Pandemi Corona, IDAI Sebut Kematian Anak Indonesia Paling Banyak di Asia
Kamis, 25 Juni 2020 - 14:14 WIB
loading...
A
A
A
Aman menjelaskan, kasus kematian di bawah usia 5 tahun itu memang terjadi di seluruh dunia. Dan jumlah anak di Indonesia jika ditotalkan dengan anak usia remaja ada 90 juta, dan jumlah keseluruhan anak yang sekolah ada 60 juta.
Sebelum pandemi Corona, angka kematian bayi dan balita di Indonesia memang tidak sebanyak di India dan Pakistan tetapi saat pandemi, justru anak Indonesia yang lebih banyak meninggal dunia, bahkan jika dibandingkan dengan Vietnam.
"Penyebab terbanyak kita adalah diare dan pneumonia. Ini penyebab kematian nomor 1 dan 2 yang setiap tahun tetap sama. Stunting dan malnutrisi juga, tapi yang kurang gizi sekitar 18-19 persen," ungkapnya.
Menurut Aman, jika kombinasi antara diare, pneumonia ditambah stunting dan malnutrisi ini terjadi maka, mereka lebih rentan terinfeksi Covid-19 karena tentu daya tahan tubuh mereka tidak baik. Dan kalau terlambat penanganannya, mereka akan meninggal.
"Kami dapat laporan dari temen-temen di seluruh cabang IDAI, kita tidak dapat kesempatan lama rawat anak-anak ini, ada yang tidak sampai 24 jam, 48 jam, tidak sampai 72 jam. Jadi ada keterlambatan untuk mereka dirujuk," sesalnya.
Sebelum pandemi Corona, angka kematian bayi dan balita di Indonesia memang tidak sebanyak di India dan Pakistan tetapi saat pandemi, justru anak Indonesia yang lebih banyak meninggal dunia, bahkan jika dibandingkan dengan Vietnam.
"Penyebab terbanyak kita adalah diare dan pneumonia. Ini penyebab kematian nomor 1 dan 2 yang setiap tahun tetap sama. Stunting dan malnutrisi juga, tapi yang kurang gizi sekitar 18-19 persen," ungkapnya.
Menurut Aman, jika kombinasi antara diare, pneumonia ditambah stunting dan malnutrisi ini terjadi maka, mereka lebih rentan terinfeksi Covid-19 karena tentu daya tahan tubuh mereka tidak baik. Dan kalau terlambat penanganannya, mereka akan meninggal.
"Kami dapat laporan dari temen-temen di seluruh cabang IDAI, kita tidak dapat kesempatan lama rawat anak-anak ini, ada yang tidak sampai 24 jam, 48 jam, tidak sampai 72 jam. Jadi ada keterlambatan untuk mereka dirujuk," sesalnya.
(maf)
Lihat Juga :