Gaya Hidup Digital Zaman Pandemi
Kamis, 25 Juni 2020 - 14:38 WIB
loading...
A
A
A
Hadirnya Ig Live, webinar pertemuan online, di waktu akan datang mungkin dalam bentuk baru, itu jadi konsekuensi media sosial dengan kecanggihan fitur-fitur yang mampu mewadahi aneka ekspresi. Media ini dapat dimanfaatkan untuk memediasi aktivitas sosial apapun. Sehingga terhadap pihak yang terganggu dengan interupsi Ig Live yang sedang berlangsung, tersedia fitur untuk mematikan notifikasi live. Mestinya itu tidak jadi soal. Atau cara yang paling final, unfollow saja mereka yang sering melakukan Ig Live. Habis perkara.
Adanya keluhan nyinyir, “duh orang ini sok penting banget”, justru menunjukkan posisi ahistoris pelontarnya. Dan itu, tentu saja mengingkari hakikat media sosial itu sendiri. Coba bayangkan era dimana belum ada blog, dimana orang belum pernah ada yang memampangkan catatan hariannya, bahkan catatan yang tak istimewa. Era sebelum ada Facebook, dimana tak lazim orang mem-posting keluh kesahnya di hadapan khalayak. Atau era sebelum populernya instagram, yang tidak memberi kesempatan orang memamerkan foto makanan yang hendak disantapnya.
Keberadaan media-media digital ini, memberi panggung bagi siapapun, bahkan orang tak penting dengan kegiatan biasa-biasa saja, maupun atraksi yang tak istimewa atau informasi yang ada urusannya dengan keperluan hidup khalayak luas, untuk tampil di hadapan khalayak luas.
Maka demikian juga dengan Ig Live, maupun webinar, dimana orang tak penting beserta gagasan yang tak selalu ada gunanya, juga tidak bisa dibendung kehadirannya. Itu adalah konsekuensi media digital yang user generated content. Itu semua adalah implikasi demokratisasi media.
Justru pertanyaan besarnya, lalu apa yang baru dan salah dari Ig Live maupun webinar gratis yang dapat dilakukan oleh setiap orang, pada perangkat media digital yang dimilikinya, selama tidak melanggar etika komunikasi?
Adanya keluhan nyinyir, “duh orang ini sok penting banget”, justru menunjukkan posisi ahistoris pelontarnya. Dan itu, tentu saja mengingkari hakikat media sosial itu sendiri. Coba bayangkan era dimana belum ada blog, dimana orang belum pernah ada yang memampangkan catatan hariannya, bahkan catatan yang tak istimewa. Era sebelum ada Facebook, dimana tak lazim orang mem-posting keluh kesahnya di hadapan khalayak. Atau era sebelum populernya instagram, yang tidak memberi kesempatan orang memamerkan foto makanan yang hendak disantapnya.
Keberadaan media-media digital ini, memberi panggung bagi siapapun, bahkan orang tak penting dengan kegiatan biasa-biasa saja, maupun atraksi yang tak istimewa atau informasi yang ada urusannya dengan keperluan hidup khalayak luas, untuk tampil di hadapan khalayak luas.
Maka demikian juga dengan Ig Live, maupun webinar, dimana orang tak penting beserta gagasan yang tak selalu ada gunanya, juga tidak bisa dibendung kehadirannya. Itu adalah konsekuensi media digital yang user generated content. Itu semua adalah implikasi demokratisasi media.
Justru pertanyaan besarnya, lalu apa yang baru dan salah dari Ig Live maupun webinar gratis yang dapat dilakukan oleh setiap orang, pada perangkat media digital yang dimilikinya, selama tidak melanggar etika komunikasi?
(dam)
Lihat Juga :