Kemesraan Muhammadiyah-Nahdlatul Ulama, Bagaimana Memahaminya?
Rabu, 07 September 2022 - 13:40 WIB
loading...
A
A
A
Muktamar ke-34 NU di Lampung pada 24 Desember 2021 memilih KH Yahya Cholil Staquf sebagai Ketua Umum PBNU. Sementara silaturahmi Gus Yahya ke PP Muhammadiyah seperti pada intro tulisan ini baru Ahad, 4 September 2022 atau kurang lebih 9 bulan setelah Muktamar NU.
Apa makna tersirat?
Boleh jadi Gus Yahya menunggu Haedar untuk datang ke Kantor PBNU bersilaturahmi sekaligus mengucapkan selamat. Namun penantian itu terlalu lama, maka dengan besar hati Gus Yahya datang ke PP Muhammadiyah.
Makna lain, di sisi Haedar Nashir, mungkin beranggapan bahwa yang harus datang tentu Gus Yahya untuk mengenalkan diri. Secara secara senioritas, Haedar Nashir terpilih sebagai Ketum Muhammadiah pada awal Agustus 2015. Artinya secara kepemimpinan ormas, Haedar Nashir kini sudah hampir 7 tahun memegang pucuk tertinggi Muhammadiyah, sehingga secara tradisi harus menunggu.
Atau mungkin juga Haedar Nashir akan berkunjung ke PBNU dalam waktu dekat, jika Gus Yahya tidak datang. Walaupun mungkin, tepat setelah Gus Yahya terpilih menjadi Ketum PBNU, Haedar Nashir sudah mengucapkan selamat via telepon langsung atau daring. Apalagi masa itu Pendemic Covid-19 masih menjadi momok. Jadi soal kunjung-berkunjung atau silaturahmi luring (offline) tidak terlalu mendesak dan urgent.
Ataukah dapat dipahami lain. Misalnya, Gus Yahya melihat arah angin. Ke mana angin akan bertiup pada Muktamar Muhammadiyah ke-48 di Solo, 18-20 November 2022 nanti? Akankah Haedar akan terpilih lagi sebagai Ketum PP Muhammadiyah 2022-2027?
Kalau ini yang menjadi pemahaman lain itu, maka Gus Yahya dapat dianggap mempunyai naluri bahwa Haedar Nashir pantas menjadi partner kepemimpinan ormas terbesar ini pada periode berikutnya, maka kunjungannya ke PP Muhammadiyah kemarin itu tidaklah terlambat amat.
Wa Allah al-'alam bi al-shawab.
Apa makna tersirat?
Boleh jadi Gus Yahya menunggu Haedar untuk datang ke Kantor PBNU bersilaturahmi sekaligus mengucapkan selamat. Namun penantian itu terlalu lama, maka dengan besar hati Gus Yahya datang ke PP Muhammadiyah.
Makna lain, di sisi Haedar Nashir, mungkin beranggapan bahwa yang harus datang tentu Gus Yahya untuk mengenalkan diri. Secara secara senioritas, Haedar Nashir terpilih sebagai Ketum Muhammadiah pada awal Agustus 2015. Artinya secara kepemimpinan ormas, Haedar Nashir kini sudah hampir 7 tahun memegang pucuk tertinggi Muhammadiyah, sehingga secara tradisi harus menunggu.
Atau mungkin juga Haedar Nashir akan berkunjung ke PBNU dalam waktu dekat, jika Gus Yahya tidak datang. Walaupun mungkin, tepat setelah Gus Yahya terpilih menjadi Ketum PBNU, Haedar Nashir sudah mengucapkan selamat via telepon langsung atau daring. Apalagi masa itu Pendemic Covid-19 masih menjadi momok. Jadi soal kunjung-berkunjung atau silaturahmi luring (offline) tidak terlalu mendesak dan urgent.
Ataukah dapat dipahami lain. Misalnya, Gus Yahya melihat arah angin. Ke mana angin akan bertiup pada Muktamar Muhammadiyah ke-48 di Solo, 18-20 November 2022 nanti? Akankah Haedar akan terpilih lagi sebagai Ketum PP Muhammadiyah 2022-2027?
Kalau ini yang menjadi pemahaman lain itu, maka Gus Yahya dapat dianggap mempunyai naluri bahwa Haedar Nashir pantas menjadi partner kepemimpinan ormas terbesar ini pada periode berikutnya, maka kunjungannya ke PP Muhammadiyah kemarin itu tidaklah terlambat amat.
Wa Allah al-'alam bi al-shawab.
(abd)
Lihat Juga :