Alasan BJ Habibie di Balik Putusan Jajak Pendapat Timtim hingga Akhirnya Lepas dari RI

Minggu, 11 September 2022 - 10:43 WIB
loading...
Alasan BJ Habibie di...
Presiden BJ Habibie menerima kunjungan Uskup di Dili, Timor Timur, Carlos Filipe Ximenes Belo pada 24 Juni 1998. FOTO/SETNEG/REPRO BUKU Bacharuddin Jusuf Habibie, Detik-Detik yang Menentukan
A A A
JAKARTA - Alasan Presiden BJ Habibie di balik putusan jajak pendapat Timor Timur masih banyak dipertanyakan hingga saat ini. Jajak pendapat yang digelar pada 30 Agustus 1999 membuat Bumi Lorosae itu berpisah dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan berubah nama menjadi Timor Leste.

Timor Timur merupakan provinsi termuda kala itu di Indonesia. Daerah beribu kota di Dili itu berdiri pada 17 Juli 1976. Sebelum menjadi bagian NKRI, Timor Timur merupakan daerah jajahan Portugal dari tahun 1702 hingga 1975 yang bernama Timor Portugis.

Pada 1974, Portugal melakukan proses dekolonisasi bertahap, termasuk di Timor Portugis. Situasi ini memicu konflik sipil di beberapa wilayah Timor Portugis.



Konflik sipil yang terjadi di Timor Portugis memunculkan keinginan sebagian warganya untuk bergabung ke negara terdekat Indonesia. Mereka kemudian melakukan Deklarasi Balibo pada 30 November 1975. Deklarasi itu disampaikan oleh Francisco Xavier Lopes da Cruz, mewakili tiga partai di Timor Portugis, yakni Partai Klibur Oan Timor Asu'wain (KOTA), Uni Demokrasi Timor (UDT), dan Associacao Popular Democratica de Timor Pro Referendo (APODETI).

Deklarasi Balibo menjadi legitimasi bagi Indonesia mengirimkan pasukan untuk menaklukkan Timor Portugis dan menggabungkannya ke dalam wilayah NKRI. Timor Portugis resmi menjadi provinsi ke-27 pada 17 Juli 1976. Namanya diubah menjadi Timor Timur.

Ada empat tokoh yang pernah menjadi Gubernur Timor Timur. Mereka adalah Arnaldo dos Reis Araujo (3 Agustus 1976-19 September 1978), Guilherme Maria Goncalves (19 September 1978-18 September 1982), Mario Viegas Carascalao (18 September 1982-18 September 1987, 18 September 1987-18 September 1992), dan Jose Abilio Osorio Soares (18 September 1997-19 Oktober 1999).

Dalam buku berjudul Bacharuddin Jusuf Habibie, Detik-Detik yang Menentukan, ada dua hal mengapa Timor Portugis dibiarkan masuk ke dalam wilayah NKRI. Pertama, the Fall of Vietnam dan the Flower Revolution di Portugal yang dikuasai kelompok kiri.

Baca juga: Operasi Seroja di Timor Timur, 16 Prajurit Kopassus Gugur saat Merebut Kota Dili

Waktu itu, Amerika Serikat belum lama menarik pasukan dari Vietnam Selatan sebagai imbas berakhirnya Perang Vietnam. Vietnam Selatan dan Vietnam Utara bergabung dan mengambil haluan komunisme. Di saat hampir bersamaan terjadi Revolusi Bunga (the Flower Revolution) di Portugal yang menyebabkan distabilitas politik di dalam negeri, sehingga terjadi pemberontakan di negara koloni.

Alasan kedua mengapa Indonesia dibiarkan menguasai Timor Portugis adalah adanya kekhawatiran wilayah itu dijadikan pangkalan kapal perang dan kapal udara Blok Komunis di tengah NKRI yang antikomunis dan di dekat Australia.

"Terjadinya kevakuman pemerintah Portugal di Timor Portugis dapat mengakibatkan destabilisasi daerah jajahan Portugal, sehingga memberi peluang kepada gerakan dan kekuatan kiri untuk merealisasi terjadinya pangkalan komunis dan komunisme," tulis BJ Habibie dalam buku Bacharuddin Jusuf Habibie, Detik-Detik yang Menentukan sebagaimana dikutip, Minggu (11/9/2022).
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Peristiwa Bersejarah...
Peristiwa Bersejarah 21 Mei 1998, BJ Habibie Ucapkan Sumpah Jabatan Presiden di Istana Merdeka
Pertemuan Mengharukan...
Pertemuan Mengharukan Xanana Gusmao dengan Jenderal Kopassus yang Pernah Menangkapnya
Megawati Berbincang...
Megawati Berbincang 2,5 Jam dengan Presiden Timor Leste Ramos Horta, Ini Obrolannya
Jenazah Try Sutrisno...
Jenazah Try Sutrisno Bakal Dimakamkan Dekat Makam BJ Habibie dan Ani Yudhoyono di TMP Kalibata
Roy Suryo Bandingkan...
Roy Suryo Bandingkan Teliti Suara Habibie dan Foto Gus Dur dengan Ijazah Jokowi
Pengukuhan Pengurus...
Pengukuhan Pengurus UNTAS 2025–2030, Menhan: Penghargaan Negara Terhadap Peran WNI asal Timtim
3 Alasan Provinsi Alberta...
3 Alasan Provinsi Alberta Ingin Tinggalkan Kanada dan Bergabung dengan AS
Melebarkan Sayap Internasional,...
Melebarkan Sayap Internasional, Pegadaian Cetak Kinerja Positif di Timor Leste
Kisah Jenderal Kopassus...
Kisah Jenderal Kopassus Soegito Pertaruhkan Nyawa saat Hadapi Pemberontak Fretilin
Rekomendasi
Gelar Serangan Balasan,...
Gelar Serangan Balasan, Rusia Hancurkan Fasilitas Energi di Seluruh Ukraina
Gempa Magnitudo 4,1...
Gempa Magnitudo 4,1 Kembali Guncang Sigi, BMKG Catat 1.163 Gempa Susulan Pascagempa M6,7
Vasanta Kembangkan Hunian...
Vasanta Kembangkan Hunian Suburban Berkonsep Alam
Berita Terkini
MUI Tegaskan LGBT adalah...
MUI Tegaskan LGBT adalah Penyimpangan: Wajib Disembuhkan
Deretan Pasal Menjerat...
Deretan Pasal Menjerat Roy Suryo dan Dokter Tifa di Kasus Ijazah Jokowi
Puji Kepemimpinan Wali...
Puji Kepemimpinan Wali Kota Agustina, Hendardji Soepandji: Budaya Semarang Kian Kuat dan Harmonis
Polri Ungkap Peran Ganda...
Polri Ungkap Peran Ganda Frans Antoni di Jaringan Narkoba Fredy Pratama
Malam Ini Roy Suryo...
Malam Ini Roy Suryo dan Dokter Tifa Ditahan di Rutan Polda Metro Jaya, Besok Dilimpahkan ke Jaksa
Buronan Kasus Penipuan...
Buronan Kasus Penipuan Bisnis Batu Bara Rp7 Miliar Ditangkap di Bandara Soetta
Infografis
7 Perang Besar di Selat...
7 Perang Besar di Selat Malaka, dari Jalur Rempah hingga Medan Tempur Kekuatan Dunia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved