Konferensi Jurnalisme Data dan Komputasi Pertama di Asia Tenggara Digelar Akhir Juli 2022
Senin, 04 Juli 2022 - 10:54 WIB
loading...
Jurnalis dari berbagai provinsi di Indonesia mengikuti Pelatihan Data and Computational Journalism (DCJ) 2019. Foto/humas DCJ
A
A
A
JAKARTA - Data and Computational Journalism Conference Indonesia (DCJ-CI) 2022 akan hadir sebagai konferensi jurnalisme data dan komputasi pertama di Indonesia dan Asia Tenggara digelar pada 27-20 Juli mendatang, Berlangsung secara hybrid dan dwibahasa, konferensi internasional tahunan ini mempertemukan industri media, praktisi dan akademisi di bidang jurnalisme, data, ilmu sosial dan komputer, memfasilitasi diskusi multidisiplin tentang topik ini untuk memajukan penelitian dan praktik di area Jurnalisme Data dan Komputasi.
Kegiatan ini penting dan strategis karena penggunaan data dalam ruang berita saat ini sudah menjadi suatu keharusan. Pembaca kekinian tidak hanya ingin tahu apa yang terjadi di suatu tempat dan tertentu. Lebihh dari itu – mereka ingin dapat memahami dan menjelajahi konteks di balik momen itu.
Riset Dewan Pers terhadap 1.020 responden pada 2021 menunjukkan, 42,2% responden memilih faktor keberadaan data dan fakta sebagai penentu kepercayaan mereka pada suatu pemberitaan. Jumlah ini lebih besar dibandingkan responden yang memilih faktor kepercayaan berdasarkan narasumber yang diwawancarai maupun nama besar media. Tentu ini menjadi alarm bagi media untuk kembali fokus bukan hanya terhadap kecepatan, tetapi pada penyampaian fakta dan paparan yang lebih mendalam dibalik suatu informasi.
Baca juga: Sejumlah Tantangan dalam Penerapan Jurnalisme Data
Di sisi lain, sederet tantangan masih menjadi kendala penerapan jurnalisme data di berbagai dunia. State of Data Journalism Survey 2021 melaporkan penemuan yang mengejutkan bahwa ada sejumlah hambatan utama bagi jurnalis data, di antaranya akses ke data berkualitas (56%), diikuti oleh kendala waktu (49%), dan kurangnya sumber dana (47%). Di posisi keempat, survei tersebut menemukan kurangnya keterampilan analisis data yang memadai (44%). Hal itu menunjukkan bahwa jurnalis data dapat melakukan pekerjaan yang lebih baik dengan lebih banyak pelatihan.
Kegiatan ini penting dan strategis karena penggunaan data dalam ruang berita saat ini sudah menjadi suatu keharusan. Pembaca kekinian tidak hanya ingin tahu apa yang terjadi di suatu tempat dan tertentu. Lebihh dari itu – mereka ingin dapat memahami dan menjelajahi konteks di balik momen itu.
Riset Dewan Pers terhadap 1.020 responden pada 2021 menunjukkan, 42,2% responden memilih faktor keberadaan data dan fakta sebagai penentu kepercayaan mereka pada suatu pemberitaan. Jumlah ini lebih besar dibandingkan responden yang memilih faktor kepercayaan berdasarkan narasumber yang diwawancarai maupun nama besar media. Tentu ini menjadi alarm bagi media untuk kembali fokus bukan hanya terhadap kecepatan, tetapi pada penyampaian fakta dan paparan yang lebih mendalam dibalik suatu informasi.
Baca juga: Sejumlah Tantangan dalam Penerapan Jurnalisme Data
Di sisi lain, sederet tantangan masih menjadi kendala penerapan jurnalisme data di berbagai dunia. State of Data Journalism Survey 2021 melaporkan penemuan yang mengejutkan bahwa ada sejumlah hambatan utama bagi jurnalis data, di antaranya akses ke data berkualitas (56%), diikuti oleh kendala waktu (49%), dan kurangnya sumber dana (47%). Di posisi keempat, survei tersebut menemukan kurangnya keterampilan analisis data yang memadai (44%). Hal itu menunjukkan bahwa jurnalis data dapat melakukan pekerjaan yang lebih baik dengan lebih banyak pelatihan.
Lihat Juga :