7 Habib yang Memiliki Peran dalam Kemerdekaan RI, Nomor 5 Ciptakan Mars Hari Merdeka
Minggu, 31 Juli 2022 - 18:52 WIB
loading...
A
A
A
Ia menimba ilmu dari sekitar 400 ulama, baik langsung maupun surat-menyurat. Habib Salim juga kerap bepergian ke pelosok untuk menimba ilmu atau berdakwah.
Selain mengajarkan ilmu kepada masyarakat, Habib Salim juga merupakan tokoh perjuangan yang berpengaruh bersam Habib Ali Alhabsyi dan Habib Ali Alathas Bungur. Ia kerap mengeluarkan kritikan serta fatwa tegas tentang antipenjajahan. Akibat fatwa-fatwanya, Habib Salim pernah ditangkap di masa penjajahan Belanda maupun Jepang. Habib Salim wafat di Jakarta, 1 Juni 1969.
4. Al Habib Syeikh Al Athas
![7 Habib yang Memiliki Peran dalam Kemerdekaan RI, Nomor 5 Ciptakan Mars Hari Merdeka]()
Habib Syeikh Al Athas merupakan putra Habib Salim bin Umar bin Syekh Al-Athas yang lahir di Hadramaut, Yaman pada 1891. Saat usia 7 tahun, ia berguru kepada Habib Abdullah bin Alwi Al Athas yangmerupajan ulama kelahiran Cirebon, Jawa Barat.
Habib Syeikh belajar sepanjang siang dan malam, kecuali di hari Jumat, di Masjid Ba 'Alawi yang didirikan oleh Habib Abdullah. Bahkan ia tinggal di masjid tersebut untuk mendapatkan bimbingan langsung dalam berbagai hal, terutama terkait kemuliaan pribadi. Pada usian 12 tahun, Habib Syeikh telah menjadi seorang tahfiz Al-Qur'an.
Di usia 27 tahun, Habib Syekh berkunjung ke Indonesia, tepatnya Tegal, Jawa Tengah. Ia kemudian beliau menjalin silaturrahmi dengan para ulama, sesepuh, dan pembesar setempat, serta tokoh Alawiyyin yang ketika itu sudah banyak bermukim di Indonesia.
Dari silaturahmi yang dijalin itu, Habib Syeikh menjadi mengetahui situasi di Indonesia yang sedang dijajah Belanda. Ia pun akhirnya ikut dalam berjuang melalui jalur dakwah sambil berniaga. Habib Syekh berusaha mendorong dan menggalang kebersamaan dan kerukunan di antara kaum muslimin dalam bingkai roh kemanusiaan. Habib Syeikh Al Athas wafat di Jawa Barat, 1 Juli 1978.
5. Al Habib Husein Muthahar
![7 Habib yang Memiliki Peran dalam Kemerdekaan RI, Nomor 5 Ciptakan Mars Hari Merdeka]()
Nama lengkapnya Sayyid Muhammad Husein bin Salim bin Ahmad bin Salin bin Ahmad Al-Muthahar. Habib kelahiran Semarang, 5 Agustus 1916 ini merupakan seorang komponis musik Indonesia. Lagu ciptaannya yang masyhur adalah Hymne Syukur dan mars Hari Merdeka. Lagu ciptaannya, Dirgahayu Indonesiaku menjadi lagu resmi HUT ke-50 Kemerdekaan RI.
Habib Husein Muthahar lahir dari keluarga Arab-Indonesia yang mapan dan termasuk kelompok Sayyid. Ia menamatkan pendidikan di MULO B pada 1934 dan AMS A-1 pada 1938. Ia sempat melanjutkan pendidikan tinggi di Universitas Gadjah Mada (UGM) mengambil Jurusan Hukum pada 1946-1947. Saat itu ia telah bekerja sebagai Sekretaris Panglima Angkatan Laut RI di Yogyakarta.
Habib Husein Muthahar menjadi pegawai tinggi Sekretariat Negara di Yogyakarta pada 1947. Setelah itu, jabatannya loncat-loncat antardepartemen. Puncaknya, habib yang menguasai enma bahasa ini ditunjuk menjadi Duta Besar RI untuk Vatikan pada 1967-1973.
