Bersahabat dengan Alam demi Green Economy, Kapan?
Senin, 05 September 2022 - 09:56 WIB
loading...
A
A
A
Dalam program ini diindentifikasi mana saja gedung-gedung terkategori kuning, merah, atau hijau. Cakupan audit meliputi penggunaan air, pengelolaan sampah, pemanfaatan energi, penghawaan, dan penyinaran energi.
Kedua, pendidikan lingkungan dan gerakan sekolah hijau. Masyarakat dididik agar sadar tentang arti penting menjaga bantaran sungai, merestorasi, dan mengonservasi sungai sehingga tewujud lingkungan bersih, indah, rapi, dan sehat. Ketiga, program sedekah sampah. Program ini digulirkan agar masyarakat mampu memilih, memilah, dan mengolah sampah. Sedekah sampah ditujukan untuk mengurangi jumlah sampah plastik, yang selama ini jadi persoalan besar.
Keempat, pelatihan pengelolaan limbah rumah sakit dan labolatorium. Kepada masyarakat diberikan edukasi dan bantuan perbaikan pengelolaan limbah. Limbah berbahaya dan beracun, menjadi perhatian utama karena selama ini penanganannya sering sembrono sehingga mengancam kehidupan manusia. Kelima, desa mandiri energi. Di berbagai desa, warganya diajari memanfaatkan biogas dalam kehidupan sehari-hari. Seperti untuk bahan bakar kompor dan penerangan.
Alangkah elegan bila pemerintah, para pelaku ekonomi, dan organisasi kemasyarakatan lain bergegas mengaktualisasikan gerakan ekonomi berbasis lingkungan. Kiranya masyarakat patut mengerti, bahwa ada sisi-sisi lain sebagai situasi kelam, yakni keberantakan programgreen economy. Mengapa terjadi? Karena program-program ekonomi konvensional (kapitalis) lebih diunggulkan oleh pemerintah.
Dalam ideologi kapitalisme, pelaku-pelaku ekonomi diizinkan mengeksploitasi sumber daya alam semena-mena. Pertumbuhan ekonomi, berorientasi kepada pemaksimalan keuntungan finansial semata. Kepedulian dan tanggung jawab terhadap kelestarian lingkungan menjadi terabaikan. Lihatlah, peningkatan emisi gas rumah kaca, susutnya areal hutan, kebakaran lahan, terjadi tanah longsor, banjir, serta musnahnya berbagai spesies dan keanekaragaman hayati. Ketimpangan sosial pun semakin lebar.
Keberpihakan terhadap ekonomi kapitalistik,dan penganaktirian terhadapgreen economymerupakan bukti nyata bahwa persahabatan terhadap alam masih sebatas angan-angan. Alih-alih bersahabat, justru alam dikorbankan. Akibatnya,green economyyang digadang-gadang mampu menjadi penawar panasnya kehidupan di muka bumi, menjadi sulit dimanifestasikan sebagai budaya perekonomian berkarakter humanis dan ekologis.Wallahu a’lam.
Kedua, pendidikan lingkungan dan gerakan sekolah hijau. Masyarakat dididik agar sadar tentang arti penting menjaga bantaran sungai, merestorasi, dan mengonservasi sungai sehingga tewujud lingkungan bersih, indah, rapi, dan sehat. Ketiga, program sedekah sampah. Program ini digulirkan agar masyarakat mampu memilih, memilah, dan mengolah sampah. Sedekah sampah ditujukan untuk mengurangi jumlah sampah plastik, yang selama ini jadi persoalan besar.
Keempat, pelatihan pengelolaan limbah rumah sakit dan labolatorium. Kepada masyarakat diberikan edukasi dan bantuan perbaikan pengelolaan limbah. Limbah berbahaya dan beracun, menjadi perhatian utama karena selama ini penanganannya sering sembrono sehingga mengancam kehidupan manusia. Kelima, desa mandiri energi. Di berbagai desa, warganya diajari memanfaatkan biogas dalam kehidupan sehari-hari. Seperti untuk bahan bakar kompor dan penerangan.
Alangkah elegan bila pemerintah, para pelaku ekonomi, dan organisasi kemasyarakatan lain bergegas mengaktualisasikan gerakan ekonomi berbasis lingkungan. Kiranya masyarakat patut mengerti, bahwa ada sisi-sisi lain sebagai situasi kelam, yakni keberantakan programgreen economy. Mengapa terjadi? Karena program-program ekonomi konvensional (kapitalis) lebih diunggulkan oleh pemerintah.
Dalam ideologi kapitalisme, pelaku-pelaku ekonomi diizinkan mengeksploitasi sumber daya alam semena-mena. Pertumbuhan ekonomi, berorientasi kepada pemaksimalan keuntungan finansial semata. Kepedulian dan tanggung jawab terhadap kelestarian lingkungan menjadi terabaikan. Lihatlah, peningkatan emisi gas rumah kaca, susutnya areal hutan, kebakaran lahan, terjadi tanah longsor, banjir, serta musnahnya berbagai spesies dan keanekaragaman hayati. Ketimpangan sosial pun semakin lebar.
Keberpihakan terhadap ekonomi kapitalistik,dan penganaktirian terhadapgreen economymerupakan bukti nyata bahwa persahabatan terhadap alam masih sebatas angan-angan. Alih-alih bersahabat, justru alam dikorbankan. Akibatnya,green economyyang digadang-gadang mampu menjadi penawar panasnya kehidupan di muka bumi, menjadi sulit dimanifestasikan sebagai budaya perekonomian berkarakter humanis dan ekologis.Wallahu a’lam.
(ynt)
Lihat Juga :