Fiksi yang Bukan Cerita Kita

Sabtu, 13 Agustus 2022 - 06:16 WIB
loading...
A A A
Tidak perlu dijelaskan lagi bagaimana apiknya penulis menuntun pembaca untuk turut serta menikmati aroma kenanga. Rasanya, orang yang baru melihat bunga kenanga tanpa pernah menghidu aromanya, akan mengerti kebahagiaan macam apa yang dialami si tokoh dalam cerita. Narasi yang persuasif sekaligus menghanyutkan.

Mengawinkan Realitas dan Fiksi

Pengalaman adalah guru terbaik. Ia mengajarkan banyak hal yang tidak pernah ada di bangku sekolah. Hidup dan kehidupan adalah sarana belajar. Tentu, ada yang berhasil dan sukses, ada pula yang tampak jalan di tempat. Namun, sejatinya, semua bergantung dari sudut mana kita melihat. Juga, seberapa besar level penerimaan kita terhadap segala yang terjadi.

Lakon hidup yang beragam ini yang coba digambarkan oleh Teguh Affandi melalui kata-kata. Ada yang berhasil mengantarkan/menyampaikan pesan dan rasa simpati, ada pula yang cenderung hanya menghasilkan kerut-kerut di dahi pembaca. Secara umum, usaha Teguh cukup berhasil. Dalam artian, ia memang bisa menulis dengan baik.

Terbukti, dari sekian banyak judul dalam buku ini pernah tayang di berbagai media cetak nasional. Tentu itu sebuah prestasi yang luar biasa sebab tidak semua penulis fiksi bisa mencapainya. Hanya saja, seperti halnya hidup yang tidak sempurna, beberapa kali mata saya terjungkal ketika menemukan kesalahan teknis, alur yang tidak selaras, bahkan kesamaan tema pada beberapa judul.

Setidaknya ada lima judul dengan tema serupa yang ditempatkan berurutan di bagian akhir. Cerita-cerita itu mungkin saja tidak ditulis pada waktu yang relatif berdekatan, tetapi menempatkannya berurutan bisa jadi menimbulkan kesan bahwa penulis kehabisan ide dan hanya sanggup mengganti detail serta momen.

Apa pun latarnya, saya yakin penulis dan editor punya pertimbangan khusus dalam menyusun judul demi judul. Saya menduga penulis ingin memastikan bahwa pembaca tidak mengait-ngaitkan isi cerita sebagai pengalaman pribadi sang penulis. Pasalnya, memang begitulah yang kerap terjadi. Pembaca yang usil tentu akan menggoda penulis agar mengakui bahwa hal itu adalah bagian dari pengalaman hidup penulis. Saya rasa ini memang kasar, tetapi penulis cerpen (dan novel) punya jurus andalan untuk mengelak: “Itu cuma fiksi.”

Baiknya saya kutip sedikit pengantar dari Budi Darma. Kendati fiksi adalah khayalan, jadi tidak mungkin terjadi dalam realita, pada hakikatnya fiksi tidak bisa melepaskan diri dari realita. Fiksi ditulis oleh pengarang, sementara itu, pengarang adalah sebuah individu dalam masyarakat. Keberadaan pengarang sebagai individu dalam masyarakat ini mau tidak mau mengikat pengarang untuk tidak lepas dari realita. Fiksi, dengan demikian, adalah abstraksi realita yang diolah oleh pengarang melalui senjata utamanya, yaitu imajinasi. Karena itu, fiksi bisa tidak masuk akal karena pengaruh imajinasi pengarangnya, dan juga bisa masuk akal karena pengarang tidak lain adalah produk berbagai permasalahan sosial. (halaman ix-x)

Saya jadi teringat dua nama, yaitu Oka Rusmini dan Minanto. Dua nama ini menulis sesuatu berdasarkan latar tempat tinggal mereka. Rusmini dengan kehidupan kasta tinggi di Bali, sementara Minanto dengan kehidupan masyarakat pantura (Indramayu). Oh, tentunya masih banyak nama lain, termasuk juga Pram yang menjadikan Blora sebagai latar salah satu karyanya. Saya pun kerap melakukannya pada sekian cerpen―memakai Cirebon sebagai latar, memasukkan segala pernak-pernik kota itu.

Alam fiksi memang alam imajinasi. Dunia yang dibangun berdasarkan permainan pikiran. Akan tetapi, imajinasi ini tentu tidak melulu lahir begitu saja. Ada yang melatari. Dan, biasanya, latar itu adalah pengalaman pengarang sendiri. Ya, tentu bukan hanya yang dialami secara langsung oleh pengarang sendiri. Bisa jadi kisah itu adalah milik orang lain yang sengaja mereka ceritakan kepada pengarang. Tinggal diubah sana-sini, jadilah.
Halaman :
Komentar
Copyright © 2022 SINDOnews.com
read/ rendering in 0.1734 seconds (11.97#12.26)