Pertaruhan Kepolisian
Jum'at, 15 Juli 2022 - 11:13 WIB
loading...
A
A
A
Di samping sudah membentuk tim khusus gabungan internal dan eksternal, Polri semestinya juga membentuk gugus tugas khusus dalam manajemen komunikasi. Harus ditunjuk siapa yang menjadi juru bicara khusus agar komunikasi bersumber dari satu pintu. Simpang-siur pemahaman internal Polri dalam merespons kejaran wartawan dan desakan publik akan membuat masalah semakin rumit. Semestinya perlu dilakukan lokalisasi dan kanalisasi informasi sehingga tidak terjadi sumbatan dan ledakan informasi yang semakin sulit dikendalikan.
Jika simpang-siur informasi di internal Polri sulit dicegah, jangan berharap ocehan ruang publik akan berhenti. Mereka akan semakin liar karena ketidakpuasan atas penjelasan Polri. Karena tidak puas, publik akan mencari-cari tahu dari berbagai sumber yang bisa ditelusuri. Artinya, suara di luar dan pernyataan resmi kepolisian bisa berseberangan dan berkebalikan. Di sinilah kepiawaian tim komunikasi kepolisian diuji kembali.
Kasus ini memang rumit dan berat. Tapi, jika komunikasi publiknya berjalan baik, sebagian masalahnya bisa ditangani. Namun, apabila internal Polri tidak solid, situasi akan menjadi semakin buram dan rumit. Padahal, kasus ini adalah pertaruhan citra Polri yang menurut survei hasilnya kurang menggembirakan.
Pengungkapan secara tuntas dan transparan kasus tembak-menembak ini akan mengangkat citra kepolisian sebagai penegak hukum, pengayom masyarakat, dan penjaga ketertiban umum. Jika kasus internal ini gagal diselesaikan, lantas bagaimana nanti dengan kasus-kasus berat lainnya? Yang paling kita takutkan adalah jika kepercayaan publik terhadap institusi kepolisian sebagai lembaga penegak hukum terus menurun. Akan semakin marak aksi main hakim sendiri, hukum rimba, pengadilan jalanan, dan sebagainya. Kita tidak berharap itu terjadi karena akibatnya bisa fatal. Karena itu, kasus ini adalah momentum pembuktian bahwa Polri benar-benar bekerja profesional, independen, dan presisi.
Baca berita menarik lainnya di e-paper koran-sindo.com
Jika simpang-siur informasi di internal Polri sulit dicegah, jangan berharap ocehan ruang publik akan berhenti. Mereka akan semakin liar karena ketidakpuasan atas penjelasan Polri. Karena tidak puas, publik akan mencari-cari tahu dari berbagai sumber yang bisa ditelusuri. Artinya, suara di luar dan pernyataan resmi kepolisian bisa berseberangan dan berkebalikan. Di sinilah kepiawaian tim komunikasi kepolisian diuji kembali.
Kasus ini memang rumit dan berat. Tapi, jika komunikasi publiknya berjalan baik, sebagian masalahnya bisa ditangani. Namun, apabila internal Polri tidak solid, situasi akan menjadi semakin buram dan rumit. Padahal, kasus ini adalah pertaruhan citra Polri yang menurut survei hasilnya kurang menggembirakan.
Pengungkapan secara tuntas dan transparan kasus tembak-menembak ini akan mengangkat citra kepolisian sebagai penegak hukum, pengayom masyarakat, dan penjaga ketertiban umum. Jika kasus internal ini gagal diselesaikan, lantas bagaimana nanti dengan kasus-kasus berat lainnya? Yang paling kita takutkan adalah jika kepercayaan publik terhadap institusi kepolisian sebagai lembaga penegak hukum terus menurun. Akan semakin marak aksi main hakim sendiri, hukum rimba, pengadilan jalanan, dan sebagainya. Kita tidak berharap itu terjadi karena akibatnya bisa fatal. Karena itu, kasus ini adalah momentum pembuktian bahwa Polri benar-benar bekerja profesional, independen, dan presisi.
Baca berita menarik lainnya di e-paper koran-sindo.com
(bmm)
Lihat Juga :