Selain menjadi abdi negara, Habib Husein juga aktif dalam kegiatan kepanduan. Ia menjadi tokoh utama dalam peleburan semua gerakan kepanduan menjadi Gerakan Pramuka. Ia pun menciptakan sejumlah lagu kepanduan, antara lain Gembira, Tepuk Tangan Silang-silang, Mari Tepuk, Slamatlah, Jangan Putus Asa, Saat Berpisah, dan Hymne Pramuka.
Pada HUT ke-1 Kemerdekaan RI, Habib Husein Muthahar mendapatkan tugas dari Presiden Soekarno untuk menyusun upacara pengibaran bendera Merah Putih, 17 Agustus 1946. Ia kemudian memilih lima pemuda dari berbagai daerah yang berdomisili di Yogyakarta sebagai pengibar bendera. Menurutnya, pengibar bendera adalah anak-anak muda yang mewakili daerah-daerah di Indonesia.
Di era Presiden Soeharto, Habib Husein Muthahar yang duduk sebagai Direktur Jenderal Urusan Pemuda dan Pramuka Depdikbud, juga diminta menyusun tata cara pengibaran Bendera Pusaka. Ia kemudian membagi satu pasukan pengibar bendara menjadi tiga kelompok. Kelompok 17 sebagai pengiring atau pemandu; kelompok 8 sebagai kelompok inti pembawa bendera; kelompok 45 sebagai pengawal. Pembagian menjadi tiga kelompok tersebut merupakan simbol dari tanggal Proklamasi Kemerdekaan Bangsa Indonesia.
Atas pengabdiannya kepada negara, Habib Husein Muthahar meraih penghargaan Bintang Gerilya dan Bintang Mahaputra. Ia wafat di Jakarta pada 9 Juni 2004.
6. Al Habib Syarif Sultan Abdul Hamid II
![7 Habib yang Memiliki Peran dalam Kemerdekaan RI, Nomor 5 Ciptakan Mars Hari Merdeka]()
Syarif Abdul Hamid Al-Qadri atau dikenal dengan Sultan Hamid II lahir di Pontianak, Kalimatan Barat pada 12 Juli 1913 dari pasangan Syarif Muhammad Al-Qadri dan Syecha Jamilah Syarwani. Dia merupakan perancang Lambang Negara Indonesia, Garuda Pancasila.
Sultan Hamid II menempuh pendidikan sekolah dasar atau Europeesche Lagere School (ELS) di beberapa kota, yakni Sukabumi, Pontianak, Yogyakarta, dan Bandung. Ia kemudian meneruskan pendidikan sekolah menengah umum atau Hoogere Burgerschool (HBS) di Bandung selama setahun. Lalu melanjutkan Technische Hoogeschool (THS) Bandung tapi tidak tamat.
Selain mengajarkan ilmu kepada masyarakat, Habib Salim juga merupakan tokoh perjuangan yang berpengaruh bersam Habib Ali Alhabsyi dan Habib Ali Alathas Bungur. Ia kerap mengeluarkan kritikan serta fatwa tegas tentang antipenjajahan. Akibat fatwa-fatwanya, Habib Salim pernah ditangkap di masa penjajahan Belanda maupun Jepang. Habib Salim wafat di Jakarta, 1 Juni 1969.
4. Al Habib Syeikh Al Athas

Habib Syeikh Al Athas merupakan putra Habib Salim bin Umar bin Syekh Al-Athas yang lahir di Hadramaut, Yaman pada 1891. Saat usia 7 tahun, ia berguru kepada Habib Abdullah bin Alwi Al Athas yangmerupajan ulama kelahiran Cirebon, Jawa Barat.
Habib Syeikh belajar sepanjang siang dan malam, kecuali di hari Jumat, di Masjid Ba 'Alawi yang didirikan oleh Habib Abdullah. Bahkan ia tinggal di masjid tersebut untuk mendapatkan bimbingan langsung dalam berbagai hal, terutama terkait kemuliaan pribadi. Pada usian 12 tahun, Habib Syeikh telah menjadi seorang tahfiz Al-Qur'an.
Di usia 27 tahun, Habib Syekh berkunjung ke Indonesia, tepatnya Tegal, Jawa Tengah. Ia kemudian beliau menjalin silaturrahmi dengan para ulama, sesepuh, dan pembesar setempat, serta tokoh Alawiyyin yang ketika itu sudah banyak bermukim di Indonesia.
