Terenyuh, Ketulusan Cinta Pierre Tendean dan Rukmini yang Hanya Tinggal Sejarah
Kamis, 08 September 2022 - 06:16 WIB
loading...
A
A
A
Andalan olahraga Rukmini adalah renang. Dia kerap meraih juara dalam perlombaan renang antarsekolah. Pribadinya yang unik, keluwesannya dalam bergaul, serta kelincahannya membuat Rukmini meninggalkan kesan berbeda di mata Pierre.
Nah, ternyata perasaan Pierre tidak bertepuk sebelah tangan. Sesungguhnya Rukmini juga sudah terpikat oleh sosok Pierre. Namun, perbedaan keyakinan yang ada sempat membuat Rukmini meragukan kelanjutan hubungannya dengan Pierre.
Rukmini hanya bersedia melanjutkan hubungan ke tahap yang lebih serius dengan pemuda yang punya keyakinan yang sama. Awal hubungan Pierre dengan Rukmini ditandai dengan LDR (long distance relationship) atau hubungan jarak jauh.
Sebab, masa dinas Pierre di Medan tidak sampai enam bulan, dan ditarik untuk melanjutkan pendidikan di intelijen di Bogor, pada pertengahan 1963. Medan telah memberikan banyak kenangan yang bermakna bagi Pierre walaupun masa baktinya di kota itu sebagai perwira muda hanya sebentar.
Kenangan-kenangan yang mengikatnya secara emosional. Selama masa penugasannya di perbatasan Kepulauan Riau sebagai mata-mata dalam Operasi Dwikora dan setelah menjadi ajudan Jenderal AH Nasution pun, Pierre kerap memilih pulang ke Medan setiap masa cutinya untuk mengunjungi pujaan hati di sana, Rukmini.
![Terenyuh, Ketulusan Cinta Pierre Tendean dan Rukmini yang Hanya Tinggal Sejarah]()
Kapten Pierre Tendean dan Rukmini duduk di bawah gazebo di Parapat, Danau Toba, awal 1965. Foto/Istimewa
Baca: AH Nasution, Jenderal Besar Anti-PKI Kebanggaan TNI
Pierre pun merasakan jenuh ketika sedang bertugas dalam Operasi Dwikora. Rasa rindu kepada Rukmini terkadang dirasakannya. Di tengah operasi yang kerap berlangsung di laut lepas itu hubungan Pierre dan Rukmini sebenarnya sudah tercium rekan-rekannya.
Pierre kerap mencurahkan kegalauannya kepada salah seorang rekannya. Pierre pernah bertanya kepada seorang rekannya itu bagaimana caranya menjaga hubungan di tengah penugasan seperti saat itu.
Terpikir oleh Pierre untuk berbalas rindu melalui surat, tetapi ada kekhawatiran surat itu tidak pernah sampai dan berakhir di lautan. Rekan Pierre menyarankan agar membuat rekaman suara di kaset, saran yang sebenarnya lebih ke sindiran kepada Pierre yang tak kuat menahan rindu untuk Rukmini.
Peran sebagai Intel negara membuat mereka tak bisa bebas untuk berkomunikasi, termasuk dengan orang-orang tercinta. Tak selamanya memang para perwira muda ini berada di Medan tempur. Mereka bisa mengajukan izin cuti untuk waktu-waktu tertentu.
Pierre juga kerap mengambil jatah cuti ini, namun dia tidak selalu pulang ke Semarang. Dia justru kerap singgah ke Medan dan bertemu Rukmini.
Salah satu jatah cuti yang diambil Pierre untuk menyempatkan hadir di ulang tahun Rukmini yang ke-17 pada September 1964 di Medan. Rekan-rekannya seperti Satrijo Wibowo dan Setijono Hadi juga hadir dalam pesta itu.
Kedekatan Pierre dan Rukmini juga terlihat dalam kesempatan berbeda. Pierre sering berkunjung saat acara keluarga besar Chamim. Pierre tak ubahnya seperti pemuda yang tengah diperkenalkan dalam keluarga besar calon perempuan.
Pierre nyaman dan santai bersama keluarga Chamim. Seringnya pertemuan Pierre dan Rukmini membuktikan keseriusan Pierre untuk meminang pujaan hatinya itu.
Pierre cukup lihai dalam menyembunyikan hubungannya dengan Rukmini. Kebanyakan rekannya justru mengetahui hubungan Pierre dan Rukmini usai peristiwa 30 September.
Yang mengetahui detail hubungan mereka hanya segelintir, orang-orang yang sudah dipercaya oleh Pierre. Soeseno, sahabat Pierre semasa menempuh pendidikan taruna di Akademi Teknik Angkatan Darat (Atekad) pun mengklaim pernah diberi tahu oleh Pierre bahwa Pierre sudah mengikat Rukmini.
