Relasi Kuasa dalam Fenomena Citayam Fashion Week
Selasa, 02 Agustus 2022 - 19:19 WIB
loading...
A
A
A
Ketiga, "perlawanan" terhadap otoritas mode. Kesulitan anak-anak muda mengakses catwalk berkelas yang didominasi para desainer otoritatif membuat anak-anak muda ini mendadak melakukan kreativitas tanpa batas dan menjadikan CFW sebagai catwalk kreatif yang melampaui usianya dan melampaui pemahaman umum masyarakat.
Mereka tidak kalah "unik" dengan produk desainer profesional. Perhatikan beberapa tayangan kreatif ini di media sosial yang tak kalah “gila”-nya dengan karya desainer dunia. "Tidak perlu modal besar untuk modis", begitu kira-kira ungkapan mereka.
Anak-anak muda tersebut hanya ingin mengatakan bahwa dengan potongan baju yang dibeli di kaki lima, tas tangan dibeli di pasar tradisional, kacamata keren dari penjual pinggir jalan, dan sebagainya mampu menjadikan mereka lebih trendi dan ciamik. Mereka hanya ingin mengatakan, "Selamat datang para pedagang kaki lima, Anda tidak perlu minder menghadapi mal maupun butik-butik mahal."
Sekali lagi, menarik mengutip teori dan pernyataan Foucault bahwa kekuasaan tidak dapat dipisahkan dengan pengetahuan. Kekuasaan menghasilkan pengetahuan dan pengetahuan dibentuk oleh kekuasaan. Sebelum hegemoni mode makin menguat di tangan para desainer yang dianggap “otoritatif”, CFW meng-ambyar-kan itu semua, yang bisa jadi melawan kuasa pengetahuan untuk melahirkan pengetahuan baru.
Tangan-tangan jahil anak-anak muda tersebut mampu menarik perhatian khalayak, termasuk orang-orang yang selama ini profesional di dunia mode. Gegara CFW, pengetahuan yang dipandang telah mantap pada masanya kini menjadi begitu cair.
Terlepas dari kontroversi keberadaan CFW ini, ia serasa sedang berusaha menormalisasi kuasa otoritas agar menyebar secara merata. Wallahu a'lam.
Baca berita menarik lainnya di e-paper koran-sindo.com
Mereka tidak kalah "unik" dengan produk desainer profesional. Perhatikan beberapa tayangan kreatif ini di media sosial yang tak kalah “gila”-nya dengan karya desainer dunia. "Tidak perlu modal besar untuk modis", begitu kira-kira ungkapan mereka.
Anak-anak muda tersebut hanya ingin mengatakan bahwa dengan potongan baju yang dibeli di kaki lima, tas tangan dibeli di pasar tradisional, kacamata keren dari penjual pinggir jalan, dan sebagainya mampu menjadikan mereka lebih trendi dan ciamik. Mereka hanya ingin mengatakan, "Selamat datang para pedagang kaki lima, Anda tidak perlu minder menghadapi mal maupun butik-butik mahal."
Sekali lagi, menarik mengutip teori dan pernyataan Foucault bahwa kekuasaan tidak dapat dipisahkan dengan pengetahuan. Kekuasaan menghasilkan pengetahuan dan pengetahuan dibentuk oleh kekuasaan. Sebelum hegemoni mode makin menguat di tangan para desainer yang dianggap “otoritatif”, CFW meng-ambyar-kan itu semua, yang bisa jadi melawan kuasa pengetahuan untuk melahirkan pengetahuan baru.
Tangan-tangan jahil anak-anak muda tersebut mampu menarik perhatian khalayak, termasuk orang-orang yang selama ini profesional di dunia mode. Gegara CFW, pengetahuan yang dipandang telah mantap pada masanya kini menjadi begitu cair.
Terlepas dari kontroversi keberadaan CFW ini, ia serasa sedang berusaha menormalisasi kuasa otoritas agar menyebar secara merata. Wallahu a'lam.
Baca berita menarik lainnya di e-paper koran-sindo.com
(bmm)
Lihat Juga :