Operasi Seroja di Timor Timur, 16 Prajurit Kopassus Gugur saat Merebut Kota Dili

Jum'at, 26 Agustus 2022 - 05:05 WIB
loading...
Operasi Seroja di Timor Timur, 16 Prajurit Kopassus Gugur saat Merebut Kota Dili
Prajurit TNI menggelar Operasi Seroja di Timor Timur (Timtim) sekarang bernama Timor Leste. Foto/SINDOnews
A A A
JAKARTA - Operasi Seroja di Timor Timur (Timtim) sekarang bernama Timor Leste merupakan operasi militer terbesar yang digelar TNI pasca revolusi kemerdekaan. Dalam operasi tersebut, Komando Pasukan Khusus ( Kopassus ) terlibat pertempuran sengit melawan Fretilin, tentara terlatih didikan Portugis.

Dikutip dari buku biografi Letjen TNI (Purn) Sutiyoso berjudul “Sutiyoso The Field General, Totalitas Prajurit Para Komando” diceritakan, Operasi Seroja yang digelar pada 7 Desember 1975 ini berawal dari keprihatinan pemerintah Indonesia terhadap situasi politik dan keamanan di Timor Leste yang semakin genting menyusul hengkangnya Portugis dari wilayah tersebut akibat Revolusi Bunga.

Sepeninggal Portugis, konflik bersenjata di antara faksi-faksi yang bertikai yakni Uniao Democratica de Timorense (UDT), kemudian Fretilin, dan Associacao Popular Democratica de Timor (Apodeti) membuat pengungsi dari Timor Leste membanjiri daerah perbatasan di Nusa Tenggara Timur (NTT) untuk meminta perlindungan kepada pemerintah Indonesia.

Baca juga: BREAKING NEWS! Irjen Pol Ferdy Sambo Dipecat Secara Tidak Hormat sebagai Anggota Polri

Sementara itu, partai-partai politik yang saling berkonflik belum mendapatkan titik temu untuk mengatasi permasalahan yang ada. Bahkan, Pemerintah Portugis telah beberapa kali mengadakan perundingan dengan sejumlah partai politik seperti UDT, Fretilin dan Apodeti. Namun upaya tersebut tidak membuahkan hasil.

Melihat situasi Timor Leste yang semakin kacau dan pergerakan pasukan Fretilin yang berhaluan komunis serta keinginan masyarakat Timor Leste yang ingin bergabung dengan Indonesia, Menhankam/Panglima ABRI Jenderal TNI Maraden Panggabean kala itu mengeluarkan keputusan pada 4 Desember 1975 di Kupang, NTT untuk menggelar operasi militer.

Baca juga: 5 Hari Tak Makan, Jenderal Kopassus Ini Nyaris Tewas saat Selamatkan 4 Nyawa Prajuritnya

Di bawah koordinasi Ketua G-1/Intelijen Hankam Mayjen TNI Leonardus Benny Moerdani atau dikenal LB Moerdani, dibentuklah Komando Tugas Gabungan (Kogasgab) Operasi Seroja untuk merebut Kota Dili, basis kekuatan Tropas yang merupakan pasukan bersenjata Fretilin.

“Adanya komunisme di Timor Portugis (Timor Leste) dan jika dibiarkan akan masuk ke Indonesia. Untuk itu Timor Portugis harus direbut dan informasi ini didukung oleh data-data intelijen Amerika Serikat dan Australia,” kata Jenderal TNI (Purn) Luhut Binsar Pandjaitan yang saat itu berpangkat Lettu Infanteri dan menjabat sebagai Dantim B untuk penerjunan di Dili dikutip dari buku berjudul “Kopassus untuk Indonesia” dikutip SINDOnews Jumat (26/8/2022).

Tanggal 7 Desember 1975 tepat pukul 5.30 Kota Dili pun diserang. Grup 1 Kopassandha sekarang bernama Kopassus dan Brigade-18 Linud/Kostrad yang sebagian besar dari Batalyon 502/Raiders Jawa Timur diterjunkan dengan menggunakan sembilan pesawat C-130 Hercules TNI AU. Operasi perebutan Kota Dili melalui operasi udara dengan menerjunkan pasukan tidak berjalan mulus.

Pasukan Tropas yang terlatih dan memiliki pengalaman perang di Mozambique dan Angola ternyata telah bersiaga dan langsung menembaki pesawat Hercules yang mengangkut prajurit Kopassus dari bawah. Serangan itu membuat 78 anggota Kopassandha gagal terjun di pagi itu. Mereka lantas dibawa ke Kupang. Tembakan dari bawah menyebabkan kerusakan kecil di pesawat. Tak hanya itu, seorang load master juga gugur terkena tembakan.
Halaman :
Komentar
Copyright © 2023 SINDOnews.com
read/ rendering in 0.2711 seconds (10.177#12.26)