![Terenyuh, Ketulusan Cinta Pierre Tendean dan Rukmini yang Hanya Tinggal Sejarah]()
Kapten Pierre Tendean dan Rukmini saat di Parapat, Danau Toba, awal 1965. Foto/Istimewa
Baca juga: Kondisi Mencekam Sebelum Percobaan Perebutan Kekuasaan, Peristiwa G30S/PKI
Bahkan, Pierre sudah menentukan satu hari di bulan Desember 1965 sebagai hari berbahagia mereka. Saat bertugas menjadi seorang ajudan Jenderal AH Nasution, Pierre juga sering curhat dengan Johanna Sunarti, istri Jenderal AH Nasution.
Putri sulung dari Jenderal AH Nasution, Herdrianti Saharah Nasution atau Yanti Nasution mengungkapkan bahwa Pierre Tendean hampir setiap malam menghabiskan waktu di dapur dengan ibunya, Johanna Sunarti. Pierre Tendean dan istri Jenderal AH Nasution bercakap-cakap mengenai apa saja dalam bahasa Indonesia dengan logat Jawa Semarang yang kental.
Salah satu perbincangan mereka mengenai Pierre Tendean yang semakin serius berhubungan dengan kekasihnya, Rukmini Chamim atau Mimin. Pierre Tendean sering kali membahas rencana peresmian pernikahannya dengan Rukmini.
Dengan rasa keibuan, Johanna Sunarti memberikan nasihat kepada Pierre Tendean. "Jangan terlalu memuja calon istrimu. Jangan sekali-kali mempunyai anggapan bahwa cintamu kepada calon istrimu tak dapat dipisahkan oleh siapa pun. Aku telah cukup melihat peristiwa-peristiwa yang sedih mengenai hal itu, sebagaimana halnya dengan istri Letkol Suryo Sumarno yang pernah kuceritakan kepadamu itu," kata Johanna Sunarti kepada Pierre.
"Kedua suami istri ini sangat berbahagia karena merupakan pasangan yang cocok sekali. Mereka merasa tidak dapat dipisahkan antara satu dan lainnya, dan keduanya selalu mengagung-agungkan cinta mereka. Akan tetapi, apa yang terjadi kemudian? Overste Suryo Sumarno telah dibunuh PKI dengan kejam dan biadab pada waktu bergerilya di Kawasan Merapi Merbabu Complex (MMC), sekitar tahun 1949. Kuharap hal itu tidak akan terjadi padamu Pierre. Oleh karena itu, wajarlah saja dalam bercinta. Jangan terlalu mengagung-agungkan kekasih di luar kewajaran hubungan cintamu itu. Dan Ibu juga percaya kamu demikian karena Ibu percaya akan segala ketabahanmu dan bakatmu yang bijaksana," ungkapnya.
Nah, ternyata perasaan Pierre tidak bertepuk sebelah tangan. Sesungguhnya Rukmini juga sudah terpikat oleh sosok Pierre. Namun, perbedaan keyakinan yang ada sempat membuat Rukmini meragukan kelanjutan hubungannya dengan Pierre.
Rukmini hanya bersedia melanjutkan hubungan ke tahap yang lebih serius dengan pemuda yang punya keyakinan yang sama. Awal hubungan Pierre dengan Rukmini ditandai dengan LDR (long distance relationship) atau hubungan jarak jauh.
Sebab, masa dinas Pierre di Medan tidak sampai enam bulan, dan ditarik untuk melanjutkan pendidikan di intelijen di Bogor, pada pertengahan 1963. Medan telah memberikan banyak kenangan yang bermakna bagi Pierre walaupun masa baktinya di kota itu sebagai perwira muda hanya sebentar.
Kenangan-kenangan yang mengikatnya secara emosional. Selama masa penugasannya di perbatasan Kepulauan Riau sebagai mata-mata dalam Operasi Dwikora dan setelah menjadi ajudan Jenderal AH Nasution pun, Pierre kerap memilih pulang ke Medan setiap masa cutinya untuk mengunjungi pujaan hati di sana, Rukmini.

Kapten Pierre Tendean dan Rukmini duduk di bawah gazebo di Parapat, Danau Toba, awal 1965. Foto/Istimewa
Baca: AH Nasution, Jenderal Besar Anti-PKI Kebanggaan TNI
Pierre pun merasakan jenuh ketika sedang bertugas dalam Operasi Dwikora. Rasa rindu kepada Rukmini terkadang dirasakannya. Di tengah operasi yang kerap berlangsung di laut lepas itu hubungan Pierre dan Rukmini sebenarnya sudah tercium rekan-rekannya.
Pierre kerap mencurahkan kegalauannya kepada salah seorang rekannya. Pierre pernah bertanya kepada seorang rekannya itu bagaimana caranya menjaga hubungan di tengah penugasan seperti saat itu.