Dari silaturahmi yang dijalin itu, Habib Syeikh menjadi mengetahui situasi di Indonesia yang sedang dijajah Belanda. Ia pun akhirnya ikut dalam berjuang melalui jalur dakwah sambil berniaga. Habib Syekh berusaha mendorong dan menggalang kebersamaan dan kerukunan di antara kaum muslimin dalam bingkai roh kemanusiaan. Habib Syeikh Al Athas wafat di Jawa Barat, 1 Juli 1978.
5. Al Habib Husein Muthahar

Nama lengkapnya Sayyid Muhammad Husein bin Salim bin Ahmad bin Salin bin Ahmad Al-Muthahar. Habib kelahiran Semarang, 5 Agustus 1916 ini merupakan seorang komponis musik Indonesia. Lagu ciptaannya yang masyhur adalah Hymne Syukur dan mars Hari Merdeka. Lagu ciptaannya, Dirgahayu Indonesiaku menjadi lagu resmi HUT ke-50 Kemerdekaan RI.
Habib Husein Muthahar lahir dari keluarga Arab-Indonesia yang mapan dan termasuk kelompok Sayyid. Ia menamatkan pendidikan di MULO B pada 1934 dan AMS A-1 pada 1938. Ia sempat melanjutkan pendidikan tinggi di Universitas Gadjah Mada (UGM) mengambil Jurusan Hukum pada 1946-1947. Saat itu ia telah bekerja sebagai Sekretaris Panglima Angkatan Laut RI di Yogyakarta.
Habib Husein Muthahar menjadi pegawai tinggi Sekretariat Negara di Yogyakarta pada 1947. Setelah itu, jabatannya loncat-loncat antardepartemen. Puncaknya, habib yang menguasai enma bahasa ini ditunjuk menjadi Duta Besar RI untuk Vatikan pada 1967-1973.
Selain menjadi abdi negara, Habib Husein juga aktif dalam kegiatan kepanduan. Ia menjadi tokoh utama dalam peleburan semua gerakan kepanduan menjadi Gerakan Pramuka. Ia pun menciptakan sejumlah lagu kepanduan, antara lain Gembira, Tepuk Tangan Silang-silang, Mari Tepuk, Slamatlah, Jangan Putus Asa, Saat Berpisah, dan Hymne Pramuka.
Pada HUT ke-1 Kemerdekaan RI, Habib Husein Muthahar mendapatkan tugas dari Presiden Soekarno untuk menyusun upacara pengibaran bendera Merah Putih, 17 Agustus 1946. Ia kemudian memilih lima pemuda dari berbagai daerah yang berdomisili di Yogyakarta sebagai pengibar bendera. Menurutnya, pengibar bendera adalah anak-anak muda yang mewakili daerah-daerah di Indonesia.
Di era Presiden Soeharto, Habib Husein Muthahar yang duduk sebagai Direktur Jenderal Urusan Pemuda dan Pramuka Depdikbud, juga diminta menyusun tata cara pengibaran Bendera Pusaka. Ia kemudian membagi satu pasukan pengibar bendara menjadi tiga kelompok. Kelompok 17 sebagai pengiring atau pemandu; kelompok 8 sebagai kelompok inti pembawa bendera; kelompok 45 sebagai pengawal. Pembagian menjadi tiga kelompok tersebut merupakan simbol dari tanggal Proklamasi Kemerdekaan Bangsa Indonesia.
Atas pengabdiannya kepada negara, Habib Husein Muthahar meraih penghargaan Bintang Gerilya dan Bintang Mahaputra. Ia wafat di Jakarta pada 9 Juni 2004.
6. Al Habib Syarif Sultan Abdul Hamid II

Syarif Abdul Hamid Al-Qadri atau dikenal dengan Sultan Hamid II lahir di Pontianak, Kalimatan Barat pada 12 Juli 1913 dari pasangan Syarif Muhammad Al-Qadri dan Syecha Jamilah Syarwani. Dia merupakan perancang Lambang Negara Indonesia, Garuda Pancasila.
Sultan Hamid II menempuh pendidikan sekolah dasar atau Europeesche Lagere School (ELS) di beberapa kota, yakni Sukabumi, Pontianak, Yogyakarta, dan Bandung. Ia kemudian meneruskan pendidikan sekolah menengah umum atau Hoogere Burgerschool (HBS) di Bandung selama setahun. Lalu melanjutkan Technische Hoogeschool (THS) Bandung tapi tidak tamat.
Lihat Juga :