diplomasi yang pernah dia lakukan, di antaranya menjadi ketua delegasi di perundingan Roem-Royen, anggota delegasi RI dalam perundingan Linggarjati, dan anggota delegasi RI dalam perundingan Renville.
Dalam perundingan-perundingan tersebut, Mohammad Roem selalu mengupayakan hak-hak Indonesia, termasuk menghimpun dukungan dari negara-negara lain atas kemerdekaan yang telah diproklamirkan Indonesia.
7. Nara Masista Rakhmatia
Nara Masista Rakhmatia merupakan diplomat Indonesia yang berhasil mencuri perhatian dalam Sidang PBB di New York 2016. Perempuan kelahiran Desember 1982 ini berhasil membungkam tudingan kepala negara di Kepulauan Pasifik terkait kondisi HAM di Papua dan Papua Barat.
Pada sidang tersebut, enam negara di Kepulauan Pasifik yang terdiri dari Kepulauan Marshall, Kepulauan Solomon, Nauru, Tonga, Tuvalu, dan Vanuatu secara blak-blakan menyatakan keprihatinan tentang pelanggaran hak asasi manusia (HAM) di Papua. Negara-negara itu menyerukan kebebasan bagi Papua Barat untuk menentukan nasibnya sendiri.
Mendapat serangan seperti itu, Nara tidak gentar. Dia bahkan mampu menjawabnya dengan tegas dan berani. Nara mengatakan bahwa kritik itu bermotif politik dan dirancang untuk mengalihkan perhatian dari masalah negara mereka sendiri.
8. Ainan Nuran
Tidak hanya Nara Masista Rakhmatia, Ainan Nuran juga turut memberi ‘pukulan’ kepada perwakilan Vanuatu dalam Sidang Umum PBB pada 2017. Ainan Nuran merupakan perwakilan Indonesia yang membacakan hak jawab dalam sesi debat umum. Ainan mengatakan sudah banyak hoaks dan dugaan keliru yang diedarkan oleh individu-individu yang termotivasi untuk melakukan aksi separatis di Papua dan Papua Barat.
Selain itu, Ainan juga mengatakan negara-negara yang proseparatis tidak mengerti atau bahkan menolak untuk mengerti tentang pembangunan di Papua dan Papua Barat. Setelah menyampaikan pendapatnya, Ainan pun menutup dengan peribahasa umum di Indonesia yang kemudian diterjemahkan ke bahasa Inggris.
Meskipun kiprahnya tidak terlalu menonjol seperti tokoh lainnya, Mohammad Roem juga merupakan tokoh penting perjuangan diplomasi Indonesia. Banyak upaya diplomasi yang pernah dia lakukan, di antaranya menjadi ketua delegasi di perundingan Roem-Royen, anggota delegasi RI dalam perundingan Linggarjati, dan anggota delegasi RI dalam perundingan Renville.
Dalam perundingan-perundingan tersebut, Mohammad Roem selalu mengupayakan hak-hak Indonesia, termasuk menghimpun dukungan dari negara-negara lain atas kemerdekaan yang telah diproklamirkan Indonesia.
7. Nara Masista Rakhmatia
Nara Masista Rakhmatia merupakan diplomat Indonesia yang berhasil mencuri perhatian dalam Sidang PBB di New York 2016. Perempuan kelahiran Desember 1982 ini berhasil membungkam tudingan kepala negara di Kepulauan Pasifik terkait kondisi HAM di Papua dan Papua Barat.
Pada sidang tersebut, enam negara di Kepulauan Pasifik yang terdiri dari Kepulauan Marshall, Kepulauan Solomon, Nauru, Tonga, Tuvalu, dan Vanuatu secara blak-blakan menyatakan keprihatinan tentang pelanggaran hak asasi manusia (HAM) di Papua. Negara-negara itu menyerukan kebebasan bagi Papua Barat untuk menentukan nasibnya sendiri.
Mendapat serangan seperti itu, Nara tidak gentar. Dia bahkan mampu menjawabnya dengan tegas dan berani. Nara mengatakan bahwa kritik itu bermotif politik dan dirancang untuk mengalihkan perhatian dari masalah negara mereka sendiri.
8. Ainan Nuran
Tidak hanya Nara Masista Rakhmatia, Ainan Nuran juga turut memberi ‘pukulan’ kepada perwakilan Vanuatu dalam Sidang Umum PBB pada 2017. Ainan Nuran merupakan perwakilan Indonesia yang membacakan hak jawab dalam sesi debat umum. Ainan mengatakan sudah banyak hoaks dan dugaan keliru yang diedarkan oleh individu-individu yang termotivasi untuk melakukan aksi separatis di Papua dan Papua Barat.
Selain itu, Ainan juga mengatakan negara-negara yang proseparatis tidak mengerti atau bahkan menolak untuk mengerti tentang pembangunan di Papua dan Papua Barat. Setelah menyampaikan pendapatnya, Ainan pun menutup dengan peribahasa umum di Indonesia yang kemudian diterjemahkan ke bahasa Inggris.
(cip)
Lihat Juga :