Fiksi yang Bukan Cerita Kita

Sabtu, 13 Agustus 2022 - 06:16 WIB
loading...
Fiksi yang Bukan Cerita Kita
Fiksi yang Bukan Cerita Kita
A A A
Sekar Mayang
Editor, penulis, pengulas buku, hidup di Bali

Saya pikir ini bukan preambul yang cukup menyenangkan untuk disimak. Apa yang hendak saya sampaikan ternyata sudah diborong semua oleh Budi Darma. Ia mengantarkan buku ini dengan begitu baik sehingga bisa jadi ulasan ini hanya semacam repetition with style―pengulangan dengan gaya (yang selangit).

Melihat sampul buku ini, saya langsung menangkap dualitas yang hendak disampaikan penulis. Latar warna hitam menjadi kontras dengan kata Arum Manis. Hitam sering diidentikkan dengan rasa pahit. Sementara semua tahu, arum manis yang telah matang tentu memiliki rasa manis. Ya, memang, tidak akan ada rasa manis apabila semesta tidak memiliki rasa pahit.

Dualitas pula yang menjadikan manusia berkonflik bahkan dengan dirinya sendiri. Secara tidak sadar, mungkin kita sering mengalaminya. Satu sisi bergerak untuk menolong, sisi lainnya sangat penasaran bagaimana seseorang berakhir dengan kondisi seperti itu. Ini tergambar dalam cerpen pembuka berjudul Tembok Apartemen yang Bicara.

Dalam sebuah komunitas, perempuan kerap diidentikkan sebagai penyebar kabar burung yang andal. Tak hanya menyebarkan, tetapi juga membumbui dengan cermat sehingga kabar tersebut bisa meleset jauh dari aslinya. Adalah Seruni yang bergerak menolong seorang perempuan yang menjadi tetangganya ketika suara tangis bocah menyusup melalui pori-pori tembok apartemen.

Keduanya lekas akrab. Hanya saja, kedekatan itu tampaknya mengundang jenis simpati lain dari Seruni. Mungkin memang Seruni peduli, mungkin memang ia ingin berteman dengan perempuan itu. Namun, Seruni terlalu baik hati sehingga beberapa penghuni unit lain menjadi (sok) tahu, bahwa suami perempuan itu sudah di surga. Padahal, sejak awal, perempuan itu tidak punya suami.

Cerpen kedua cukup mengundang senyum sipu-sipu (atau mungkin ledak tawa?), sebab dialog serta adegannya begitu merakyat. Aroma Dapur Tetangga seperti benar-benar dihadirkan dari dapur tetangga yang temboknya ternyata hanya selapis. Lubang ventilasi sebesar ukuran batu bata menjadi jalur bebas hambatan yang menyalurkan segala macam aroma dari dapur Bu Nurdiasih ke dapur Denayu.

Penulis juga menyajikan beberapa judul bercerita tentang perempuan. Ada Yarasia, Naga dalam Mulut Kartika, Pohon Pisang di Meja Makan, serta tajuk buku ini sendiri, Arum Manis. Dengan manisnya, penulis mengundang pembaca untuk menyelam makin dalam ke dunia para empu. Dari Yarasia kita paham, bahwa buah hati tidak melulu yang terbit dari rahim sendiri.

Dari Kartika kita paham, bahwa kenangan kadang teramat kejam mengikat. Dari Yemima kita paham, bahwa sebuah keinginan, jika tidak disikapi dengan bijak, bisa berakhir fatal. Dan, dari Leafi kita paham, bahwa luka yang ada di dalam hanya bisa mengering sementara tanpa pernah sembuh dengan benar.

Dari dua puluh dua cerita yang ada, Aroma Kenanga menjadi salah satu yang menarik pikiran saya ke mana-mana. “Gisa paham kalau aku menikahinya lantaran tergila-gila dengan aroma kenanga yang ada di dadanya. Aroma segar itu menguar dari kelopak dua tangkai kenanga yang tumbuh di dadanya. Saat pertama kali dia mempertontonkannya kepadaku, kemudian mengizinkanku untuk sedikit menghirupnya, serta-merta kepalaku ditanami serbuk candu. Acap kali, saat menikmati lekuk-lekuk kenanga itu, aku tergoda untuk menjemba, merengkuh, dan kulumat tanpa sisa.” (Aroma Kenanga, halaman 42)

Tidak perlu dijelaskan lagi bagaimana apiknya penulis menuntun pembaca untuk turut serta menikmati aroma kenanga. Rasanya, orang yang baru melihat bunga kenanga tanpa pernah menghidu aromanya, akan mengerti kebahagiaan macam apa yang dialami si tokoh dalam cerita. Narasi yang persuasif sekaligus menghanyutkan.

Mengawinkan Realitas dan Fiksi

Pengalaman adalah guru terbaik. Ia mengajarkan banyak hal yang tidak pernah ada di bangku sekolah. Hidup dan kehidupan adalah sarana belajar. Tentu, ada yang berhasil dan sukses, ada pula yang tampak jalan di tempat. Namun, sejatinya, semua bergantung dari sudut mana kita melihat. Juga, seberapa besar level penerimaan kita terhadap segala yang terjadi.

