Bukan Hanya Beras
Senin, 29 Juni 2020 - 08:00 WIB
loading...
A
A
A
Kebijakan ini berhasil menumbuhkan kebiasaan “tidak tergantung nasi” saat makan siang, yang diturunkan ke generasi selanjutnya sehingga konsumsi beras di Negeri Sakura menurun drastis. Pada tahun 1960-an, 70% sumber kalori masyarakat Jepang masih dominan beras, sedangkan saat ini beras hanya menyumbang 11% kebutuhan kalori warga Jepang.
Diversifikasi pangan di Jepang tidak hanya fokus pada penganekaragaman pangan nonberas, tapi juga menganekaragamkan sumber kalori. Saat ini sumber kalori utama warga Jepang adalah susu, telur, dan daging. Ketiga bahan pangan protein hewani ini merupakan sumber kalori tertinggi bagi masyarakat dengan proporsi sekitar 17%. Fakta empiris di negara ini menunjukkan langkah diversifikasi pangan berhasil membuat angka harapan hidup penduduk (life expectancy) meningkat. Karena diversifikasi pangan membuat masyarakat menjadi lebih sehat hingga berumur panjang.
Hal sebaliknya terjadi di Indonesia. Sebuah studi merilis data, tahun 1954 proporsi beras sebagai sumber karbohidrat penduduk Indonesia hanya sebesar 53,5%, sisanya dipenuhi dari ubi kayu (22,6%), jagung (18,9%), dan kentang (4,99%). Artinya, di masa itu, masyarakat tidak menjadikan beras sebagai sumber utama karbohidrat. Seiring perjalanan waktu, beras semakin dominan sebagai sumber karbohidrat masyarakat.
Program swasembada pangan yang identik dengan beras, nilai prestise nasi sebagai makanan orang mampu dan pameo “belum makan, kalau belum makan nasi” semakin kuat di benak masyarakat. Akibatnya, di akhir tahun 80-an, proporsi beras semakin dominan sebagai sumber karbohidrat mencapai 81,1%, sisanya ubi kayu (10,02%) dan jagung (7,82%). Bahkan, sejak 2010, pangsa pangan nonberas nyaris hilang, tetapi tergantikan dengan konsumsi terigu impor yang mencapai 17 kg per kapita per tahun atau naik 500% dalam kurun waktu 30 tahun.
Pada waktu yang lalu, pembangunan pertanian dan pangan terpusat pada penyediaan sarana dan prasarana produksi padi hingga pengaturan distribusi, logistik dan penyimpanan, serta tata niaga beras. Penyeragaman konsumsi beras di Indonesia membuat makanan pokok lokal terabaikan dan menunjukkan sistem sentralistik dari pemerintahan masa itu.
Kondisi ini mulai kita rasakan saat ini. Hilangnya kebiasaan masyarakat mengonsumsi karbohidrat nonberas, seolah menafikan dan mengabaikan kekayaan hayati ibu pertiwi. Setidaknya ada 100 jenis makanan karbohidrat mulai dari kentang, singkong, sagu, terigu, dan lain-lain. Indonesia tertinggal jauh dalam persoalan diversifikasi pangan bila dibandingkan negara lain, seperti Korea, Jepang, Malaysia, maupun Thailand. Padahal dari sisi keragaman sumber daya pangan lokal, negara kita jauh lebih kaya.
Dampaknya, tingginya biaya logistik dan distribusi karena sentra beras masih di beberapa daerah tertentu membuat harga beras rentan. Selain itu, memori kolektif masyarakat terhadap sumber daya pangan lokal telah terkikis. Langkah antisipatif untuk mencegah krisis pangan di masa mendatang adalah melalui pengurangan konsumsi beras dan mengedukasi masyarakat pentingnya konsumsi pangan yang lebih beragam.
Diversifikasi pangan di Jepang tidak hanya fokus pada penganekaragaman pangan nonberas, tapi juga menganekaragamkan sumber kalori. Saat ini sumber kalori utama warga Jepang adalah susu, telur, dan daging. Ketiga bahan pangan protein hewani ini merupakan sumber kalori tertinggi bagi masyarakat dengan proporsi sekitar 17%. Fakta empiris di negara ini menunjukkan langkah diversifikasi pangan berhasil membuat angka harapan hidup penduduk (life expectancy) meningkat. Karena diversifikasi pangan membuat masyarakat menjadi lebih sehat hingga berumur panjang.
Hal sebaliknya terjadi di Indonesia. Sebuah studi merilis data, tahun 1954 proporsi beras sebagai sumber karbohidrat penduduk Indonesia hanya sebesar 53,5%, sisanya dipenuhi dari ubi kayu (22,6%), jagung (18,9%), dan kentang (4,99%). Artinya, di masa itu, masyarakat tidak menjadikan beras sebagai sumber utama karbohidrat. Seiring perjalanan waktu, beras semakin dominan sebagai sumber karbohidrat masyarakat.
Program swasembada pangan yang identik dengan beras, nilai prestise nasi sebagai makanan orang mampu dan pameo “belum makan, kalau belum makan nasi” semakin kuat di benak masyarakat. Akibatnya, di akhir tahun 80-an, proporsi beras semakin dominan sebagai sumber karbohidrat mencapai 81,1%, sisanya ubi kayu (10,02%) dan jagung (7,82%). Bahkan, sejak 2010, pangsa pangan nonberas nyaris hilang, tetapi tergantikan dengan konsumsi terigu impor yang mencapai 17 kg per kapita per tahun atau naik 500% dalam kurun waktu 30 tahun.
Pada waktu yang lalu, pembangunan pertanian dan pangan terpusat pada penyediaan sarana dan prasarana produksi padi hingga pengaturan distribusi, logistik dan penyimpanan, serta tata niaga beras. Penyeragaman konsumsi beras di Indonesia membuat makanan pokok lokal terabaikan dan menunjukkan sistem sentralistik dari pemerintahan masa itu.
Kondisi ini mulai kita rasakan saat ini. Hilangnya kebiasaan masyarakat mengonsumsi karbohidrat nonberas, seolah menafikan dan mengabaikan kekayaan hayati ibu pertiwi. Setidaknya ada 100 jenis makanan karbohidrat mulai dari kentang, singkong, sagu, terigu, dan lain-lain. Indonesia tertinggal jauh dalam persoalan diversifikasi pangan bila dibandingkan negara lain, seperti Korea, Jepang, Malaysia, maupun Thailand. Padahal dari sisi keragaman sumber daya pangan lokal, negara kita jauh lebih kaya.
Dampaknya, tingginya biaya logistik dan distribusi karena sentra beras masih di beberapa daerah tertentu membuat harga beras rentan. Selain itu, memori kolektif masyarakat terhadap sumber daya pangan lokal telah terkikis. Langkah antisipatif untuk mencegah krisis pangan di masa mendatang adalah melalui pengurangan konsumsi beras dan mengedukasi masyarakat pentingnya konsumsi pangan yang lebih beragam.