Anak-Anak, Kembalilah Bermain!
Senin, 25 Juli 2022 - 08:22 WIB
loading...
A
A
A
Di sektor kesehatan, perubahan juga terlihat dari bagaimana keluarga-keluarga menyiapkan anak-anaknya selalu bersih setiap saat. Masker, hand sanitizer, dan kebiasaan mencuci tangan menjadi tiga hal yang nyaris tak pernah dilupakan demi menghindari virus korona.
Baca juga: Hari Anak Nasional, Cukupi Hidrasi Anak demi Perkembangan Kognitifnya
Perubahan lain pada anak akibat pandemi yang kini sudah memasuki tahun ketiga adalah terkait kebiasaan bermain. Kebiasaan ini bagaimanapun diakui tidak bisa lepas dari dunia anak. Apapun kondisi yang ada, bermain adalah naturnya anak. Maka, pandemi menjadi batu ujian yang cukup menantang bagi para orang tua untuk menyediakan sarana bermain bagi anak-anak.
Ujian bagi orang tua ini sangat terasa karena saat pandemi anak-anak mau tidak mau begitu dekat dengan gadget untuk sekolah online. Masalah kemudian muncul ketika di luar waktu sekolah pun ternyata banyak anak yang cenderung tak bisa lepas dari telepon seluler. Aktivitas berselancar di media sosial dan bermain gim pun menjadi hal yang lumrah dilakukan anak-anak, bahkan kalangan anak prasekolah.
Ini sejalan dengan temuan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), selama masa pandemi, 79% anak diperbolehkan menggunakan gawai selain untuk belajar. Kemudian, 71,3% anak memiliki gawai sendiri, dan 79% anak menggunakan gawai tanpa ada aturan dari orang tua.
Data ini tentu saja menjadi temuan yang menarik karena hal ini menunjukkan bahwa ‘kesibukan’ anak cenderung teralihkan ke aktivitas online ketimbang bermain di luar rumah di saat pandemi. Kondisi ini tentu harus menjadi perhatian serius karena di balik sisi positifnya penggunaan gadget untuk sekolah, ada ancaman lain yang mengintai dari kebiasaan berselancar di internet. Beberapa ancaman tersebut antara lain, pornografi, kekerasan, hingga perundungan secara siber.
Baca juga: Hari Anak Nasional, Cukupi Hidrasi Anak demi Perkembangan Kognitifnya
Perubahan lain pada anak akibat pandemi yang kini sudah memasuki tahun ketiga adalah terkait kebiasaan bermain. Kebiasaan ini bagaimanapun diakui tidak bisa lepas dari dunia anak. Apapun kondisi yang ada, bermain adalah naturnya anak. Maka, pandemi menjadi batu ujian yang cukup menantang bagi para orang tua untuk menyediakan sarana bermain bagi anak-anak.
Ujian bagi orang tua ini sangat terasa karena saat pandemi anak-anak mau tidak mau begitu dekat dengan gadget untuk sekolah online. Masalah kemudian muncul ketika di luar waktu sekolah pun ternyata banyak anak yang cenderung tak bisa lepas dari telepon seluler. Aktivitas berselancar di media sosial dan bermain gim pun menjadi hal yang lumrah dilakukan anak-anak, bahkan kalangan anak prasekolah.
Ini sejalan dengan temuan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), selama masa pandemi, 79% anak diperbolehkan menggunakan gawai selain untuk belajar. Kemudian, 71,3% anak memiliki gawai sendiri, dan 79% anak menggunakan gawai tanpa ada aturan dari orang tua.
Data ini tentu saja menjadi temuan yang menarik karena hal ini menunjukkan bahwa ‘kesibukan’ anak cenderung teralihkan ke aktivitas online ketimbang bermain di luar rumah di saat pandemi. Kondisi ini tentu harus menjadi perhatian serius karena di balik sisi positifnya penggunaan gadget untuk sekolah, ada ancaman lain yang mengintai dari kebiasaan berselancar di internet. Beberapa ancaman tersebut antara lain, pornografi, kekerasan, hingga perundungan secara siber.
Lihat Juga :