Terpikir oleh Pierre untuk berbalas rindu melalui surat, tetapi ada kekhawatiran surat itu tidak pernah sampai dan berakhir di lautan. Rekan Pierre menyarankan agar membuat rekaman suara di kaset, saran yang sebenarnya lebih ke sindiran kepada Pierre yang tak kuat menahan rindu untuk Rukmini.
Peran sebagai Intel negara membuat mereka tak bisa bebas untuk berkomunikasi, termasuk dengan orang-orang tercinta. Tak selamanya memang para perwira muda ini berada di Medan tempur. Mereka bisa mengajukan izin cuti untuk waktu-waktu tertentu.
Pierre juga kerap mengambil jatah cuti ini, namun dia tidak selalu pulang ke Semarang. Dia justru kerap singgah ke Medan dan bertemu Rukmini.
Salah satu jatah cuti yang diambil Pierre untuk menyempatkan hadir di ulang tahun Rukmini yang ke-17 pada September 1964 di Medan. Rekan-rekannya seperti Satrijo Wibowo dan Setijono Hadi juga hadir dalam pesta itu.
Kedekatan Pierre dan Rukmini juga terlihat dalam kesempatan berbeda. Pierre sering berkunjung saat acara keluarga besar Chamim. Pierre tak ubahnya seperti pemuda yang tengah diperkenalkan dalam keluarga besar calon perempuan.
Pierre nyaman dan santai bersama keluarga Chamim. Seringnya pertemuan Pierre dan Rukmini membuktikan keseriusan Pierre untuk meminang pujaan hatinya itu.
Pierre cukup lihai dalam menyembunyikan hubungannya dengan Rukmini. Kebanyakan rekannya justru mengetahui hubungan Pierre dan Rukmini usai peristiwa 30 September.
Yang mengetahui detail hubungan mereka hanya segelintir, orang-orang yang sudah dipercaya oleh Pierre. Soeseno, sahabat Pierre semasa menempuh pendidikan taruna di Akademi Teknik Angkatan Darat (Atekad) pun mengklaim pernah diberi tahu oleh Pierre bahwa Pierre sudah mengikat Rukmini.

Kapten Pierre Tendean dan Rukmini saat di Parapat, Danau Toba, awal 1965. Foto/Istimewa
Baca juga: Kondisi Mencekam Sebelum Percobaan Perebutan Kekuasaan, Peristiwa G30S/PKI
Bahkan, Pierre sudah menentukan satu hari di bulan Desember 1965 sebagai hari berbahagia mereka. Saat bertugas menjadi seorang ajudan Jenderal AH Nasution, Pierre juga sering curhat dengan Johanna Sunarti, istri Jenderal AH Nasution.
Putri sulung dari Jenderal AH Nasution, Herdrianti Saharah Nasution atau Yanti Nasution mengungkapkan bahwa Pierre Tendean hampir setiap malam menghabiskan waktu di dapur dengan ibunya, Johanna Sunarti. Pierre Tendean dan istri Jenderal AH Nasution bercakap-cakap mengenai apa saja dalam bahasa Indonesia dengan logat Jawa Semarang yang kental.
Salah satu perbincangan mereka mengenai Pierre Tendean yang semakin serius berhubungan dengan kekasihnya, Rukmini Chamim atau Mimin. Pierre Tendean sering kali membahas rencana peresmian pernikahannya dengan Rukmini.
Dengan rasa keibuan, Johanna Sunarti memberikan nasihat kepada Pierre Tendean. "Jangan terlalu memuja calon istrimu. Jangan sekali-kali mempunyai anggapan bahwa cintamu kepada calon istrimu tak dapat dipisahkan oleh siapa pun. Aku telah cukup melihat peristiwa-peristiwa yang sedih mengenai hal itu, sebagaimana halnya dengan istri Letkol Suryo Sumarno yang pernah kuceritakan kepadamu itu," kata Johanna Sunarti kepada Pierre.
"Kedua suami istri ini sangat berbahagia karena merupakan pasangan yang cocok sekali. Mereka merasa tidak dapat dipisahkan antara satu dan lainnya, dan keduanya selalu mengagung-agungkan cinta mereka. Akan tetapi, apa yang terjadi kemudian? Overste Suryo Sumarno telah dibunuh PKI dengan kejam dan biadab pada waktu bergerilya di Kawasan Merapi Merbabu Complex (MMC), sekitar tahun 1949. Kuharap hal itu tidak akan terjadi padamu Pierre. Oleh karena itu, wajarlah saja dalam bercinta. Jangan terlalu mengagung-agungkan kekasih di luar kewajaran hubungan cintamu itu. Dan Ibu juga percaya kamu demikian karena Ibu percaya akan segala ketabahanmu dan bakatmu yang bijaksana," ungkapnya.
Lihat Juga :