DPR Minta Pemerintah Siapkan Langkah Pemulihan Ekonomi
Rabu, 24 Juni 2020 - 12:22 WIB
loading...
A
A
A
“Lembaga internasional menggambarkan ketidakpastian ekonomi yang tinggi di sisa 2020 dan 2021 mendatang. Pemerintah perlu mengantisipasi jika situasi gejolak ekonomi global kembali terjadi, terutama jelang akhir tahun (dinamika politik AS) dan risiko gelombang kedua pandemi,” ucapnya. (Baca juga: 81% Responden Nilai Ekonomi Indonesia Memburuk Akibat Pandemi COVID-19)
Termasuk dalam memikirkan outlook ekonomi 2020 dan Proyeksi 2021 yang terfokus global tentang geopolitik AS-China yang kemungkinan susah diintervensi. “Namun faktor Second Wave Covid-19 sangat berkaitan dengan kemampuan Pemerintah Indonesia menangani wabah,” ucapnya.
Hanya saja hingga kini skenario itu, atau gelombang kedua belum terlihat. Dia menilai tim ekonomi pemerintah yang terkesan percaya diri dengan satu skenario saja. “Terkait stimulus fiskal Indonesia sebesar 4,2 persen dari PDB. Besaran stimulus penting, namun kecepatan implementasi juga jauh lebih penting karena akan menentukan tingkat efektifitas stimulus ini,” tuturnya.
Kamarussamad menilai rendahnya penyerapan anggaran memengaruhi daya beli serta berdampak pada sektor riil. Karena itu perlu keberpihakan terhadap peningkatan daya saing dalam negeri. “Sudah berapa persen penyerapan stimulus sampai saat ini? Apa upaya yang sudah dilakukan untuk mempercepat stimulus agar sampai ke masyarakat dan dunia usaha, kami nilai hasilnya belum nampak,” tegur Kamarussamad.
Dengan kondisi demikian, Kamarussamad mendesak tim ekonomi pemerintah untuk jujur agar publik bisa percaya terhadap arah kebijakan. “Semestinya pemerintah menyiapkan skenario jika pertumbuhan ekonomi tahun ini sampai minus -3,9% sehingga target pertumbuhan ekonomi 2021 lebih realistis,” tutupnya.
Termasuk dalam memikirkan outlook ekonomi 2020 dan Proyeksi 2021 yang terfokus global tentang geopolitik AS-China yang kemungkinan susah diintervensi. “Namun faktor Second Wave Covid-19 sangat berkaitan dengan kemampuan Pemerintah Indonesia menangani wabah,” ucapnya.
Hanya saja hingga kini skenario itu, atau gelombang kedua belum terlihat. Dia menilai tim ekonomi pemerintah yang terkesan percaya diri dengan satu skenario saja. “Terkait stimulus fiskal Indonesia sebesar 4,2 persen dari PDB. Besaran stimulus penting, namun kecepatan implementasi juga jauh lebih penting karena akan menentukan tingkat efektifitas stimulus ini,” tuturnya.
Kamarussamad menilai rendahnya penyerapan anggaran memengaruhi daya beli serta berdampak pada sektor riil. Karena itu perlu keberpihakan terhadap peningkatan daya saing dalam negeri. “Sudah berapa persen penyerapan stimulus sampai saat ini? Apa upaya yang sudah dilakukan untuk mempercepat stimulus agar sampai ke masyarakat dan dunia usaha, kami nilai hasilnya belum nampak,” tegur Kamarussamad.
Dengan kondisi demikian, Kamarussamad mendesak tim ekonomi pemerintah untuk jujur agar publik bisa percaya terhadap arah kebijakan. “Semestinya pemerintah menyiapkan skenario jika pertumbuhan ekonomi tahun ini sampai minus -3,9% sehingga target pertumbuhan ekonomi 2021 lebih realistis,” tutupnya.
(cip)