alexametrics

Faktor SDM dalam Pemulihan Ekonomi Nasional

loading...
Faktor SDM dalam Pemulihan Ekonomi Nasional
Muhamad Ali
A+ A-
Muhamad Ali
Pemerhati Human Capital

DUNIA sedang memulihkan diri setelah berbulan-bulan pandemi melumpuhkan, menghentikan seluruh aktivitas manusia, lalu menjungkalkan prediksi-prediksi tentang pertumbuhan ekonomi, kemakmuran warga, dan kesejahteraan masyarakat. Berbagai lembaga riset dan analis memprediksi pertumbuhan negatif yang akan menuntun dunia ke arah resesi. Produk domestik bruto (PDB) dunia, kata Bank Dunia, akan tumbuh negatif 5,2% pada tahun ini.

Pemerintah Indonesia juga sudah beberapa kali merevisi prediksi pertumbuhan ekonomi nasional, dengan skenario moderat atau berat. Faktualnya, pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal pertama menurut BPS berada di angka 2,97%, turun 2% dibandingkan kuartal sebelumnya yang mencapai 4,97%.

Meskipun pertumbuhan ekonomi Indonesia mengalami penurunan sangat signifikan, dibandingkan negara-negara lain masih jauh lebih baik. Malaysia hanya tumbuh 0,7%. Thailand mengalami pertumbuhan negatif 1,8%, sedangkan Jepang negatif 2,2%. China bahkan paling parah penurunannya, yakni mencapai 6,8%, sedangkan Singapura negatif 0,7%.

Di balik pertumbuhan ekonomi masing-masing negara yang tidak ada satu pun yang tidak mengalami penurunan, tantangannya justru bagaimana masing-masing negara melakukan berbagai upaya untuk memulihkan kondisi perekonomiannya dan apa saja langkah-langkah strategis dan operasional yang akan mereka lakukan menuju arah tersebut.

Ketika upaya tersebut sedang dilakukan oleh pemerintah, seluruh sektor dipaksa untuk menata dirinya menyesuaikan dengan zaman baru, yang memiliki syarat-syarat dalam proses bisnis dan operasi. Karena itu, salah satu kunci terpenting adalah sumber daya manusia yang akan menggerakkan seluruh proses pemulihan tersebut.

Beberapa waktu lalu beredar pidato Presiden Jokowi dalam sidang kabinet paripurna yang menyoroti kurangnya satu rasa bersama dalam menghadapi krisis di berbagai pemerintahan dan lembaga, sehingga kebijakan menjadi tidak segera terasa dampaknya hingga bawah. Tambahan belanja pemerintah yang dialokasikan untuk penanganan pandemi Covid-19 tidak mampu menahan laju penurunan ekonomi karena terbatasnya uang yang beredar di masyarakat.

Manusia dan Cara Mengorganisasikannya
Pada akhirnya, semua upaya apa pun yang akan dilakukan untuk memulihkan perekonomian adalah menyangkut manusia dan cara mengorganisasikannya. Secara individual, setiap manusia memiliki cara pandang yang tidak selalu sama dalam menghadapi krisis yang diakibatkan oleh pandemi. Perbedaan tersebut sangat wajar.

Tantangannya, bagaimana menyatukan cara pandang atau mindset yang berbeda-beda tersebut untuk tujuan yang sama. Tujuannya tentu juga harus diletakkan dalam tujuan skala kecil di tingkat masing-masing individu, organisasi, antarorganisasi, dan kemudian dibawa pada tujuan besar yang disebut pemulihan ekonomi nasional tadi. Pemerintah dan pemimpin nasional sudah menunjukkan dan melakukan seluruh upaya yang mungkin dilakukan untuk menuju ke sana. Dengan segala konsekuensi dan risikonya, tentu saja.

Pandemi menuntut cara bekerja yang berbeda dari biasanya. Pandemi menuntut cara-cara baru yang tidak biasa, justru karena sifat pandemi yang mengandung ketidakpastian tinggi. Pertanyaannya, bagaimana manusia dapat diarahkan untuk melakukan cara-cara yang berbeda, yang tidak biasa, ketika bertahun-tahun mereka telah melakukan aktivitas dan pekerjaan tersebut sehingga menjadi suatu kebiasaan.

Kata kuncinya hanya menyediakan dua opsi: berubah atau mati. Jika hanya ada dua pilihan tersebut di depan setiap orang, dia akan memaksakan seluruh potensi dan kapasitasnya keluar dari zona yang telah bertahun-tahun dihidupinya. Sejarah telah menunjukkan, dalam situasi dan ekosistem yang berubah dengan drastis dan berskala besar, hanya mereka yang mampu berubah dan beradaptasi secara cepatlah yang akan dapat bertahan hidup dan lolos dari terjangan kematian. Itulah hukum besi sejarah yang sudah terbukti selama ratusan, bahkan ribuan tahun.

Ketiadaan opsi lain, kecuali berubah atau mati, memaksa setiap orang untuk mencari upaya penyelamatan. Apabila kesadaran tersebut mampu dikonsolidasikan ke level yang lebih tinggi, yaitu organisasi, tidak ada pilihan lain juga bagi setiap organisasi untuk melakukan kolaborasi bersama-sama antara satu organisasi dengan organisasi lain.

Betul bahwa antara satu organisasi dengan organisasi lainnya akan ada kompetisi untuk masuk dalam arus besar pemulihan ekonomi nasional. Betul juga bahwa antara satu organisasi dengan organisasi lain akan ada kecenderungan untuk saling mematikan. Tetapi, harus ada kesadaran bersama bahwa kompetisi yang saling mematikan tidak akan membawa upaya pemulihan berjalan sesuai keinginan. Ia justru akan membawa kerusakan yang lebih besar dengan risiko korban yang juga lebih besar.

Karena itu, semangat kolaborasi antara satu organisasi korporasi atau birokrasi dengan organisasi yang lain harus diletakkan pula sebagai satu-satunya pilihan yang paling mungkin. Model dua tingkat, yaitu pembentukan kesadaran baru pada level individu dan organisasi dalam pemulihan ekonomi nasional akan menentukan berhasil tidaknya upaya kita bersama keluar dari krisis/pandemi yang dikhawatirkan masih akan berlangsung panjang tersebut.
(ras)
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak