PAN Dapat Imbas Positif dari Lahirnya Koalisi Indonesia Bersatu
Sabtu, 04 Juni 2022 - 22:47 WIB
loading...
Ketua Umum DPP Partai Golkar Airlangga Hartarto, Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan dan Ketua Umum PPP Suharso Monoarfa membentuk Koalisi Indonesia Bersatu (KIB). Foto/MPI
A
A
A
JAKARTA - Lahirnya Koalisi Indonesia Bersatu (KIB) yang diinisiasi Zulkifli Hasan memberikan dampak positif terhadap Partai Amanat Nasional (PAN) yang dipimpinnya. Dalam paparan survei terbaru Indonesia Political Opinion (IPO), PAN alami penguatan elektabilitas sebesar 4,9%.
PAN tercatat lebih unggul dari mitra koalisinya PPP yang hanya mendapatkan tingkat keterpilihan sebesar 2,4%. Sementara itu, Partai Golkar yang sejak awal memang lebih tinggi dari PAN dan PPP masih tetap bertahan di angka 9,7%. Baca juga: Koalisi Indonesia Bersatu Terbuka untuk Parpol Nonparlemen
Posisi Partai Golkar ini tidak banyak berubah dengan hasil survei IPO pada periode Maret 2022 lalu, Golkar tersingkir dari tiga besar yang saat ini diduduki oleh PDIP dengan 24,8%, Gerindra 11,6%, dan Demokrat 10,8%.
Direktur Eksekutif IPO Dedi Kurnia Syah menerangkan jika penguatan angka keterpilihan PAN dipengaruhi lahirnya KIB yang melahirkan kemitraan politik bersama Golkar dan PPP. Meskipun Golkar menjadi anggota koalisi paling tinggi tingkat keterpilihannya, tetapi yang mendapat imbas positif adalah PAN.
“PAN sempat terperosok karena wacana penundaan Pemilu, tetapi kini kembali menguat bahkan mendekati perolehan keterpilihan PKS yang memperoleh 5,4 persen. Peningkatan ini bisa saja imbas dari inisiasi Zulkifli Hasan membangun Koalisi Indonesia bersatu, karena momentumnya berdekatan,” terang Dedi.
PAN tercatat lebih unggul dari mitra koalisinya PPP yang hanya mendapatkan tingkat keterpilihan sebesar 2,4%. Sementara itu, Partai Golkar yang sejak awal memang lebih tinggi dari PAN dan PPP masih tetap bertahan di angka 9,7%. Baca juga: Koalisi Indonesia Bersatu Terbuka untuk Parpol Nonparlemen
Posisi Partai Golkar ini tidak banyak berubah dengan hasil survei IPO pada periode Maret 2022 lalu, Golkar tersingkir dari tiga besar yang saat ini diduduki oleh PDIP dengan 24,8%, Gerindra 11,6%, dan Demokrat 10,8%.
Direktur Eksekutif IPO Dedi Kurnia Syah menerangkan jika penguatan angka keterpilihan PAN dipengaruhi lahirnya KIB yang melahirkan kemitraan politik bersama Golkar dan PPP. Meskipun Golkar menjadi anggota koalisi paling tinggi tingkat keterpilihannya, tetapi yang mendapat imbas positif adalah PAN.
“PAN sempat terperosok karena wacana penundaan Pemilu, tetapi kini kembali menguat bahkan mendekati perolehan keterpilihan PKS yang memperoleh 5,4 persen. Peningkatan ini bisa saja imbas dari inisiasi Zulkifli Hasan membangun Koalisi Indonesia bersatu, karena momentumnya berdekatan,” terang Dedi.
Lihat Juga :