Bung Karno dan Ekonomi Syariah
Jum'at, 01 Juli 2022 - 15:36 WIB
loading...
A
A
A
Gagasan Bung Karno tentang antiriba atau memerangi meerwaarde dari benih hingga akar-akarnya ini sejalan dengan apa yang juga pernah ditulis oleh gurunya, HOS Tjokroaminoto. Dalam bukunya “Islam dan Sosialisme” yang ditulis pada 1924 di Maitarat, Tjokro menegaskan juga terkait komitmen antiriba tersebut.
“… menghisap keringatnya orang-orang yang bekerja, memakan hasil pekerjaan lain orang, tidak memberikan bagian keuntungan yang mestinya (dengan seharusnya) menjadi bahagian lain orang yang turut bekerja mengeluarkan keuntungan --semua perbuatan yang serupa itu (oleh Karl Marx disebut memakan keuntungan "meerwaarde" adalah dilarang dengan sekeras-kerasnya oleh agama Islam, karena itulah perbuatan "riba" belaka. …”.
Dari pikiran yang diekspresikan Bung Karno sebagai kemarahan dan kita juga peroleh dari gurunya HOS Tjokroaminoto, sangat terang bagaimana Bung Karno punya komitmen yang begitu besar dalam menjalankan prinsip-prinsip yang ada dalam Islam, lebih khusus lagi dalam konteks ekonomi dan keuangan syariah.
Ikhtiar inilah yang kini dilanjutkan dalam kepemimpinan Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden KH Maruf Amin dalam meletakkan pondasi yang kokoh sebagai legacy atau warisan kepemimpinannya.
Kelahiran Komite Nasional Keuangan Syariah (KNKS) yang kemudian disempurnakan menjadi Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah (KNEKS), merger Bank Syariah Indonesia (BSI), memperkuat Lembaga Keuangan Mikro Syariah untuk memerangi rentenir, dan segenap ikhtiar lain untuk mewujudkan kesejahteraan bagi masyarakat Indonesia.
Baca berita lebih lengkap di e-paper koran-sindo.com
“… menghisap keringatnya orang-orang yang bekerja, memakan hasil pekerjaan lain orang, tidak memberikan bagian keuntungan yang mestinya (dengan seharusnya) menjadi bahagian lain orang yang turut bekerja mengeluarkan keuntungan --semua perbuatan yang serupa itu (oleh Karl Marx disebut memakan keuntungan "meerwaarde" adalah dilarang dengan sekeras-kerasnya oleh agama Islam, karena itulah perbuatan "riba" belaka. …”.
Dari pikiran yang diekspresikan Bung Karno sebagai kemarahan dan kita juga peroleh dari gurunya HOS Tjokroaminoto, sangat terang bagaimana Bung Karno punya komitmen yang begitu besar dalam menjalankan prinsip-prinsip yang ada dalam Islam, lebih khusus lagi dalam konteks ekonomi dan keuangan syariah.
Ikhtiar inilah yang kini dilanjutkan dalam kepemimpinan Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden KH Maruf Amin dalam meletakkan pondasi yang kokoh sebagai legacy atau warisan kepemimpinannya.
Kelahiran Komite Nasional Keuangan Syariah (KNKS) yang kemudian disempurnakan menjadi Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah (KNEKS), merger Bank Syariah Indonesia (BSI), memperkuat Lembaga Keuangan Mikro Syariah untuk memerangi rentenir, dan segenap ikhtiar lain untuk mewujudkan kesejahteraan bagi masyarakat Indonesia.
Baca berita lebih lengkap di e-paper koran-sindo.com
(bmm)
Lihat Juga :