Lakon hidup yang beragam ini yang coba digambarkan oleh Teguh Affandi melalui kata-kata. Ada yang berhasil mengantarkan/menyampaikan pesan dan rasa simpati, ada pula yang cenderung hanya menghasilkan kerut-kerut di dahi pembaca. Secara umum, usaha Teguh cukup berhasil. Dalam artian, ia memang bisa menulis dengan baik.

Terbukti, dari sekian banyak judul dalam buku ini pernah tayang di berbagai media cetak nasional. Tentu itu sebuah prestasi yang luar biasa sebab tidak semua penulis fiksi bisa mencapainya. Hanya saja, seperti halnya hidup yang tidak sempurna, beberapa kali mata saya terjungkal ketika menemukan kesalahan teknis, alur yang tidak selaras, bahkan kesamaan tema pada beberapa judul.

Setidaknya ada lima judul dengan tema serupa yang ditempatkan berurutan di bagian akhir. Cerita-cerita itu mungkin saja tidak ditulis pada waktu yang relatif berdekatan, tetapi menempatkannya berurutan bisa jadi menimbulkan kesan bahwa penulis kehabisan ide dan hanya sanggup mengganti detail serta momen.

Apa pun latarnya, saya yakin penulis dan editor punya pertimbangan khusus dalam menyusun judul demi judul. Saya menduga penulis ingin memastikan bahwa pembaca tidak mengait-ngaitkan isi cerita sebagai pengalaman pribadi sang penulis. Pasalnya, memang begitulah yang kerap terjadi. Pembaca yang usil tentu akan menggoda penulis agar mengakui bahwa hal itu adalah bagian dari pengalaman hidup penulis. Saya rasa ini memang kasar, tetapi penulis cerpen (dan novel) punya jurus andalan untuk mengelak: “Itu cuma fiksi.”

Baiknya saya kutip sedikit pengantar dari Budi Darma. Kendati fiksi adalah khayalan, jadi tidak mungkin terjadi dalam realita, pada hakikatnya fiksi tidak bisa melepaskan diri dari realita. Fiksi ditulis oleh pengarang, sementara itu, pengarang adalah sebuah individu dalam masyarakat. Keberadaan pengarang sebagai individu dalam masyarakat ini mau tidak mau mengikat pengarang untuk tidak lepas dari realita. Fiksi, dengan demikian, adalah abstraksi realita yang diolah oleh pengarang melalui senjata utamanya, yaitu imajinasi. Karena itu, fiksi bisa tidak masuk akal karena pengaruh imajinasi pengarangnya, dan juga bisa masuk akal karena pengarang tidak lain adalah produk berbagai permasalahan sosial. (halaman ix-x)

Saya jadi teringat dua nama, yaitu Oka Rusmini dan Minanto. Dua nama ini menulis sesuatu berdasarkan latar tempat tinggal mereka. Rusmini dengan kehidupan kasta tinggi di Bali, sementara Minanto dengan kehidupan masyarakat pantura (Indramayu). Oh, tentunya masih banyak nama lain, termasuk juga Pram yang menjadikan Blora sebagai latar salah satu karyanya. Saya pun kerap melakukannya pada sekian cerpen―memakai Cirebon sebagai latar, memasukkan segala pernak-pernik kota itu.

Alam fiksi memang alam imajinasi. Dunia yang dibangun berdasarkan permainan pikiran. Akan tetapi, imajinasi ini tentu tidak melulu lahir begitu saja. Ada yang melatari. Dan, biasanya, latar itu adalah pengalaman pengarang sendiri. Ya, tentu bukan hanya yang dialami secara langsung oleh pengarang sendiri. Bisa jadi kisah itu adalah milik orang lain yang sengaja mereka ceritakan kepada pengarang. Tinggal diubah sana-sini, jadilah.

Maka, tidak heran jika banyak pembaca merasa bahwa itu kisah mereka. Bahkan, mungkin juga cerita itu mirip dengan yang pernah ditulis cerpenis lain. Barangkali alasan itu yang pula yang menjadi latar sub judul Cerita Bukan tentang Cerita Kita untuk kumpulan cerpen ini. Saya, Anda, dan Dia. Tidak ada Kita.

Maka, sejatinya penulis ingin memastikan pembaca membebaskan pikiran dari reaksi apa pun yang muncul selepas menuntaskan buku ini. Pada akhirnya, ketika pembaca dengan usilnya menuduh bahwa yang kita tulis adalah realitas yang kita alami, kita tetap bisa bersembunyi di balik senjata, “Itu cuma fiksi, Sayang.” Sekian.

Judul buku : Arum Manis

Penulis : Teguh Affandi

Penerbit : Gramedia Pustaka Utama

Cetak : Pertama, Mei 2022

Tebal : xviii + 150 halaman

ISBN : 978-602-06-6196-4
(hdr)
Komentar
Copyright © 2022 SINDOnews.com
read/ rendering in 0.1772 seconds (11.97#12.26)