Ledakan Karhutla Diprediksi Mulai Agustus, Pemerintah Intensifkan Hujan Buatan
Selasa, 23 Juni 2020 - 15:32 WIB
loading...
Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK), Siti Nurbaya mengatakan bahwa waktu-waktu ledakan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) rata-rata dimulai pada Agustus. Foto/SINDOphoto
A
A
A
JAKARTA - Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK), Siti Nurbaya mengatakan bahwa waktu-waktu ledakan kebakaran hutan dan lahan ( Karhutla ) rata-rata dimulai pada Agustus. Dimana hal ini akan berlangsung hingga September.
“Kita sudah mempelajari baik perilaku iklim maupun perilaku hotspot dan juga waktu-waktu. Ledakan Karhutla yang rata-rata di Agustus minggu kedua, ketiga sampai di September minggu pertama,” ujarnya di Komplek Istana Kepresidenan Jakarta, Selasa (23/6/2020). (Baca juga: Ketua Gugus Tugas: Karhutla Bisa Perparah Gejala COVID-19)
Dia menyebutkan untuk wilayah Sumatera seperti Riau dan Aceh memiliki dua fase krisis. Fase pertama adalah di bulan Maret hingga April. Kemudian fase kedua masuk bulan Juni, Juli dan seterusnya. Pemerintah pun mengambil langkah memodifikasi cuaca pada tanggal 13 hingga 31 Mei 2020.
“Nanti puncaknya di bulan September atau Agustus akhir. Apa yang bisa kita lakukan dengan kondisi yang seperti ini maka kita bisa melakukan rekayasa hari hujan. Jadi kita bisa dengan teknologi modifikasi cuaca atas analisis BMKG dan dilaksanakan oleh BPT. Didukung oleh pesawatnya TNI AU karena belum punya pesawat sendiri,” jelasnya.
Siti menjelaskan modifikasi cuaca di beberapa wilayah di Sumatera ini dilakukan pada tanggal 13 hingga 31 Mei lalu. Modifikasi ini dengan merekayasa awan untuk diinduksi sehingga memiliki banyak uap air. Dengan begitu bisa terjadi hujan.
“Kita sudah mempelajari baik perilaku iklim maupun perilaku hotspot dan juga waktu-waktu. Ledakan Karhutla yang rata-rata di Agustus minggu kedua, ketiga sampai di September minggu pertama,” ujarnya di Komplek Istana Kepresidenan Jakarta, Selasa (23/6/2020). (Baca juga: Ketua Gugus Tugas: Karhutla Bisa Perparah Gejala COVID-19)
Dia menyebutkan untuk wilayah Sumatera seperti Riau dan Aceh memiliki dua fase krisis. Fase pertama adalah di bulan Maret hingga April. Kemudian fase kedua masuk bulan Juni, Juli dan seterusnya. Pemerintah pun mengambil langkah memodifikasi cuaca pada tanggal 13 hingga 31 Mei 2020.
“Nanti puncaknya di bulan September atau Agustus akhir. Apa yang bisa kita lakukan dengan kondisi yang seperti ini maka kita bisa melakukan rekayasa hari hujan. Jadi kita bisa dengan teknologi modifikasi cuaca atas analisis BMKG dan dilaksanakan oleh BPT. Didukung oleh pesawatnya TNI AU karena belum punya pesawat sendiri,” jelasnya.
Siti menjelaskan modifikasi cuaca di beberapa wilayah di Sumatera ini dilakukan pada tanggal 13 hingga 31 Mei lalu. Modifikasi ini dengan merekayasa awan untuk diinduksi sehingga memiliki banyak uap air. Dengan begitu bisa terjadi hujan.
Lihat Juga :