Indonesia Bisa Terlepas dari Ketergantungan Impor dengan Pangan Lokal
Jum'at, 12 Agustus 2022 - 02:07 WIB
loading...
A
A
A
Kementan melakukan dua langkah untuk menghadapi ancaman krisis pangan dunia. Dua langkah itu adalah memantapkan kapasitas produksi dari tanaman pangan lokal yang sudah ada seperti padi dan jagung, serta melakukan diversifikasi produksi dan konsumsi tanaman pangan lokal.
"Jepang, Korea itu kuat karena cinta produksinya. Jangan membeli produk orang lain. Belilah produk-produk petani kita," imbuhnya.
Dia mengungkapkan, ada beragam tanaman pangan lokal yang berpotensi menjadi pengganti gandum seperti sorgum, singkong, ubi jalar, talas, sagu, dan lainnya. Adapun yang tengah digencarkan saat ini oleh Kementan adalah perluasan produksi sorgum.
Pasalnya, sorgum mudah dibudidayakan pada lahan yang tidak subur, bahkan tandus. Selain itu, sorgum juga masih satu kerabat dengan gandum dalam penamaan ilmiah. "Kelebihan sorgum adalah sekali tanam bisa dikepras dua kali. Artinya, setahun bisa tiga kali panen dengan sekali masa tanam," ujarnya.
Sementara itu, penyuluh Pertanian Lapang Kabupaten Lamongan, Jawa Timur, Esti Fauziah mengatakan bahwa sorgum tidak memerlukan persiapan banyak sebelum ditanam. "Bahkan di tanah berbatu saja sorgum bisa tumbuh dengan baik. Tidak seperti tanaman padi yang memerlukan air banyak, memerlukan olah tanah,” ujarnya dalam diskusi tersebut.
Sebaran lahan tanaman sorgum banyak berada di Nusa Tenggara Timur dan Nusa Tenggara Barat dengan produktivitas berkisar 3-4 ton per hektare berdasarkan data Direktorat Jenderal Tanaman Pangan. Sedangkan di Jawa Tengah dan Jawa Timur produktivitasnya 4-5 ton per hektare.
"Jepang, Korea itu kuat karena cinta produksinya. Jangan membeli produk orang lain. Belilah produk-produk petani kita," imbuhnya.
Dia mengungkapkan, ada beragam tanaman pangan lokal yang berpotensi menjadi pengganti gandum seperti sorgum, singkong, ubi jalar, talas, sagu, dan lainnya. Adapun yang tengah digencarkan saat ini oleh Kementan adalah perluasan produksi sorgum.
Pasalnya, sorgum mudah dibudidayakan pada lahan yang tidak subur, bahkan tandus. Selain itu, sorgum juga masih satu kerabat dengan gandum dalam penamaan ilmiah. "Kelebihan sorgum adalah sekali tanam bisa dikepras dua kali. Artinya, setahun bisa tiga kali panen dengan sekali masa tanam," ujarnya.
Sementara itu, penyuluh Pertanian Lapang Kabupaten Lamongan, Jawa Timur, Esti Fauziah mengatakan bahwa sorgum tidak memerlukan persiapan banyak sebelum ditanam. "Bahkan di tanah berbatu saja sorgum bisa tumbuh dengan baik. Tidak seperti tanaman padi yang memerlukan air banyak, memerlukan olah tanah,” ujarnya dalam diskusi tersebut.
Sebaran lahan tanaman sorgum banyak berada di Nusa Tenggara Timur dan Nusa Tenggara Barat dengan produktivitas berkisar 3-4 ton per hektare berdasarkan data Direktorat Jenderal Tanaman Pangan. Sedangkan di Jawa Tengah dan Jawa Timur produktivitasnya 4-5 ton per hektare.
Lihat Juga :